INVERSI.ID – Capaian film “Pangku” di ajang Busan International Film Festival (BIFF) 2025 menandai langkah baru bagi sinema Indonesia untuk makin dikenal di panggung internasional, khususnya Korea Selatan yang memiliki industri film sangat kompetitif. Film garapan sutradara Reza Rahadian itu berhasil memperoleh sejumlah penghargaan bergengsi dan mendapat apresiasi positif dari berbagai pihak. Momentum ini dinilai dapat menjadi pintu masuk penting bagi film Indonesia untuk mengeksplorasi pasar distribusi dan audiens yang lebih luas di Korea Selatan.
Dalam gelaran BIFF 2025, “Pangku” meraih KB Vision Audience Award, FIPRESCI Award, Bishkek International Film Festival–Central Asia Cinema Award, serta Face of the Future Award. Pencapaian berlapis ini menempatkan “Pangku” sebagai salah satu karya yang diperhitungkan di antara film-film Asia tahun ini. Dalam konteks persaingan festival film internasional yang sangat ketat, keberhasilan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa karya sinema Indonesia mampu menarik perhatian berbagai komunitas perfilman global.
Program Director for International Film Busan Cinema Center, Chun Hye-Jin, mengatakan bahwa capaian tersebut bisa menjadi keuntungan awal untuk memperkenalkan film Indonesia ke masyarakat Korea Selatan. Dalam lokakarya daring yang diikuti dari Jakarta pada Selasa (2/12).
“Sebelumnya, mohon maaf, saya belum sempat menonton film ‘Pangku’ itu. Namun, kalau memang sudah masuk BFF, itu bisa menjadi titik awal atau perkenalan untuk bisa masuk ke dalam pasar Korea,” ucapnya.
Pernyataan tersebut mempertegas bahwa kehadiran film Indonesia di BIFF bukan hanya sekadar partisipasi, melainkan juga peluang untuk berjejaring, memperluas penetrasi distribusi, serta memahami preferensi pasar Korea yang terkenal selektif terhadap film asing. Menurut Chun, festival film seperti BIFF memang sengaja dirancang sebagai ruang kurasi yang memberi nilai lebih bagi film-film yang dianggap memiliki kekuatan sinematik.
“Jadi, film-film yang ditayangkan itu adalah film-film yang sinematik, yang mana memang tidak tayang di platform OTT. Jadi, apabila ada film-film yang ingin diperkenalkan kepada masyarakat Korea, itu bisa lewat berbagai cara,” katanya.
Peran Busan Cinema Center dan Ekosistem Sinema Korea
Chun Hye-Jin menjelaskan bahwa Busan Cinema Center berfungsi sebagai pusat fasilitas pemutaran film yang telah tayang di BIFF. Lembaga ini menjadi jembatan antara para pembuat film, festival, dan penonton lokal. Pemutaran film-film pilihan dari BIFF menjadi strategi untuk memperpanjang ekosistem penayangan sehingga karya-karya tersebut tidak hanya hilang setelah festival selesai, tetapi dapat tersampaikan kepada masyarakat Korea secara lebih luas.
Sejak peluncurannya pada tahun 1996, BIFF telah menjadi wajah baru bagi keberagaman sinema Asia dan titik balik pertumbuhan industri film Korea Selatan. Di tahun pertamanya, festival tersebut berhasil menarik hingga 180.000 pengunjung, angka yang mengesankan untuk sebuah festival film yang waktu itu masih baru. Pencapaian tersebut mengubah Busan menjadi kota sinema yang terus menginspirasi generasi baru pembuat film.
Sebagai salah satu festival film terbesar di Asia, BIFF dikenal karena pendekatannya yang menonjolkan keberanian artistik serta keberagaman narasi. Banyak sutradara muda yang menjadikan BIFF sebagai panggung debut untuk memperkenalkan karya pertama mereka. Dalam konteks ini, kehadiran film seperti “Pangku” membuka ruang kolaborasi baru antara pembuat film Indonesia dan komunitas kreatif Korea.
