INVERSI.ID – Penyalahgunaan narkotika di kalangan remaja menjadi isu serius yang mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal Polisi Marthinus Hukom mengungkapkan, sebanyak 312 ribu anak muda berusia 15–25 tahun di Indonesia telah terpapar narkotika. Angka tersebut berasal dari prevalensi penyalahgunaan narkotika pada 2023 yang mencapai 1,73 persen atau setara 3,33 juta orang di seluruh Indonesia.
Menurut Marthinus, tingginya angka penyalahgunaan narkotika di kalangan remaja menjadi peringatan keras bagi semua pihak. Penyalahgunaan narkotika di kalangan remaja bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga ancaman terhadap masa depan generasi bangsa.
“Faktor dominan yang memicu seseorang menyalahgunakan narkotika antara lain ajakan atau bujukan teman, dorongan ingin mencoba hal baru, serta lingkungan yang rawan terhadap peredaran narkotika,” jelasnya.
Bahaya narkoba bagi generasi muda tidak hanya menghancurkan kesehatan fisik dan mental, tetapi juga menghambat perkembangan akademik, karier, dan masa depan. Oleh karena itu, Marthinus menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak untuk mencegah meluasnya penyalahgunaan narkotika di kalangan generasi muda. Ia mengingatkan bahwa lingkungan pergaulan memiliki pengaruh besar terhadap keputusan remaja untuk mencoba atau menolak narkoba.
Pemerintah Masukkan Isu Narkoba ke Program Nasional
Besarnya jumlah pengguna narkoba dari kalangan muda membuat Presiden dan Wakil Presiden RI memasukkan pencegahan dan pemberantasan narkoba ke dalam program prioritas nasional, Asta Cita. Program ini menegaskan bahwa narkoba adalah ancaman serius yang harus diatasi secara terstruktur, sistematis, dan berkelanjutan.
Menurut Marthinus, keputusan tersebut menunjukkan kesadaran pemerintah akan kondisi darurat narkoba yang tengah melanda Indonesia. “Dengan dimasukkannya pencegahan dan pemberantasan narkoba dalam Asta Cita, Presiden dan Wakil Presiden melihat bahwa masalah ini sangat kritis dan membutuhkan langkah cepat,” ujarnya.
Pemerintah pun mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, institusi pendidikan, hingga komunitas, untuk terlibat aktif dalam program pencegahan. Edukasi sejak dini dinilai sebagai langkah strategis untuk membangun ketahanan diri remaja terhadap godaan narkotika.
Ajakan Kepala BNN untuk Generasi Muda
Melihat tren penyalahgunaan narkoba yang terus mengkhawatirkan, Marthinus mengajak generasi muda untuk mengambil peran sebagai agen perubahan. Ia menegaskan, langkah awal yang bisa dilakukan adalah dengan mengubah pola pikir, membangun ketahanan diri, serta memiliki keberanian untuk berkata “tidak” pada narkoba.
“Generasi muda harus memiliki mental yang kuat, mampu mengendalikan diri, dan tidak mudah terpengaruh bujukan lingkungan yang negatif,” tegas Marthinus.
Ia juga menyoroti peran penting mahasiswa di lingkungan kampus. Menurutnya, kampus tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga tempat strategis untuk menggalang gerakan anti-narkoba. Melalui kegiatan edukasi, diskusi, dan aksi nyata, mahasiswa bisa menjadi pelopor dalam membangun lingkungan yang sehat dan bebas narkoba.
Lingkungan dan Peran Keluarga
Penyalahgunaan narkotika pada remaja sering kali berawal dari lemahnya pengawasan keluarga dan minimnya komunikasi antara orang tua dan anak. Lingkungan yang tidak kondusif, pergaulan bebas, serta akses mudah terhadap narkotika menjadi faktor pendukung yang memperparah situasi.
Marthinus menekankan pentingnya peran keluarga sebagai benteng pertama dalam melindungi anak dari bahaya narkoba. Keluarga diharapkan bisa menjadi tempat yang aman bagi anak untuk berbagi cerita, sekaligus memberikan edukasi tentang risiko dan dampak penyalahgunaan narkotika.
Edukasi tentang bahaya narkoba harus dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya di sekolah tetapi juga melalui media sosial, kampanye publik, dan kegiatan komunitas. Menurut BNN, pendekatan edukasi yang kreatif dan relevan dengan dunia remaja akan lebih efektif dibandingkan sekadar penyampaian materi secara formal.
Program-program seperti seminar interaktif, kompetisi kreatif bertema anti-narkoba, hingga konten digital edukatif di media sosial dapat menjadi strategi ampuh. Dengan begitu, pesan bahaya narkoba bisa diterima dengan lebih mudah oleh generasi muda.
Dampak Jangka Panjang Penyalahgunaan Narkotika
Penyalahgunaan narkoba tidak hanya merugikan secara pribadi, tetapi juga berdampak pada kualitas generasi bangsa. Remaja yang terjerumus narkoba berisiko kehilangan masa depan karena terganggunya kesehatan fisik, mental, dan kemampuan berpikir.
Selain itu, beban negara juga meningkat akibat biaya rehabilitasi, penegakan hukum, dan kerugian ekonomi yang ditimbulkan. Oleh sebab itu, upaya pencegahan jauh lebih murah dan efektif dibandingkan penanganan setelah penyalahgunaan terjadi.
Marthinus menegaskan bahwa perang melawan narkoba bukan hanya tugas BNN atau pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama. Kerja sama lintas sektor, mulai dari aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, organisasi pemuda, hingga media massa, dibutuhkan untuk menciptakan ekosistem yang sehat dan aman bagi generasi muda.
Media massa, khususnya, memiliki peran besar dalam menyebarkan informasi dan membentuk opini publik. Pemberitaan yang konsisten mengenai bahaya narkoba, kisah inspiratif mantan pengguna yang berhasil pulih, serta informasi layanan rehabilitasi dapat membantu masyarakat lebih waspada.
Harapan ke Depan
BNN berharap tren penyalahgunaan narkotika di kalangan remaja bisa ditekan secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Harapan ini bisa terwujud jika ada sinergi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dan generasi muda itu sendiri.
Generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi objek perlindungan, tetapi juga subjek yang aktif dalam upaya pencegahan. Dengan semangat, edukasi, dan kesadaran yang tinggi, Indonesia dapat melahirkan generasi bebas narkoba yang siap membangun masa depan bangsa.