INVERSI.ID – Menjadi aktor papan atas dengan segudang pengalaman tentu membuat Vino G. Bastian akrab dengan berbagai karakter kompleks. Namun, proyek terbarunya justru membawanya ke situasi yang tak biasa—memerankan tokoh yang… lupa cara berakting.
Dalam film terbaru garapan Netflix dan Imajinari berjudul “Lupa Daratan”, Vino memerankan sosok bernama Vino Agustian, seorang aktor yang sedang berada di puncak karier, tapi tiba-tiba kehilangan kemampuan aktingnya. Sebuah ironi yang membuat film ini tak hanya lucu, tapi juga menyindir dunia hiburan itu sendiri.
“Yang memang cukup ‘tricky’ adalah bagaimana menangkap ketika Vino tidak bisa akting itu,” kata Vino dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Selasa.
Karakter ini jelas bukan Vino G. Bastian yang sebenarnya, tetapi versi fiktif yang menghadapi krisis eksistensial di tengah gemerlap dunia film. Menariknya, film ini disutradarai oleh Ernest Prakasa, salah satu pembuat film komedi paling berpengaruh di Indonesia. Tak hanya itu, Ardit Erwandha turut bergabung sebagai konsultan komedi, menciptakan formula humor segar yang khas gaya mereka.
Bekerja Bareng Ernest Prakasa dan Ardit Erwandha
Kolaborasi antara Vino, Ernest, dan Ardit menjadi paduan unik antara pengalaman aktor serius dengan sentuhan humor tajam khas dunia stand-up comedy. Bagi Vino, proyek ini menghadirkan tantangan besar karena ia harus tampil sebagai dirinya sendiri, tapi dalam versi “rusak”.
“Pasalnya, karakter Vino Agustian dalam film ‘Lupa Daratan’ berbeda dari aslinya seorang aktor papan atas seperti Vino G. Bastian,” ujar Vino.
Ia mengakui bahwa berakting di bawah arahan Ernest bukan hal baru baginya, namun kali ini atmosfer produksinya terasa berbeda. Ernest dikenal piawai meramu komedi yang tidak sekadar lucu, tapi juga sarat makna sosial. Dalam proyek ini, pendekatan itu semakin kuat dengan bantuan Ardit yang memoles setiap adegan agar ritme humornya tetap natural.
“Itu yang Vino sama komedi konsultan kami, Ardit Erwandha, matang-matangin di awal-awal sekali gitu,” kata Vino. “Di luar itu rasanya-rasanya cukup realistis pendekatannya.”
Ardit sendiri dikenal sebagai komedian dengan gaya observasional yang jeli menangkap realitas. Ia membantu Vino memahami cara menghadirkan kelucuan tanpa kehilangan kedalaman emosi karakter. Kombinasi antara realisme, satire, dan humor membuat film ini bukan sekadar tontonan ringan, tapi juga refleksi tentang dunia akting dan tekanan dalam industri hiburan.
Realitas dan Fiksi yang Bertabrakan
Film “Lupa Daratan” terasa istimewa karena Vino harus menyeimbangkan dua dunia—realitas dan fiksi. Ia memerankan seorang aktor yang kehilangan sentuhannya terhadap seni peran, dan secara tidak langsung harus mengakting tentang ketidakmampuan berakting. Sebuah paradoks yang justru menjadi tantangan tersendiri.
“Interaksi antara Vino dengan manajer, antara Vino dengan abangnya gitu ya, interaksi Vino dengan sesama aktor dan dengan industri, rasanya hal seperti itu realistis,” kata Vino.
Film ini disebut-sebut bakal menampilkan banyak sisi manusiawi di balik panggung gemerlap perfilman. Tak sekadar kisah lucu tentang seorang aktor yang kikuk, tapi juga tentang rasa kehilangan arah dan tekanan yang datang dari ekspektasi publik.