Relevansi Penghargaan dan Sistem Kreatif Berbasis Sutradara
Chun juga menyoroti salah satu elemen yang membuat industri film Korea begitu kuat: penerapan sistem produksi berbasis sutradara (director-driven). Sistem ini memungkinkan para sutradara memiliki ruang kreatif yang besar dalam proses pembuatan film, mulai dari konsep cerita hingga visual final. Pendekatan ini menghasilkan karya-karya yang autentik, personal, dan memiliki gaya sinematik yang mudah dikenali.
Dalam penjelasannya, Chun menyebut beberapa nama besar sebagai contoh keberhasilan sistem tersebut. Ia menuturkan bahwa penghargaan dan kesuksesan komersial yang diraih sutradara seperti Bong Joon-ho, Park Chan-wook, dan Lee Chang-dong menunjukkan kualitas film Korea yang diterima baik di dalam maupun luar negeri. Para sutradara tersebut menghasilkan karya yang tidak hanya sukses secara artistik tetapi juga mampu menembus pasar global dan menciptakan identitas sinema Korea yang sangat kuat.
“Era ini mencapai puncaknya dengan kemenangan Palme d’Or dan empat Oscar untuk ‘Parasite’, yang meneguhkan identitas Korea Selatan sebagai kekuatan budaya global,” katanya menambahkan.
Pencapaian global seperti “Parasite” menjadi benchmark yang menunjukkan bahwa film Asia tidak lagi berada di pinggiran pasar internasional. Jika sinema Indonesia ingin menuju arah yang sama, maka langkah partisipasi di festival seperti BIFF adalah awal yang strategis. Kehadiran “Pangku” dan respons positif yang diterimanya menunjukkan bahwa film Indonesia memiliki potensi untuk berkembang melalui jalur festival internasional.
Peluang Film Indonesia Memasuki Pasar Korea
Melihat meningkatnya minat masyarakat Korea terhadap film Asia selain produksi lokal, peluang film Indonesia untuk merambah pasar ini semakin terbuka. Tren penonton muda Korea yang menyukai film dengan tema sosial, emosional, maupun isu keluarga memberikan ruang bagi karya seperti “Pangku” untuk diterima. Selain itu, festival film seperti BIFF tidak hanya menjadi ajang apresiasi, tetapi juga tempat bertemunya distributor, kurator, serta kritikus film yang mungkin membuka jalan distribusi internasional.
Memanfaatkan momentum ini, para pembuat film dan produser Indonesia penting memahami karakter audiens Korea Selatan. Mereka dikenal mengutamakan kualitas visual, kedalaman narasi, dan eksekusi sinematik yang kuat. Dengan memperhatikan hal tersebut, film Indonesia berpotensi memiliki posisi yang semakin kompetitif di pasar Korea.
Lebih jauh, kerja sama lintas negara di bidang perfilman bukan lagi sesuatu yang baru. Indonesia dan Korea Selatan telah menjalin sejumlah kolaborasi melalui program residensi, lokakarya film, hingga pendanaan bersama. Kehadiran film Indonesia yang diapresiasi di festival besar seperti BIFF akan memperkuat relasi ini dan membuka peluang baru, baik dari sisi produksi maupun distribusi.
Momentum yang Perlu Dijaga
Kesuksesan “Pangku” di BIFF 2025 dapat menjadi batu loncatan penting bagi industri film Indonesia untuk memperluas pengaruhnya di kancah internasional. Apresiasi yang diterima bukan hanya menggambarkan kualitas film tersebut, tetapi juga kemampuan sineas Indonesia untuk bersaing di antara karya-karya terbaik Asia.
Dengan strategi distribusi yang tepat, pemahaman terhadap pasar Korea, serta konsistensi dalam menghadirkan karya berkualitas, peluang film Indonesia memasuki pasar Korea Selatan semakin terbuka. Festival seperti BIFF dapat terus menjadi ruang penguatan identitas sinema Indonesia dan wadah bagi generasi baru pembuat film untuk memperluas jangkauan karya mereka.