INVERSI.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) memulai perdagangan Selasa pagi dengan penguatan tipis di tengah membaiknya sentimen pasar global. Optimisme investor didorong oleh harapan meredanya ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel yang selama beberapa pekan terakhir menjadi perhatian pasar dunia.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG naik 2,55 poin atau 0,05 persen ke level 5.344,69. Sementara itu, Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga bergerak positif dengan kenaikan 1,22 poin atau 0,23 persen ke posisi 528,30.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menilai strategi investasi berbasis dividen masih menjadi pilihan menarik di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya kondusif untuk meraih keuntungan dari kenaikan harga saham.
“Kiwoom Research sarankan mempertimbangkan dividend investing sebagai salah satu strategi defensif yang menarik, apalagi ketika momentum pasar sedang sulit menghasilkan capital gain dalam jangka pendek, investor setidaknya masih memperoleh cash return melalui dividen sambil mengakumulasi saham-saham berkualitas pada valuasi yang jauh lebih murah dibanding beberapa bulan lalu,” ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.
Dari pasar global, perhatian investor tertuju pada perkembangan hubungan Iran dan Israel. Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus mendorong proses gencatan senjata sekaligus menegaskan bahwa jalur negosiasi dengan Iran masih berlangsung.
Meski serangan militer kedua negara untuk sementara mereda, kondisi di kawasan Timur Tengah masih dianggap rentan. Iran disebut mengancam akan kembali melakukan serangan jika Israel melanjutkan operasi militernya terhadap Hezbollah di Lebanon. Sebaliknya, Israel menegaskan akan memberikan respons keras apabila kembali mendapat serangan.
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat memastikan sanksi dan blokade terhadap Iran tetap berlaku hingga tercapai kesepakatan menyeluruh terkait program nuklir dan isu strategis lainnya.
Membaiknya sentimen geopolitik turut memengaruhi pergerakan harga minyak dunia. Minyak mentah jenis WTI tercatat turun 0,46 persen ke level 90,88 dolar AS per barel, sementara Brent melemah 0,35 persen ke posisi 93,92 dolar AS per barel.
Sepanjang pekan ini, fokus pelaku pasar juga tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat. Data Consumer Price Index (CPI) Mei 2026 dijadwalkan diumumkan pada Rabu (10/6), sedangkan Producer Price Index (PPI) akan dirilis sehari setelahnya.
Setelah laporan NonFarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat pada Mei 2026 menunjukkan hasil yang melampaui ekspektasi pasar, peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat semakin mengecil. Investor kini lebih mencermati potensi tekanan inflasi yang dipicu kenaikan harga energi.
Sejalan dengan perkembangan tersebut, Goldman Sachs menunda proyeksi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve hingga tahun 2027. Lembaga keuangan tersebut juga memperkirakan inflasi Core PCE akan tetap berada di atas 3 persen sepanjang 2026, didorong oleh kombinasi tarif perdagangan, harga energi yang tinggi, serta meningkatnya permintaan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Goldman Sachs bahkan meningkatkan peluang kenaikan suku bunga menjadi 20 persen dari sebelumnya 10 persen.
Dari kawasan Eropa, investor juga masih mencermati dampak konflik Timur Tengah terhadap harga energi. Kenaikan harga energi dikhawatirkan dapat mendorong European Central Bank (ECB) mengambil kebijakan moneter yang lebih agresif dalam waktu dekat.
Saat ini pasar mulai memperhitungkan kemungkinan ECB menaikkan suku bunga hingga tiga kali sebelum akhir tahun.
Sementara dari dalam negeri, cadangan devisa Indonesia tercatat turun menjadi 144,9 miliar dolar AS pada akhir Mei 2026 dari posisi 146,2 miliar dolar AS pada April 2026. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah intervensi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak pasar global.
Kondisi ini memperpanjang tren penurunan cadangan devisa yang telah berlangsung selama lima bulan berturut-turut sejak mencapai level tertinggi 156 miliar dolar AS pada Desember 2025. Secara kumulatif, cadangan devisa berkurang sekitar 11,1 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp208 triliun.
Meski demikian, posisi cadangan devisa Indonesia masih tergolong kuat karena setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut masih jauh di atas standar kecukupan internasional yang berada pada level tiga bulan impor.
Perhatian investor domestik juga tertuju pada perkembangan Danantara. Wakil Menteri BUMN Dony Oskaria menegaskan bahwa PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) tidak akan mengambil keuntungan dari aktivitas ekspor komoditas strategis, melainkan hanya mengenakan biaya layanan untuk fungsi pengawasan dan verifikasi.
Namun demikian, pasar mulai mencermati implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2026 yang membuka peluang penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk penyertaan modal kepada holding investasi Danantara.
Liza menilai sejumlah ekonom masih mempertanyakan potensi risiko fiskal yang dapat muncul dari kebijakan tersebut, termasuk terkait transparansi dan akuntabilitas penggunaan dana negara.
“Dengan status baru sebagai instrumen fiskal pemerintah dan kemungkinan memperoleh PMN dari APBN, investor diperkirakan akan semakin mencermati apakah Danantara mampu menjadi katalis investasi nasional atau justru berkembang menjadi tambahan beban bagi fiskal negara,” ujar Liza.
Pada perdagangan sebelumnya, bursa saham Eropa bergerak bervariasi. Indeks Euro Stoxx 50 menguat 0,04 persen dan FTSE 100 Inggris naik 0,05 persen. Sebaliknya, DAX Jerman turun 0,58 persen dan CAC 40 Prancis terkoreksi 0,23 persen.
Sementara itu, Wall Street ditutup mayoritas menguat. Indeks Dow Jones melemah 0,16 persen, sedangkan S&P 500 naik 0,30 persen dan Nasdaq Composite melesat 1,58 persen.
Di kawasan Asia pada perdagangan pagi ini, mayoritas indeks juga bergerak di zona hijau. Indeks Nikkei menguat 0,78 persen, Shanghai Composite naik 0,30 persen, Strait Times bertambah 0,77 persen, sementara Hang Seng terkoreksi 0,31 persen.