INVERSI.ID – Generasi muda kini tidak hanya menjadi korban dari tingginya angka inflasi, namun secara tidak langsung juga turut mendorong lajunya. Fenomena konsumtif dan gaya hidup yang berlebihan menjadi salah satu penyebabnya. Hal ini diungkapkan oleh Hamni Pohan pada Rabu (11/6).
“Anak muda saat ini mudah tergoda tren dan standar sosial yang dibentuk media maupun lingkungan. Banyak dari mereka membeli barang bukan karena kebutuhan, melainkan karena ingin terlihat sesuai ekspektasi sosial,” ujar Hamni.
Hamni menyoroti kemudahan layanan paylater atau beli sekarang bayar nanti sebagai faktor yang memperburuk kebiasaan konsumtif di kalangan anak muda. Skema ini mendorong transaksi impulsif yang tidak diimbangi dengan perencanaan keuangan.
“Dengan adanya paylater, keputusan belanja tidak lagi didasarkan pada kemampuan finansial, tapi keinginan semata. Hal ini menyebabkan pengeluaran menjadi tidak terkendali dan meningkatkan permintaan terhadap barang konsumsi secara berlebihan. Jika dibiarkan, ini akan memicu inflasi,” jelasnya.
Konsumtif Tapi Terjepit Finansial
Lebih lanjut, Hamni menjelaskan bahwa banyak anak muda akhirnya terjebak dalam tekanan ekonomi akibat gaya hidup yang mereka ciptakan sendiri. Ketika harga barang naik, daya beli menurun. Namun karena gaya hidup tidak berubah, dampaknya adalah utang yang menumpuk, tabungan minim, dan stres finansial meningkat.
Ia menegaskan pentingnya edukasi finansial untuk generasi muda agar mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Literasi Finansial Jadi Kunci
Hamni pun mengimbau anak muda agar lebih bijak dalam mengelola keuangan. Ia juga mendorong pemerintah dan lembaga keuangan untuk gencar meningkatkan literasi finansial digital, terutama terkait penggunaan layanan kredit seperti paylater.
“Kalau tidak dikendalikan, fenomena ini bisa menjadi bom waktu. Kita butuh kesadaran kolektif untuk menciptakan pola konsumsi yang lebih sehat. Bukan hanya demi keuangan pribadi yang lebih stabil, tapi juga untuk menjaga kestabilan ekonomi nasional,” tutup Hamni.***