INVERSI.ID – Puluhan anak muda yang tergabung dalam Urban Citizenship Academy (UCA) menggelar pameran bertajuk “Akankah Pesisir Utara Jawa Tenggelam?” di Rumah Pohan, lantai 2 Tekodeko Koffiehuis, Kota Lama Semarang, Kamis (20/3).
Pameran ini menampilkan berbagai karya seni dan jurnalistik—mulai dari foto, kolase, lukisan, bunga rampai, komik, hingga audio visual—yang mengangkat kisah nyata warga pesisir di Timbulsloko, Tambak Lorok, dan Mangunharjo.
Menurut Rizqa Hidayani, Program Manager dari Kota Kita, pameran ini merupakan hasil kerja selama lima bulan oleh anggota UCA yang terjun langsung ke lapangan untuk menggali cerita dan mengemasnya dalam karya kreatif.
“Ini upaya anak-anak muda untuk menyuarakan kerentanan kehidupan di pesisir. Harapannya, masyarakat punya awareness lebih luas tentang isu ini,” ujar Rizqa.
Isu yang diangkat beragam, mulai dari kehidupan nelayan, kondisi anak dan lansia, pemberdayaan perempuan, hingga kesejahteraan petambak. Untuk mendukung pemahaman isu krisis iklim, kegiatan ini melibatkan WALHI Jawa Tengah, Koalisi Malih Dadi Segoro, Hysteria, Project Multatuli, serta warga pesisir sebagai mentor lapangan.
Salah satu partisipan, Sierra Salsabiella, mahasiswa Undip, menceritakan pengalamannya saat menggali kisah warga Timbulsloko, Demak, yang nyaris setiap hari terdampak rob.
“Nelayan perempuan dirugikan, anak-anak belajar dalam kondisi tidak nyaman, hidup pun tidak layak. Tapi mereka tetap bertahan karena tidak punya pilihan,” kata Sierra.
Dalam karyanya, Sierra memunculkan pertanyaan reflektif: “Bertahan atau pindah?” sebuah dilema yang dihadapi warga yang hidup di tengah ancaman tenggelam namun tak punya ruang alternatif untuk pindah.
Pameran ini tidak hanya menjadi ruang artistik, tetapi juga media advokasi dan kesadaran kolektif, membangun jembatan antara suara masyarakat pesisir dan publik yang lebih luas.***