JAKARTA — Polemik penyesuaian harga Pertamax kembali memantik perdebatan di media sosial. Namun kali ini, sorotan publik tidak hanya tertuju pada kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi tersebut, melainkan juga pada reaksi sebagian kalangan mampu yang dinilai berlebihan dalam menyikapinya.
Di tengah kondisi ekonomi yang menuntut efisiensi anggaran negara, banyak warganet mempertanyakan mengapa kelompok yang selama ini identik dengan gaya hidup mewah justru menjadi pihak yang paling vokal memprotes kenaikan harga BBM nonsubsidi yang memang mengikuti mekanisme pasar.
Sejumlah komentar di media sosial bahkan menyebut fenomena ini sebagai bentuk kontradiksi sosial. Di satu sisi, sebagian orang mampu mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk menonton konser, berlibur ke luar negeri, membeli barang-barang bermerek, hingga mengoleksi kendaraan mewah. Namun di sisi lain, mereka menunjukkan keberatan ketika harus membayar lebih mahal untuk bahan bakar kendaraan pribadinya.
Figur publik Ummi Quary termasuk yang ramai diperbincangkan. Gaya hidupnya disindir karena dinilai tidak sejalan dengan keluhan soal harga Pertamax. “Jalan-jalan ke Singapura-Malaysia bisa, main ke Disneyland gas, pakai tas branded LV puluhan juta juga mampu. Tapi giliran beli bensin Pertamax naik dikit aja protesnya paling kencang,” kritik netizen kepada dirinya.
Sindiran serupa juga muncul dari percakapan warganet yang kemudian dibagikan oleh musisi Baskara Putra atau Hindia. Tangkapan layar komentar yang beredar luas di media sosial itu memunculkan satu kalimat yang menjadi perbincangan,”Kalau mampu gak bakal ngeluh!”
Kalimat tersebut kemudian memicu perdebatan. Sebagian setuju bahwa kelompok berpenghasilan tinggi seharusnya tidak menjadikan BBM nonsubsidi sebagai isu utama. Namun sebagian lainnya berpendapat bahwa setiap warga negara tetap berhak menyampaikan kritik terhadap kebijakan harga, terlepas dari kondisi ekonominya.
Sementara itu, aktris Zaskia Adya Mecca juga menjadi salah satu figur yang kena sorot. Dirinya dianggap anomal karena dinilai rela mengeluarkan biaya besar untuk kebutuhan hiburan dan gaya hidup, tetapi menunjukkan reaksi keras terhadap kenaikan harga bensin untuk kendaraan pribadi.
“Nonton konser musisi legendaris hujan-hujan gas pol taruhannya uang jutaan rupiah. Giliran isi bensin mobil pribadi pakai Pertamax naik enggak sampai Rp4 ribu aja ngeluh,” demikian narasi yang ramai dibahas di media sosial.
Perdebatan mengenai Pertamax sejatinya menyentuh isu yang lebih luas mengenai keadilan sosial. Sebagai BBM nonsubsidi, harga Pertamax memang dirancang mengikuti dinamika harga energi global dan mekanisme bisnis. Berbeda dengan BBM bersubsidi yang menggunakan anggaran negara dan ditujukan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Karena itu, banyak pihak menilai bahwa fokus utama perlindungan negara seharusnya tetap diarahkan kepada kelompok masyarakat rentan, pekerja kecil, nelayan, petani, pengemudi angkutan umum, dan pelaku usaha mikro yang paling terdampak oleh gejolak ekonomi.
Di tengah derasnya kritik terhadap harga Pertamax, muncul pula suara-suara yang mengingatkan pentingnya empati sosial. Bagi mereka, keluhan dari kalangan berada akan lebih mudah diterima publik apabila disampaikan secara proporsional dan tidak mengabaikan kenyataan bahwa masih banyak masyarakat yang berjuang memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Polemik ini pada akhirnya bukan hanya soal harga bensin. Ia menjadi cermin tentang bagaimana masyarakat memandang keadilan, privilese, dan tanggung jawab sosial di tengah kesenjangan ekonomi yang masih nyata terjadi di Indonesia.