Upaya pencarian korban banjir di wilayah Sumatera Utara terus dilakukan oleh tim gabungan, termasuk dukungan penuh dari Satuan K-9 Unit SAR Ditpolsatwa Korps Sabhara Baharkam Polri. Pada Selasa, tim K-9 diterjunkan ke bantaran Sungai Desa Huta Raja, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, untuk membantu proses pencarian korban yang diduga terbawa arus maupun tertimbun material banjir.
Kabagpenum Ropenmas Divisi Humas Polri, Kombes Pol Erdi A. Chaniago, menyampaikan bahwa pengerahan Satuan K-9 merupakan bentuk komitmen Polri dalam mempercepat proses pencarian dan evakuasi korban.
“Polri melalui Unit SAR K9 Ditpolsatwa Baharkam terus mengerahkan kemampuan terbaik dalam membantu pencarian korban bencana,” ujar Erdi di Jakarta, Rabu.
Ia menegaskan bahwa kemampuan pelacakan anjing K-9 sangat diperlukan dalam kondisi medan yang sulit dijangkau oleh petugas secara manual.
Dalam operasi tersebut, Polri menerjunkan 10 personel dan empat anjing pelacak K-9 yang memiliki spesialisasi cadaver atau pencarian jenazah. Operasi dipimpin oleh Kompol Kadarman sebagai perwira pengawas, bersama Iptu Erasmus yang bertugas sebagai kepala tim K-9. Empat satwa K-9 yang dikerahkan adalah Walet, Ari, Rubin, dan Dasa. Anjing-anjing tersebut difungsikan untuk menelusuri area yang diduga kuat menjadi lokasi korban tertimbun atau terbawa arus sungai.
Menurut Erdi, proses pencarian dilakukan secara terpadu bersama tim SAR gabungan yang terdiri atas personel Polri, warga setempat, dan unsur terkait lainnya. Penyisiran dilakukan di beberapa titik rawan yang dinilai berpotensi menjadi tempat korban terperangkap atau tertutup material banjir. Dukungan masyarakat setempat sangat membantu dalam menentukan wilayah yang harus diprioritaskan.
Pada salah satu titik yang ditunjuk oleh K-9, tim menemukan indikasi kuat adanya korban. Setelah dilakukan penggalian oleh warga dan petugas di sekitar lokasi tersebut, ditemukan seorang perempuan dalam kondisi meninggal dunia. Identitas korban belum dapat dipastikan karena kondisi tubuh yang rusak akibat terbawa arus sungai.
“Kehadiran K-9 sangat membantu menemukan titik-titik penting yang sulit dijangkau secara manual,” kata Erdi.
Ia menyebut keberhasilan ini sebagai bukti bahwa integrasi teknologi, kemampuan satwa, dan koordinasi tim menjadi faktor utama dalam percepatan pencarian korban.
Erdi menambahkan bahwa koordinasi antara Polri, masyarakat, dan tim SAR gabungan berjalan dengan baik. Proses pencarian dilakukan dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan, mengingat kondisi medan yang labil dan risiko longsor susulan. Cuaca yang tidak menentu juga menjadi tantangan tersendiri bagi tim di lapangan, sehingga kehadiran K-9 membantu mempercepat langkah penanganan.
Operasi pencarian di Desa Huta Raja masih akan dilanjutkan dalam beberapa hari ke depan. Fokus utama tetap pada penelusuran titik-titik yang berpotensi menjadi lokasi korban tertimbun. Upaya pencarian juga akan diperluas ke daerah aliran sungai lain yang terhubung dengan bantaran Batang Toru. “Kami berkomitmen mendukung penuh seluruh upaya kemanusiaan hingga proses pencarian dinyatakan selesai,” ucap Erdi.
Pengerahan K-9 menjadi salah satu langkah strategis Polri dalam operasi kemanusiaan pada bencana banjir dan longsor yang terjadi di Sumatera Utara. Dengan medan yang berat serta potensi bahaya yang tinggi, penggunaan anjing pelacak terbukti membantu mempercepat proses identifikasi titik-titik kritis. Polri memastikan bahwa operasi akan terus digelar secara intensif hingga seluruh korban ditemukan dan situasi di wilayah terdampak mulai pulih.
Melalui operasi yang terkoordinasi dan dukungan penuh dari berbagai pihak, diharapkan proses pencarian dapat memberikan kejelasan bagi keluarga korban sekaligus mempercepat langkah pemulihan di wilayah Batang Toru dan daerah lainnya yang terdampak bencana.