INVERSI.ID – Ada sesuatu yang berbeda ketika seorang musisi merayakan perjalanan panjangnya di atas panggung. Bukan cuma soal lagu-lagu yang dibawakan, atau tata panggung megah yang disiapkan, tetapi tentang bagaimana mereka mengajak penonton menyelami dunia yang selama ini membentuk mereka. Itulah yang dilakukan oleh Andien dalam konser “Suarasmara 25 Years of Musical Celebration” yang digelar di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu malam.
Konser ini bukan hanya penampilan musik. Ia lebih seperti gerbang menuju semesta yang mewakili perjalanan 25 tahun seorang penyanyi yang tidak pernah takut berubah. Sejak remaja, Andien dikenal sebagai musisi yang terus mengeksplorasi identitas. Ia menolak untuk terjebak dalam satu definisi saja—dan itulah yang membuat kariernya tetap hidup, dinamis, dan relevan.
Perjalanan Seorang “Bunglon” Musik
Dari awal kariernya, Andien memang tidak pernah terpaku pada satu genre. Ia tumbuh bersama musik, bereksperimen dengan berbagai warna, lalu kembali membawa pulang pengalaman itu ke dalam karya-karyanya. Dalam konferensi pers menjelang konser, Andien menggambarkan perjalanan panjang ini dengan jujur.
“Setelah aku pikir-pikir memang aku tuh juga sebenernya selama 25 tahun ini cukup ‘bunglon’ gitu. Karena aku merasa enggak bisa didefinisikan hanya menjadi satu jenis saja gitu. Mungkin musik pun juga menjadi seperti fashion-ku…” ujarnya.
Selama dua dekade lebih berkarier, Andien memang dikenal lewat berbagai genre, termasuk jazz, RnB, dan pop dengan sentuhan eksperimental. Setiap album punya identitasnya sendiri, dan setiap era seperti membawa Andien ke dunia baru yang mencerminkan perasaan, pemikiran, dan kedewasaannya pada masa itu.
“Dunia-dunia itu, universe-universe itu yang akan aku bawa ke dalam Suarasmara,” lanjutnya.
Dan benar saja, konser Suarasmara terasa seperti perpaduan energi dari seluruh fase perjalanan itu. Seolah penonton diajak untuk masuk ke serangkaian “semesta kecil” yang pernah membentuk perjalanan Andien sebagai musisi.
Panggung, Orkestra, dan Aransemen Baru yang Segar
Salah satu hal yang membuat konser ini terasa spesial adalah hadirnya Tohpati Jazz Orchestra sebagai pengiring. Kolaborasi ini bukan sekadar menambah dimensi musikal di atas panggung, tapi juga membuka ruang baru bagi Andien untuk menampilkan interpretasi berbeda dari lagu-lagu yang sudah dikenal.
Menurut Andien, bermain dengan orkestra memberikan peluang untuk merombak aransemen dengan cara yang segar, tanpa menghilangkan karakter aslinya.
“Semua aransemennya baru banget, ada beberapa yang sangat menantang, masih bisa sing along tapi secara aransemen bener-bener fresh banget,” katanya.
Paduan antara energi jazz orkestra dan gaya vokal Andien menciptakan pengalaman mendengar yang berbeda. Lagu-lagu lama terasa memiliki napas baru. Beberapa nomor terdengar lebih megah, sementara sebagian lainnya terasa lebih intim. Perubahan aransemen ini menjadi bukti bagaimana Andien selalu melihat musik sebagai ruang untuk bergerak, bukan untuk berhenti.
Dengan konsep Suarasmara, Andien juga ingin menyampaikan bahwa musik bukan sesuatu yang statis. Ia berkembang, berubah, dan mengikuti perjalanan emosional sang musisi. Dan di panggung Istora, semua perjalanan itu dirangkum dalam satu malam penuh energi.
Ruang Refleksi dan Cerita tentang Dirinya
Lebih dari sekadar konser, Suarasmara dirancang sebagai ruang refleksi untuk menandai perjalanan panjang Andien yang dimulai sejak ia berusia 16 tahun. Pengalaman, kegagalan, pertumbuhan, dan pencapaiannya semua dirangkum menjadi satu momentum yang personal.
“Untuk audiens aku tuh juga, karena menyuguhkan sesuatu yang aku rasa ini tuh hampir ga pernah dibawakan di panggung-panggung besar gitu ya, musik-musik yang seperti ini aku merasa kayaknya it’s about time,” ujar Andien.
Ia tidak hanya ingin bernyanyi. Ia ingin membagikan cerita—membuka dunia yang selama ini mungkin tidak sepenuhnya dilihat oleh publik. Dan dunia itu tidak hanya terbatas pada musik.
Konser Suarasmara juga menghadirkan Suarasmara Downtown, sebuah ruang yang menampilkan karya-karya daur ulang yang merepresentasikan identitas Andien, perjalanan bermusiknya, serta pakaian yang pernah ia kenakan untuk berbagai pemotretan album. Elemen visual ini dipilih bukan sekadar untuk estetika, tetapi sebagai jembatan yang menghubungkan penggemar dengan kisah-kisah di balik layar yang jarang mereka lihat.
Dengan cara ini, Andien tidak hanya mempersembahkan musik, tetapi juga membuka lembaran kehidupannya—melalui fesyen, karya seni, dan cerita-cerita kecil yang menyusun perjalanan kariernya. Semua ini membentuk pengalaman konser yang jauh lebih personal.
Suarasmara tidak hanya merayakan karya, tetapi juga merayakan manusia di balik karya itu.