Ernest Prakasa dalam berbagai karyanya kerap mengeksplorasi konflik personal dan identitas dalam balutan komedi yang tajam. Di “Lupa Daratan”, ia tampaknya ingin menunjukkan sisi absurd dari dunia hiburan: bagaimana seseorang bisa kehilangan dirinya sendiri saat terlalu larut dalam citra yang dibangun publik.
Selain itu, film ini turut menghadirkan deretan aktor ternama seperti Agus Kuncoro, Emil Kusumo, Dea Panendra, Lukman Sardi, Sheila Dara Aisha, Kristo Immanuel, dan Morgan Oey. Kehadiran mereka diharapkan menambah dinamika cerita dan menghadirkan kejutan dalam setiap adegannya.
“Lupa Daratan” dijadwalkan tayang perdana di Netflix pada 11 Desember 2025, dan menjadi salah satu film Indonesia yang paling dinantikan akhir tahun ini. Proyek ini menandai kolaborasi lanjutan antara Netflix dan rumah produksi Imajinari, yang sebelumnya sukses dengan sejumlah film lokal berkualitas.
Tantangan Akting dan Sindiran Dunia Hiburan
Menariknya, tema “aktor yang lupa cara berakting” ini justru membuka refleksi tentang industri film itu sendiri. Dalam dunia hiburan, tekanan untuk tampil sempurna sering membuat aktor kehilangan spontanitas dan jati dirinya. Fenomena ini terasa relevan dengan kondisi banyak artis yang harus terus menjaga citra publik di tengah gempuran media sosial dan ekspektasi karier.
Bagi Vino, proyek ini bukan sekadar komedi absurd, tapi juga ruang eksplorasi baru. Ia harus keluar dari zona nyamannya sebagai aktor drama yang dikenal serius, dan menantang dirinya untuk terlihat “gagal” secara sengaja di depan kamera.
Bagaimana menangkap ketika Vino tidak bisa akting itu, ucapnya lagi, menegaskan betapa rumitnya menampilkan ketidaksempurnaan secara autentik.
Dengan gaya khas Ernest Prakasa, film ini diyakini akan menggabungkan humor cerdas, ironi sosial, dan pesan emosional. Selain mengundang tawa, “Lupa Daratan” juga diyakini bakal mengajak penonton untuk merenung tentang identitas, ambisi, dan tekanan hidup di balik sorotan kamera.
Film ini juga menjadi contoh bagaimana Netflix semakin serius menggarap konten lokal Indonesia. Setelah beberapa produksi sukses seperti “Dear David” dan “The Big 4”, kehadiran “Lupa Daratan” menegaskan posisi film Indonesia di pasar streaming internasional.
Menghadirkan Humor dengan Jiwa Manusia
Kolaborasi antara Ernest, Ardit, dan Vino bisa dibilang seperti eksperimen segar dalam dunia komedi modern Indonesia. Ernest membawa struktur naratif yang rapi, Ardit menyuntikkan kelucuan khas generasi muda, sementara Vino menjadi medium yang menyeimbangkan keduanya dengan kemampuan aktingnya.
Film ini diyakini akan menawarkan jenis komedi yang bukan hanya mengundang tawa, tapi juga empati. Ia tidak menertawakan kebodohan semata, melainkan menggambarkan manusia yang tersesat di tengah pencapaian dan ambisinya sendiri.
Pada akhirnya, “Lupa Daratan” bukan sekadar tentang seorang aktor yang kehilangan bakatnya, tapi tentang bagaimana seseorang berusaha menemukan kembali makna di balik profesinya. Bagi Vino, ini bukan hanya peran, tapi perjalanan introspektif untuk mengenali kembali esensi berakting itu sendiri.
“Di luar itu rasanya-rasanya cukup realistis pendekatannya,” ucap Vino.
Film ini diharapkan bisa menghadirkan tawa sekaligus refleksi bagi penontonnya. Karena pada titik tertentu, setiap orang mungkin pernah “lupa daratan” terlalu jauh mengejar kesempurnaan hingga lupa menikmati prosesnya.