By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
Reading: IDAI: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini, Anak Jadi Kelompok Paling Rentan
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » IDAI: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini, Anak Jadi Kelompok Paling Rentan

Kesehatan

IDAI: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini, Anak Jadi Kelompok Paling Rentan

Jack
By
Jack
2 hours ago
Share
3 Min Read
Ilustrasi - Sejumlah warga mengenakan masker. (Foto: Antara)
SHARE

INVERSI.ID – Polusi udara masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di dunia. Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa pencemaran udara tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga menjadi penyebab jutaan kematian dini setiap tahunnya, termasuk pada kelompok anak-anak yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi.

Anggota Satuan Tugas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim (KLPI) IDAI, Dr. dr. Riyadi, Sp.A. Subsp.Inf.P.T(K), M.Kes, menyampaikan bahwa sekitar tujuh juta orang di seluruh dunia meninggal lebih cepat akibat paparan polusi udara. Menurutnya, anak-anak termasuk kelompok yang paling berisiko mengalami dampak kesehatan dari buruknya kualitas udara.

“Kalau kita lihat, tujuh juta manusia meninggal lebih cepat dari seharusnya karena ada polusi udara. Anak termasuk yang sangat rentan,” kata Riyadi dalam dalam seminar media IDAI untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup, Selasa.

Riyadi menjelaskan bahwa polusi udara berasal dari berbagai aktivitas manusia maupun faktor lingkungan. Sumber pencemaran tersebut antara lain emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, kebakaran hutan, hingga pembakaran bahan bakar dan sampah yang menghasilkan partikel berbahaya bagi kesehatan.

Ia menuturkan bahwa anak-anak memiliki risiko lebih besar dibandingkan orang dewasa karena kondisi organ pernapasan yang masih berkembang. Selain itu, sistem kekebalan tubuh anak juga belum terbentuk secara sempurna sehingga lebih mudah terpengaruh oleh berbagai zat pencemar yang ada di udara.

“Anak menjadi rentan pada polutan karena saluran udaranya lebih sempit dan sistem imunnya masih dalam proses perkembangan,” ujarnya.

Paparan polusi udara, lanjut Riyadi, dapat memicu beragam masalah kesehatan pada anak. Mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, alergi, hingga berbagai penyakit kronis lainnya. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut juga dapat menurunkan kemampuan sistem imun sehingga anak lebih rentan terserang penyakit.

Tak hanya berdampak pada anak-anak, kualitas udara yang buruk juga berpotensi mengganggu kesehatan ibu hamil serta perkembangan janin. Paparan partikel halus dan berbagai zat berbahaya, termasuk logam berat, diketahui dapat meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan sejak masa kehamilan.

Riyadi juga menyoroti keterkaitan erat antara polusi udara dan perubahan iklim. Aktivitas yang menghasilkan emisi gas rumah kaca tidak hanya mempercepat pemanasan global, tetapi juga berkontribusi terhadap memburuknya kualitas udara yang dihirup masyarakat setiap hari.

Baca Juga :

Link Nonton Drama Korea My Sweet Mobster Sub Indo Episode 3-4
Profil dan Biodata Fattah Syach, Pemeran Jordan Private Bodyguard

Karena itu, upaya pengendalian polusi udara dinilai perlu dilakukan secara menyeluruh. Beberapa langkah yang dapat diterapkan antara lain mengurangi penggunaan kendaraan yang menghasilkan emisi tinggi, memperbanyak transportasi ramah lingkungan, menghindari pembakaran sampah, serta memperluas ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan.

“Bumi yang sehat artinya kita juga sehat. Dampak lingkungan yang tidak baik akan dirasakan oleh seluruh kelompok usia, termasuk anak-anak yang menjadi kelompok paling rentan,” katanya.

Peringatan Hari Lingkungan Hidup menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya polusi udara. Dengan kolaborasi antara pemerintah, sektor industri, dan masyarakat, kualitas lingkungan yang lebih baik diharapkan dapat tercipta demi melindungi kesehatan generasi mendatang.

You Might Also Like

Rupiah Melemah, Harga Obat Bakal Melambung: Ketahanan Kesehatan RI Diuji
Dokter Ingatkan Bahaya Flu Singapura, Vaksinasi Jadi Perlindungan Penting
Waspada! Diare Tak Kunjung Sembuh Bisa Jadi Gejala Radang Usus Kronis
Ahli Sebut COVID-19 Masih Ada, Tapi Dampaknya Tak Separah Masa Pandemi
Warga Mulai Khawatir Hantavirus, DPRD DKI Desak Pemerintah Perkuat Edukasi
TAGGED:IDAIPolusi Udara
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Presiden AS Donald Trump marah pada CNN dan New York Times yang bikin berita tak sesuai harapan soal situs nuklir Iran. (Foto : Reuters) Trump Klaim AS Akan Raih Kemenangan Total atas Iran dalam Dua Pekan
Next Article Jelang Piala ASEAN 2026, Pelatih Vietnam Datang Langsung Saksikan Indonesia vs Mozambik
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Bertemu Prabowo di Istana, Chatib Basri Buka Suara soal Rumor Menteri Keuangan

Sentimen Global Positif Dorong IHSG Hijau, Investor Cermati Inflasi AS

Marinir TNI AL Matangkan Akurasi Tembakan untuk Tampil Maksimal di RIMPAC 2026

Bapanas Pastikan Stok dan Harga Pangan Tetap Aman di Tengah Tekanan Nilai Tukar Rupiah

Tak Ada Ubah Aturan! Menteri Bahlil Kunci Regulasi Minerba

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Kesehatan

Kemenhut: Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim

4 weeks ago
KesehatanTerkini

“Aku Enggak Kuat…”: WA Terakhir dr Myta Bongkar Dugaan Pembiaran Jam Kerja Ekstrem Dokter Magang

1 month ago
KesehatanTerkini

Mei Mulai Membara. BMKG Warning Gelombang Panas Hantam RI, Puncaknya Agustus–September

1 month ago
KesehatanTerkini

Kasus Tewas Dokter Internship Viral, Minim Sistem Anti-Bullying Jadi Sorotan Serius di Dunia Kerja

1 month ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index