INVERSI.ID – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bersiap menggelar Industrial Festival 2025, sebuah ajang yang dirancang untuk membantu generasi muda mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja, khususnya di sektor industri. Gelaran ini diharapkan menjadi sarana penghubung antara pendidikan, industri, dan peluang kerja yang sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.
Sekretaris Jenderal Kemenperin, Eko S.A. Cahyanto, menegaskan bahwa fokus utama festival ini adalah anak muda Indonesia yang akan menjadi motor penggerak industri di masa depan.
“Industrial Festival juga berperan sebagai sarana pembekalan bagi generasi muda untuk menyiapkan diri menghadapi dunia kerja, khususnya di sektor industri, sekaligus mendukung visi besar Indonesia Emas 2045,” ujar Eko dalam Media Briefing Industrial Festival 2025 di Kantor Kemenperin, Jakarta, Senin (28/7).
Kolaborasi dengan Gelar Batik Nusantara dan Halalindo 2025
Tahun ini, Industrial Festival 2025 dikemas lebih meriah dengan kolaborasi bersama dua gelaran nasional lainnya, yaitu Gelar Batik Nusantara (GBN) dan Halalindo 2025.
1. Gelar Batik Nusantara (GBN)
- Tanggal: 30 Juli – 3 Agustus 2025
- Lokasi: Pasaraya Blok M, Jakarta
- Mengusung tema pelestarian budaya dan potensi ekonomi batik.
2. Halalindo 2025
- Tanggal: 25 – 28 September 2025
- Lokasi: ICE BSD, Tangerang
- Fokus pada produk halal dan peluang industri halal global.
Eko menjelaskan, Industrial Festival juga menyediakan beragam acara untuk anak muda, mulai dari kuliah umum, seminar industri, hingga workshop interaktif. Salah satu acara unggulan adalah kuliah umum bersama Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, yang diharapkan memberi inspirasi dan wawasan tentang tren industri masa depan.
“Industrial Festival turut berfungsi sebagai sarana untuk memperkuat citra Kemenperin sebagai bagian penting dari ekosistem industri dalam negeri,” jelas Eko.
Tantangan Lulusan Muda dan Kesenjangan Dunia Kerja
Penyelenggaraan Industrial Festival 2025 tidak lepas dari tantangan ketenagakerjaan Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, tercatat 7,28 juta pengangguran di Indonesia. Dari jumlah itu, 1,01 juta merupakan lulusan sarjana.
Fenomena ini menunjukkan ketidaksesuaian antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Banyak lulusan perguruan tinggi yang belum memiliki kemampuan dasar teknologi dan bahasa asing, bahkan ada yang tidak mahir menggunakan Microsoft Word dan Excel.
Pengamat ketenagakerjaan Timboel Siregar menilai situasi ini harus menjadi peringatan serius.
“Kita masih banyak menemukan sarjana yang kemampuan dasar komputer saja tidak bisa. Belum lagi soal kemampuan bahasa asing atau penguasaan teknologi yang dibutuhkan industri,” ungkap Timboel.
Ia menyarankan perbaikan dua jalur untuk mengatasi masalah pengangguran terdidik ini:
- Jangka Panjang: Pemerintah perlu mengevaluasi program vokasi di perguruan tinggi, memastikan kurikulum selaras dengan kebutuhan industri.
- Jangka Pendek: Program Kartu Prakerja perlu diperkuat dengan kolaborasi bersama perguruan tinggi dan Komite Vokasi agar pelatihan benar-benar menjawab kebutuhan industri.
“Kartu Prakerja harus berkolaborasi dengan perguruan tinggi setelah ada masukan dari Komite Vokasi tentang pelatihan yang dibutuhkan sehingga bisa menjawab kebutuhan industri,” tambahnya.
Industrial Festival 2025, Jembatan Anak Muda dan Dunia Industri
Melihat tantangan pengangguran dan kesenjangan keterampilan, Industrial Festival 2025 hadir bukan hanya sebagai acara seremonial, tetapi sebagai platform nyata bagi anak muda untuk membangun kompetensi dan jejaring.
Industrial Festival 2024 sebelumnya berhasil menghadirkan 56 narasumber profesional dan diikuti oleh 16.629 peserta. Tahun ini, Kemenperin optimistis jumlah peserta meningkat, mengingat festival ini akan mempertemukan dunia usaha, pakar industri, dan generasi muda secara langsung.
Kegiatan seperti ini tidak hanya memperluas wawasan anak muda, tetapi juga memberi mereka insight praktis tentang kebutuhan industri modern, mulai dari teknologi manufaktur, digitalisasi industri, ekonomi kreatif, hingga peluang industri halal.
Dengan format baru yang lebih interaktif dan kolaboratif, Industrial Festival 2025 diharapkan menjadi jembatan generasi muda dengan dunia kerja, mempersiapkan mereka agar tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta peluang kerja di sektor industri nasional.
Lebih dari sekadar festival, acara ini juga menghadirkan simulasi rekrutmen, workshop keterampilan digital, mentoring karier, dan pameran inovasi industri yang memungkinkan peserta untuk memahami proses kerja industri secara nyata. Generasi muda dapat bertemu langsung dengan HR perusahaan, mengikuti kelas singkat yang relevan dengan kebutuhan industri 4.0, hingga belajar strategi personal branding agar lebih kompetitif di pasar kerja.
Dengan mengikuti rangkaian acara ini secara aktif, peserta diharapkan mampu membawa pulang pengetahuan, relasi profesional, dan motivasi baru untuk mengembangkan potensi diri. Industrial Festival 2025 menjadi momentum penting agar anak muda Indonesia siap menjadi tulang punggung ekonomi dan industri nasional menuju Indonesia Emas 2045.***