INVERSI.ID – SMA Pradita Dirgantara kembali mencuri perhatian publik berkat salah satu alumninya, Ryura Assyifa Ramadhina. Lulusan sekolah berasrama di Boyolali, Jawa Tengah itu berhasil menembus 13 universitas bergengsi luar negeri sebelum resmi lulus dari SMA. Kini, Ryura tengah menempuh studi jurusan Mechanical Engineering di University of Toronto, Kanada, sembari berbagi cerita tentang perjuangan beradaptasi dengan lingkungan baru.
Nama SMA Pradita Dirgantara memang semakin dikenal sebagai sekolah yang melahirkan siswa dengan prestasi akademik luar biasa. Kisah Ryura Assyifa menjadi bukti bagaimana sistem pendidikan yang diterapkan sekolah tersebut mampu mempersiapkan generasi muda menghadapi persaingan global. Dari Boyolali, Ryura Assyifa berhasil menapakkan langkah ke kampus-kampus bergengsi di Amerika Serikat, Kanada, Australia, hingga Belanda.
Tidak hanya prestasi akademik, pengalaman Ryura Assyifa juga memperlihatkan bagaimana lulusan SMA Pradita Dirgantara menghadapi tantangan nyata setelah menyeberangi benua. Meski sempat diterima di belasan kampus ternama, Ryura akhirnya menjatuhkan pilihan pada University of Toronto, salah satu universitas terbaik di Kanada, dan baru saja menyelesaikan semester keempatnya.
Adaptasi Sulit di Tahun Pertama
Bagi Ryura Assyifa, perjalanan sebagai mahasiswa internasional tidak selalu berjalan mulus. Ia mengakui bahwa masa transisi dari SMA menuju universitas terasa berat, apalagi harus beradaptasi dengan kehidupan di luar negeri.
“Dari aku pribadi memang transisinya agak sulit, karena iklim dan lain-lain. Jadi tahun pertama jujur cukup berat,” ungkap Ryura Asyyifa saat diwawancarai melalui konferensi video dari Toronto, Kanada, Senin (18/8/2025).
Kondisi iklim yang berbeda membuat Ryura Assyifa kerap jatuh sakit, sehingga sulit meraih nilai sesuai target awal. Selain itu, pola belajar di universitas ternyata jauh berbeda dengan sistem pembelajaran di SMA. Di sekolah, siswa terbiasa dengan bimbingan guru yang terstruktur, sementara di universitas mahasiswa dituntut untuk lebih mandiri.
Mandiri dan Kritis dalam Belajar
Lingkungan universitas menuntut mahasiswa menemukan cara belajar yang sesuai dengan diri mereka sendiri. Ryura Assyifa sempat mencoba metode hafalan untuk menghadapi materi kuliah teknik mesin, tetapi ternyata cara tersebut tidak efektif.
“Karena saat ujian diberikan contekan rumusnya sama dosen, yang ditanya justru bagaimana cara kita menerapkan rumus itu ke suatu problem,” jelasnya.
Dari pengalaman itu, Ryura Assyifa belajar bahwa dunia universitas lebih menekankan pada pemecahan masalah, kreativitas, dan pemikiran kritis. Hal ini membuatnya mulai mengubah pola belajar. Ia tidak lagi terpaku hanya pada teori, melainkan berusaha menghubungkan ilmu yang didapat di kelas dengan fenomena nyata di sekitar.
“Aku coba buktikan ke diri aku sendiri dengan berusaha belajar dan cari metode yang sesuai sama diri aku,” ujarnya.
Tips Adaptasi Belajar di Universitas
Untuk mengatasi kesulitan, Ryura Assyifa memiliki beberapa strategi yang bisa menjadi inspirasi mahasiswa lain. Salah satunya adalah aktif bergabung dengan klub akademik.
“Aku join banyak banget engineering club,” ungkapnya.
