INVERSI.ID – Polusi udara masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di dunia. Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa pencemaran udara tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga menjadi penyebab jutaan kematian dini setiap tahunnya, termasuk pada kelompok anak-anak yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi.
Anggota Satuan Tugas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim (KLPI) IDAI, Dr. dr. Riyadi, Sp.A. Subsp.Inf.P.T(K), M.Kes, menyampaikan bahwa sekitar tujuh juta orang di seluruh dunia meninggal lebih cepat akibat paparan polusi udara. Menurutnya, anak-anak termasuk kelompok yang paling berisiko mengalami dampak kesehatan dari buruknya kualitas udara.
“Kalau kita lihat, tujuh juta manusia meninggal lebih cepat dari seharusnya karena ada polusi udara. Anak termasuk yang sangat rentan,” kata Riyadi dalam dalam seminar media IDAI untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup, Selasa.
Riyadi menjelaskan bahwa polusi udara berasal dari berbagai aktivitas manusia maupun faktor lingkungan. Sumber pencemaran tersebut antara lain emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, kebakaran hutan, hingga pembakaran bahan bakar dan sampah yang menghasilkan partikel berbahaya bagi kesehatan.
Ia menuturkan bahwa anak-anak memiliki risiko lebih besar dibandingkan orang dewasa karena kondisi organ pernapasan yang masih berkembang. Selain itu, sistem kekebalan tubuh anak juga belum terbentuk secara sempurna sehingga lebih mudah terpengaruh oleh berbagai zat pencemar yang ada di udara.
“Anak menjadi rentan pada polutan karena saluran udaranya lebih sempit dan sistem imunnya masih dalam proses perkembangan,” ujarnya.
Paparan polusi udara, lanjut Riyadi, dapat memicu beragam masalah kesehatan pada anak. Mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, alergi, hingga berbagai penyakit kronis lainnya. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut juga dapat menurunkan kemampuan sistem imun sehingga anak lebih rentan terserang penyakit.
Tak hanya berdampak pada anak-anak, kualitas udara yang buruk juga berpotensi mengganggu kesehatan ibu hamil serta perkembangan janin. Paparan partikel halus dan berbagai zat berbahaya, termasuk logam berat, diketahui dapat meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan sejak masa kehamilan.
Riyadi juga menyoroti keterkaitan erat antara polusi udara dan perubahan iklim. Aktivitas yang menghasilkan emisi gas rumah kaca tidak hanya mempercepat pemanasan global, tetapi juga berkontribusi terhadap memburuknya kualitas udara yang dihirup masyarakat setiap hari.
Karena itu, upaya pengendalian polusi udara dinilai perlu dilakukan secara menyeluruh. Beberapa langkah yang dapat diterapkan antara lain mengurangi penggunaan kendaraan yang menghasilkan emisi tinggi, memperbanyak transportasi ramah lingkungan, menghindari pembakaran sampah, serta memperluas ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan.
“Bumi yang sehat artinya kita juga sehat. Dampak lingkungan yang tidak baik akan dirasakan oleh seluruh kelompok usia, termasuk anak-anak yang menjadi kelompok paling rentan,” katanya.
Peringatan Hari Lingkungan Hidup menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya polusi udara. Dengan kolaborasi antara pemerintah, sektor industri, dan masyarakat, kualitas lingkungan yang lebih baik diharapkan dapat tercipta demi melindungi kesehatan generasi mendatang.