Di balik sorak-sorai stadion dan gemerlap dunia sepak bola, ada sisi gelap yang jarang dibicarakan: tekanan mental akibat hujatan publik. Salah satu kasus terbaru yang mengguncang dunia sepak bola Indonesia adalah pengalaman pahit Yakob Sayuri, winger Malut United dan Timnas Indonesia, yang menjadi korban ujaran kebencian dan komentar rasis dari netizen. Tragedi ini bukan hanya soal reputasi, tapi tentang luka psikologis yang bisa menghancurkan semangat seorang atlet.
Yakob Sayuri adalah pemain sayap kanan yang dikenal dengan kecepatan dan determinasi tinggi. Ia membela Malut United di Liga 1 dan juga menjadi bagian dari skuad Timnas Indonesia dalam Kualifikasi Piala Dunia 2026. Bersama saudara kembarnya, Yance Sayuri, mereka menjadi simbol talenta Papua yang bersinar di kancah nasional.
Namun, setelah pertandingan melawan Persib Bandung pada 2 Mei 2025, Yakob menjadi sasaran hujatan netizen. Malut United menang 1-0 lewat gol Wahyu Prasetyo, tetapi kemenangan itu justru memicu gelombang komentar rasis dan kebencian di media sosial.
Baca Juga : https://inversi.id/erick-thohir-tekankan-peran-media-untuk-ciptakan-iklim-positif-di-sepakbola-nasional/
Setelah pertandingan, akun Instagram Yakob dan Yance dibanjiri komentar bernada rasis dan merendahkan. Beberapa netizen bahkan mengirim pesan langsung yang mengandung ujaran kebencian. Pelatih Malut United, Hendri Susilo, mengungkap bahwa Yakob mengalami tekanan psikologis berat dan meminta libur tambahan untuk menenangkan diri.
“Yakob koyak secara mental. Dia minta waktu untuk menjauh dari media sosial dan latihan,” ujar Hendri.
Hujatan di media sosial bukan sekadar kata-kata. Bagi atlet, komentar negatif bisa berdampak pada:
- Penurunan performa di lapangan
- Gangguan kecemasan dan depresi
- Kehilangan motivasi dan rasa percaya diri
- Isolasi sosial dan trauma jangka panjang
Menurut psikolog olahraga, tekanan dari publik bisa lebih menyakitkan daripada cedera fisik. Karena luka mental tidak terlihat, sering kali diabaikan.
Mengapa Netizen Bisa Begitu Kejam?
Ada beberapa faktor yang membuat netizen mudah melontarkan hujatan:
- Anonimitas media sosial
- Kurangnya literasi empati dan etika digital
- Budaya “viral” yang mengabaikan dampak emosional
- Ekspektasi berlebihan terhadap atlet
Ironisnya, banyak pelaku hujatan tidak menyadari bahwa komentar mereka bisa membunuh semangat seseorang.
Empati Digital dan Ruang Aman
Gen Z sebagai generasi digital punya peran penting dalam membentuk ruang aman di media sosial. Mereka bisa:
- Menjadi pelindung, bukan pelaku
- Membuat konten edukatif tentang mental health atlet
- Melaporkan akun penyebar kebencian
- Menyuarakan dukungan lewat komentar positif
Pesepakbola Juga Manusia
Kisah Yakob Sayuri adalah pengingat bahwa di balik jersey dan sorotan kamera, pesepakbola adalah manusia biasa. Mereka punya perasaan, keluarga, dan mimpi. Hujatan bukan kritik, tapi kekerasan. Dan kekerasan, apapun bentuknya, harus dilawan.
Mari kita ubah lini masa menjadi ruang apresiasi, bukan arena penghancuran mental. Karena kemenangan sejati bukan hanya soal skor, tapi soal bagaimana kita memperlakukan sesama.