INVERSI.ID – CEO PRIDE sekaligus promotor Kejuaraan Nasional Pertamina Mandalika Racing Series, Eddy Saputra, menilai keberhasilan pembalap Indonesia menembus level internasional menjadi bukti nyata bahwa ekosistem pembinaan balap di Tanah Air berjalan efektif.
Pernyataan tersebut menguat setelah munculnya prestasi terbaru dari Veda Ega Pratama yang sukses mencatat sejarah sebagai pembalap Indonesia pertama yang meraih podium di ajang Moto3 Grand Prix Brasil pada akhir pekan lalu.
“Prestasi pembalap Indonesia di level dunia adalah hasil dari ekosistem yang dibangun bersama. Ada pembinaan pembalap, kejuaraan nasional, peran IMI sebagai regulator, dukungan sponsor, serta peran pemerintah dalam membangun infrastruktur seperti Sirkuit Mandalika,” ujar Eddy Saputra dalam keterangan resmi, Sabtu.
Menurut Eddy, capaian tersebut tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan berbagai elemen dalam dunia motorsport nasional. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pembinaan berjenjang, kompetisi nasional yang konsisten, serta dukungan dari berbagai pihak.
Keberadaan Ikatan Motor Indonesia sebagai regulator turut berperan dalam mengatur standar, lisensi, dan regulasi balap. Selain itu, dukungan pemerintah dalam pembangunan infrastruktur juga menjadi faktor penting.
Salah satu tonggak utama adalah hadirnya Pertamina Mandalika International Circuit yang memberikan fasilitas berstandar internasional bagi pembalap Indonesia untuk berkembang.
Tak hanya Veda, sejumlah nama lain juga menunjukkan perkembangan signifikan dari sistem pembinaan yang ada, seperti Mario Aji di Moto2, hingga Aldi Satya Mahendra yang sukses meraih gelar juara dunia World Supersport300.
Eddy menjelaskan, ekosistem motorsport nasional saat ini ditopang oleh beberapa pilar utama. Pertama, dukungan pemerintah dalam pembangunan sirkuit dan pembinaan atlet. Kedua, peran regulator seperti IMI dalam mengatur sistem balap nasional.
Ketiga, keberadaan ajang kompetisi seperti Pertamina Mandalika Racing Series yang menjadi wadah bagi talenta muda untuk berkembang. Keempat, tim balap profesional yang berperan dalam pembinaan teknis.
Kelima, akademi balap yang membekali pembalap sejak usia dini, baik dari sisi teknis maupun mental. Keenam, keterlibatan pabrikan besar seperti Honda dan Yamaha dalam mendukung pengembangan talenta.
Terakhir, dukungan sponsor dan industri dinilai krusial untuk menjaga keberlangsungan karier pembalap, mengingat tingginya biaya di dunia balap profesional.
Dengan fondasi yang semakin kuat, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk terus melahirkan pembalap yang mampu bersaing di kancah internasional.