Halo, Brother and Sister, ada kabar yang sedikit bikin nelangsa nih dari kancah olahraga di Jawa Timur! Kali ini, datangnya dari daerah Kota Batu.
Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Batu akhirnya buka suara terkait anjloknya prestasi Cabang Olahraga (Cabor) Paralayang Kota Batu di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) IX Jatim 2025. Duh, kenapa ya? Padahal, mereka digadang-gadang jadi jagoan!
Kontingen Paralayang Kota Batu harus menelan pil pahit di Porprov IX Jatim 2025 ini. Mereka gagal total mempertahankan gelar juara umum yang berhasil diraih pada Porprov VIII tahun 2023.
Padahal, di Porprov sebelumnya, Kota Batu berhasil ngantongin 3 medali emas, 1 medali perak, dan 1 medali perunggu di cabor Paralayang. Sebuah dominasi yang patut diacungi jempol!
Tapi, di gelaran Porprov IX Jatim 2025 yang baru saja usai ini, performa Paralayang Kota Batu justru nyungsep. Mereka hanya mampu mengemas satu perak dan satu perunggu.
Jauh banget kan, Brother and Sister, dari ekspektasi awal dan pencapaian sebelumnya? Ini tentu jadi pertanyaan besar bagi banyak pihak, mengingat Kota Batu adalah rumah bagi olahraga Paralayang dengan venue yang mumpuni.
Pemusatan Latihan Intensif, Seleksi Ketat, Tapi Hasilnya Kok Gini?
Sentot Ari Wahyudi, Ketua KONI Kota Batu, memberikan penjelasan terkait persiapan para atletnya selama ini, mulai dari bulan Februari 2024.
Menurut Sentot, para atlet paralayang ini sebenarnya sudah digembleng habis-habisan dalam pemusatan latihan (puslat) yang dimulai sejak bulan Februari 2024 sampai pertengahan Juli 2025. Itu artinya, mereka latihan intensif selama hampir satu setengah tahun! Nggak main-main kan dedikasinya?
Nggak cuma itu, Brother and Sister. Para atlet yang diberangkatkan ke Porprov ini juga sudah melalui seleksi ketat sebelum diputuskan ikut bertanding. Artinya, yang berangkat adalah mereka yang dianggap paling siap dan terbaik di Cabor Paralayang Kota Batu.
“Saya melihat memang ada sedikit perubahan-perubahan dari atlet tersebut. Namun, kami paham bahwa itu hak pelatih untuk menata siapa-siapa yang bisa masuk pada tataran mengikuti Porprov, tentu mereka sudah mengadakan seleksi-seleksi,” kata Sentot pada Kamis, 17 Juli 2025.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa KONI menghormati keputusan pelatih dalam memilih atlet, karena pelatih adalah yang paling tahu kondisi dan potensi anak didiknya.
Sentot juga menegaskan, bahwa atlet yang dipilih oleh pelatih adalah emang yang terbaik. Logikanya, pelatih pasti milih yang punya track record bagus dan paling siap bersaing. Apalagi, pelatih Paralayang Kota Batu ini bukan pelatih sembarangan.
Beliau adalah pelatih yang sudah pernah turun di Porprov 2023 di Madiun dan berhasil membawa pulang medali emas! Pengalaman dan kualitas pelatih ini seharusnya jadi modal kuat, kan?
Oleh karena itu, Sentot tetap mengapresiasi meskipun timnya gagal mempertahankan juara umum Cabor Paralayang di Porprov IX Jatim. Rasa kecewa pasti ada, tapi apresiasi tetap diberikan atas usaha dan perjuangan para atlet.
Misteri di Kandang Sendiri: Ada Apa Dengan Paralayang Kota Batu?
Salah satu yang bikin Sentot dan mungkin kita semua garuk-garuk kepala adalah: kenapa bisa jeblok di kandang sendiri? Kota Batu itu kan dikenal sebagai venue Paralayang terbaik di Jawa Timur, bahkan di Indonesia! Udah nggak asing lagi sama kondisi angin, medan, dan segala macamnya.
“Selama Porprov, Paralayang selalu mendapatkan emas. Baru kali ini tidak mendapatkan emas. Enggak tahu apa yang salah. Venue tetap, malah lebih bagus.”
“Pelatihnya juga pernah pengalaman di Porprov tahun 2023,” urai Sentot dengan nada heran. Pernyataan ini menunjukkan betapa misteriusnya penurunan prestasi ini. Faktor venue yang lebih bagus seharusnya jadi keuntungan, bukan malah jadi alasan jeblok.
Lebih lanjut, Sentot menjelaskan bahwa KONI tidak punya hak untuk nimbrung terlalu dalam terhadap organisasi atau “rumah tangga” dari Cabor. Itu karena Cabor Paralayang sendiri sudah menyodorkan kepada KONI detail soal jam terbang sekaligus track record atlet yang akan berlaga di Porprov.
Yang atinya, data dan bukti kesiapan atlet itu sudah ada di tangan KONI, dan semuanya terlihat menjanjikan. “Mereka (atlet) juga menjalani seleksi hingga try out di mana-mana.”
“Sebelum adanya Porprov, mereka sudah sering mengikuti kegiatan-kegiatan dengan kapasitas yang lebih berat,” imbuh Sentot. Ini makin memperdalam misteri penurunan prestasi.
Jika atlet sudah ngantongin jam terbang tinggi dan punya pengalaman di kompetisi berat, seharusnya mereka lebih matang dan siap menghadapi tekanan Porprov.
Evaluasi Menyeluruh dan Tatap Masa Depan: Demi Atlet dan Cabor!
Melihat kondisi ini, Sentot menyatakan bahwa pihak KONI Kota Batu nggak akan tinggal diam. Pihaknya akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk mencari tahu akar masalahnya.
“Kami dari KONI tidak akan menyalahkan kepada siapa-siapa, tapi namanya olahraga tentunya ada yang perlu kita garap secara jeli di dalamnya,” tegas Sentot. Ini adalah mindset yang positif, Brother and Sister. Daripada saling menyalahkan, lebih baik fokus mencari solusi dan belajar dari kesalahan.
Evaluasi ini penting banget buat mengetahui faktor apa saja yang mungkin berkontribusi terhadap penurunan prestasi ini. Apakah ada masalah teknis, psikologis atlet, strategi yang kurang tepat, atau faktor lain yang belum terdeteksi. Evaluasi ini harus dilakukan secara objektif dan mendalam.
“Masa depan Atlet masih cukup panjang, mereka akan mendulang prestasi ke depan,” pungkasnya dengan nada optimis. Ini adalah pesan semangat dari KONI kepada para atlet muda.
Kekalahan bukan akhir segalanya, tapi justru bisa jadi pelajaran berharga untuk bangkit dan berprestasi di kemudian hari. Dengan pembinaan yang tepat dan semangat pantang menyerah, mereka pasti bisa kembali ke top form dan bahkan lebih baik lagi.
Semoga dari evaluasi ini, KONI Kota Batu dan Cabor Paralayang bisa menemukan solusi terbaik, memperbaiki apa yang kurang, dan kembali ngegas di kompetisi-kompetisi selanjutnya.
Kita doakan semoga Paralayang Kota Batu bisa kembali berjaya dan mengharumkan nama daerah di kancah nasional! Semangat terus, para atlet dan KONI Kota Batu!