Lewat klub-klub tersebut, ia bisa berdiskusi dengan mahasiswa lain, melatih pemecahan masalah, serta mengimplementasikan teori yang dipelajari di kelas. Diskusi lintas perspektif membuatnya semakin percaya diri dalam menghadapi tantangan kuliah.
Selain itu, Ryura juga rutin melakukan riset kecil-kecilan. Ia berusaha memahami permasalahan nyata di sekitar sebagai bahan latihan. Dengan cara ini, ia tidak hanya menguasai materi dari buku, tetapi juga melatih diri untuk berpikir kritis sesuai kebutuhan dunia nyata.
Target Akademik Mulai Tercapai
Perlahan, usaha Ryura membuahkan hasil. Setelah melewati masa sulit di tahun pertama, ia kini berhasil mencapai target akademiknya. Semester keempat menjadi bukti bahwa ketekunan dan adaptasi bisa mengubah situasi. Baginya, pencapaian itu bukan hanya soal nilai, melainkan juga pembuktian bahwa ia mampu bertahan di tengah tantangan hidup di negeri orang.
Tidak berhenti pada prestasi akademik, Ryura juga memiliki cita-cita besar. Ia ingin menjadi insinyur di tim balap Formula 1 (F1). Baginya, F1 bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga laboratorium berjalan untuk inovasi teknologi otomotif, termasuk pengembangan bahan bakar ramah lingkungan.
“Cita-citaku ingin jadi F1 engineer, terutama untuk mengembangkan bahan bakar dan mungkin saja bisa membawa Indonesia ke ranah F1,” ujarnya penuh semangat.
Prestasi Lulusan SMA Pradita Dirgantara
Cerita Ryura mempertegas reputasi SMA Pradita Dirgantara sebagai sekolah yang konsisten mencetak lulusan berprestasi internasional. Sejak berdiri, sekolah ini memang menekankan pendidikan berbasis disiplin, akademik berkualitas, serta wawasan global. Tidak heran jika banyak alumninya diterima di universitas-universitas ternama dunia.
Faktor pendukung lain adalah sistem asrama yang mendidik siswa lebih mandiri sejak dini. Hal ini terbukti membantu Ryura ketika menghadapi kehidupan universitas di luar negeri. Meski awalnya sulit, mentalitas disiplin yang ditanamkan di SMA Pradita Dirgantara membuatnya mampu melewati masa transisi.
Inspirasi Bagi Generasi Muda
Kisah Ryura juga bisa menjadi inspirasi bagi para pelajar Indonesia yang bercita-cita kuliah di luar negeri. Ia menunjukkan bahwa perjuangan tidak berhenti saat diterima di kampus impian, tetapi justru dimulai ketika menghadapi tantangan baru.
Perbedaan budaya, iklim, hingga pola belajar memang bisa menjadi hambatan. Namun dengan tekad, strategi belajar yang tepat, dan keberanian untuk mencoba, hambatan itu bisa diatasi. Apa yang dialami Ryura menjadi gambaran nyata bahwa sukses di luar negeri membutuhkan kombinasi antara kemampuan akademik dan ketahanan mental.
Harapan untuk Masa Depan
Ke depan, Ryura berencana menyelesaikan studinya dengan fokus pada bidang teknik mesin. Ia juga berharap bisa mengembangkan penelitian di bidang otomotif, khususnya energi alternatif yang ramah lingkungan. Ambisinya menjadi engineer di Formula 1 bukan hanya mimpi pribadi, tetapi juga bentuk kontribusi agar Indonesia punya perwakilan di panggung otomotif dunia.
Cerita Ryura menjadi bukti nyata bahwa kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya di sekolah-sekolah unggulan seperti SMA Pradita Dirgantara, mampu melahirkan generasi muda yang siap bersaing secara global. Dengan kerja keras, disiplin, dan keberanian bermimpi besar, peluang untuk menembus dunia internasional terbuka lebar.