INVERSI.ID – Sinemart yang selama ini dikenal sebagai salah satu pemain besar di industri serial televisi Indonesia mulai memperluas langkahnya ke ranah perfilman nasional. Meski memiliki pengalaman panjang di dunia televisi, perusahaan produksi tersebut mengakui masih dalam tahap beradaptasi dengan dinamika industri layar lebar.
Produser Eksekutif Sinemart, David Setiawan Suwarto, menyampaikan bahwa perusahaan yang dipimpinnya saat ini masih terus mempelajari pola kerja dan tantangan yang ada dalam produksi film.
“Kami termasuk pendatang baru kalau untuk dunia film,” kata David.
Dalam upaya meminimalkan risiko sekaligus memperkuat kualitas produksi, Sinemart memilih berkolaborasi dengan pihak yang telah memiliki rekam jejak kuat di industri film. Pilihan itu jatuh kepada Bayu Skak bersama tim kreatifnya dari Skak Studios.
Menariknya, Sinemart tidak mengambil jalur aman dengan menggarap genre yang sudah memiliki pasar besar seperti horor. Sebaliknya, mereka memilih mendukung proyek animasi berjudul “Foufo”, sebuah konsep yang dinilai cukup berani dan berbeda dari tren film Indonesia saat ini.
David mengungkapkan bahwa ide cerita film tersebut sempat memunculkan reaksi yang beragam ketika pertama kali dipresentasikan kepada mereka.
“Ketika kami mendengar sinopsis satu kalimatnya, itu adalah campuran antara keinginan untuk menolak, tapi di saat yang sama, rasa penasaran yang besar untuk melihatnya,” ujar David menjelaskan reaksinya ketika ditawarkan untuk membiayai film tentang jatuhnya pesawat alien namun berlatar di Madura.
Perjalanan Sinemart menuju industri film juga diikuti perubahan pendekatan dalam proses produksi. Jika selama bertahun-tahun terbiasa bekerja dengan ritme cepat untuk kebutuhan tayangan televisi, kini mereka lebih fokus pada pengembangan cerita yang matang sebelum produksi dimulai.
David menilai tim Skak Studios memiliki perhatian tinggi terhadap detail, terutama dalam melakukan riset karakter hingga membangun konflik yang kuat dalam cerita sebelum memasuki tahap syuting.
Selain itu, Skak Studios juga dinilai berani memberikan ruang bagi talenta-talenta baru. Sejumlah pemeran direkrut melalui proses audisi yang digelar langsung di berbagai wilayah Jawa Timur.
Langkah tersebut dianggap berhasil membuka peluang bagi putra-putri daerah untuk tampil di layar lebar sekaligus membuktikan bahwa daerah memiliki banyak sumber daya kreatif yang potensial.
Lebih jauh, Sinemart juga menunjukkan ketertarikannya pada cerita-cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Bagi mereka, film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga harus mampu menghadirkan realitas yang relevan dengan pengalaman sehari-hari penonton.
Tema seperti perjuangan mencari penghasilan hingga upaya membahagiakan orang tua menjadi isu yang dianggap memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat Indonesia saat ini.
Menjelang penayangan perdana “Foufo” pada 9 Juli mendatang, perhatian publik mulai tertuju pada hasil kolaborasi Sinemart dan Skak Studios. Film ini akan menjadi ujian penting bagi Sinemart untuk melihat sejauh mana basis penggemar mereka di televisi dapat bertransformasi menjadi penonton setia di bioskop.
Sebelum proyek “Foufo”, kedua rumah produksi tersebut lebih dulu mencatatkan kerja sama yang cukup sukses melalui serial lokadrama “Lara Ati” yang tayang di platform streaming.