INVERSI.ID – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mengungkapkan kesiapan sektor perhotelan dalam menyambut momen libur Lebaran 2026. Sejumlah hotel di berbagai daerah mulai menyiapkan strategi khusus untuk menarik kunjungan keluarga yang diprediksi akan mendominasi musim liburan tersebut.
“Libur lebaran itu karakternya lebih kepada libur keluarga ya, jadi mereka (pihak hotel) sudah mempersiapkan berbagai upaya tersebut,” kata Sekretaris Jenderal PHRI Maulana Yusran di Jakarta, Kamis.
Menurut Yusran, periode Lebaran selalu menjadi salah satu momentum penting bagi industri perhotelan. Tingginya mobilitas masyarakat untuk mudik sekaligus berwisata membuat tingkat hunian kamar hotel berpotensi meningkat signifikan.
Karena itu, pengelola hotel memanfaatkan momen ini dengan menghadirkan berbagai program menarik. Mulai dari paket menginap spesial Ramadhan dan Lebaran, promo buka puasa bersama, hingga sajian kuliner khas yang menggugah selera wisatawan.
“Jadi sebenarnya ini seperti event, karena sekarang event-nya itu Ramadhan, kalau kemarin Imlek, jadi paket-paket yang hotel tawarkan selalu mengikuti karakter dari liburan tersebut,” katanya.
Selain menawarkan paket promo, sejumlah hotel juga mempercantik dekorasi dengan nuansa khas Lebaran guna menciptakan pengalaman menginap yang lebih berkesan bagi tamu. Konsep tematik dinilai efektif untuk meningkatkan daya tarik dan memperkuat suasana liburan keluarga.
PHRI berharap berbagai strategi tersebut mampu mendongkrak okupansi hotel pada Lebaran 2026. Pasalnya, pada periode Lebaran 2025, tingkat hunian hotel tercatat mengalami penurunan hingga 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya melemahnya daya beli masyarakat serta kondisi cuaca ekstrem di beberapa wilayah yang turut memengaruhi rencana perjalanan.
Meski demikian, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mendorong pergerakan wisatawan. Beberapa di antaranya berupa diskon tiket transportasi, potongan tarif tol, hingga kebijakan Work From Anywhere (WFA) yang memungkinkan masyarakat memperpanjang masa libur.
“Sehingga bisa memperpanjang libur, bercuti bersama, itu juga menjadi salah satu dorongan. Tapi sekali lagi tantangan kita semua adalah daya beli masyarakat, kalau kita bicara liburan itu kan selalu daya beli itu menjadi salah satu faktor yang menentukan pergerakan itu meningkat atau tidak,” katanya.
Dengan kombinasi strategi promosi hotel dan dukungan kebijakan pemerintah, industri perhotelan berharap tren okupansi saat libur Lebaran 2026 bisa kembali tumbuh dan memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata nasional.