INVERSI.ID – Film horor Indonesia memiliki ciri khas yang sulit diabaikan: dominasi hantu perempuan sebagai tokoh utama. Dari Kuntilanak, Sundel Bolong, hingga arwah pengantin, sosok perempuan menyeramkan terus menghantui layar bioskop sejak era 1970-an hingga kini. Tapi mengapa sinema Indonesia begitu terobsesi dengan hantu perempuan? Apakah ini sekadar tren pasar, atau ada akar budaya dan sosial yang lebih dalam?
Dominasi hantu perempuan dalam sinema Indonesia dimulai sejak film horor pertama berjudul Lisa (1971). Sejak saat itu, karakter hantu perempuan terus muncul dalam berbagai judul populer seperti Sundel Bolong (1981), Kuntilanak (2006), Pengabdi Setan (2017), hingga Ivanna (2022).
Menurut studi oleh Annissa Winda Larasati dan Justito Adiprasetio dari Universitas Padjadjaran, representasi hantu perempuan dalam film Indonesia periode 1970–2019 sangat timpang dibandingkan hantu laki-laki. Hantu perempuan muncul jauh lebih sering dan dianggap lebih menyeramkan.
Mengapa Hantu Perempuan Lebih Menakutkan?
Ada beberapa alasan mengapa hantu perempuan mendominasi film horor Indonesia:
1. Simbol Trauma Sosial dan Budaya
Hantu perempuan sering digambarkan sebagai korban kekerasan, pengkhianatan, atau ketidakadilan. Mereka menjadi simbol trauma sosial yang belum selesai—baik dalam konteks patriarki, konflik keluarga, maupun sejarah kelam.
Contoh: Sundel Bolong adalah sosok perempuan yang mati karena diperkosa dan melahirkan secara tragis. Ia menjadi representasi penderitaan perempuan yang tidak mendapatkan keadilan.
2. Ketimpangan Gender dalam Representasi Horor
Penelitian menunjukkan bahwa perempuan lebih sering dijadikan objek ketakutan daripada subjek yang menakutkan karena konstruksi budaya patriarki. Dalam film horor, perempuan yang melawan norma sering kali “dihukum” dengan menjadi hantu.
3. Estetika Visual dan Daya Tarik Sinematik
Rambut panjang, gaun putih, dan ekspresi kosong adalah elemen visual yang kuat dan mudah dikenali. Hantu perempuan memiliki daya tarik sinematik yang tinggi dan mudah dipasarkan, terutama di era media sosial dan trailer viral.
Dalam masyarakat patriarki, perempuan yang tidak sesuai norma sering dianggap mengancam. Hantu perempuan dalam film horor Indonesia sering kali adalah sosok yang “menyimpang”: janda, pengantin mati, perempuan hamil di luar nikah, atau korban kekerasan.
Ketakutan terhadap mereka bukan hanya soal fisik, tapi juga soal moral dan sosial. Mereka menjadi cermin dari rasa bersalah kolektif masyarakat terhadap perempuan yang terpinggirkan.
Film horor dengan hantu perempuan cenderung lebih laris di pasaran. Pengabdi Setan (2017) dan KKN di Desa Penari (2022) mencatat rekor penonton tertinggi dalam sejarah perfilman Indonesia. Karakter seperti Ibu, Badarawuhi, dan Ivanna menjadi ikon horor yang viral di media sosial.
Hal ini menunjukkan bahwa hantu perempuan bukan hanya elemen budaya, tapi juga strategi komersial yang efektif.
Gen Z tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga kreator konten horor. Di TikTok dan Instagram, banyak konten yang memparodikan atau merekonstruksi hantu perempuan sebagai karakter yang kuat, lucu, atau bahkan empowering.
Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi muda mulai mendekonstruksi ketakutan lama dan menciptakan narasi baru tentang perempuan dalam horor.
Obsesi sinema Indonesia terhadap hantu perempuan bukan sekadar tren, tetapi cerminan dari sejarah, budaya, dan psikologi masyarakat. Mereka adalah simbol trauma, ketidakadilan, dan ketakutan terhadap perempuan yang melawan norma.
Namun, dengan munculnya generasi baru penonton dan kreator, narasi ini mulai bergeser. Hantu perempuan kini tidak hanya menakutkan, tetapi juga menjadi ruang untuk refleksi, kritik, dan kreativitas.