BOSTON — Kemenangan meyakinkan 4-2 atas Kroasia pada laga pembuka ternyata belum menjadi jaminan bahwa Inggris sudah menemukan performa terbaiknya di Piala Dunia 2026. Bermain di Boston Stadium, Foxborough, AS, Selasa (23/6/2026), tim asuhan Thomas Tuchel kembali menunjukkan kelemahan lama: kesulitan membongkar pertahanan lawan yang bermain sangat rapat.
Hasil imbang tanpa gol melawan Ghana membuat posisi Inggris di Grup L belum sepenuhnya aman sekaligus memunculkan pertanyaan besar mengenai kapasitas Three Lions saat menghadapi tim yang memilih bertahan total.
Ironisnya, sebelum pertandingan, Harry Kane sempat mengingatkan rekan-rekannya soal tren negatif Inggris pada laga kedua turnamen besar. Dalam tiga ajang sebelumnya, Inggris selalu kehilangan momentum setelah laga perdana. Pesan Kane sederhana: kali ini harus lebih baik.
Namun kenyataannya berbeda. Sepanjang pertandingan, Inggris mendominasi penguasaan bola, tetapi kesulitan menciptakan peluang bersih menghadapi Ghana yang tampil sangat disiplin dalam formasi 4-5-1 racikan pelatih baru Carlos Queiroz. Tim berjuluk Black Stars itu nyaris tidak tertarik menyerang dan lebih fokus menutup setiap ruang yang bisa dimanfaatkan Inggris.
“Sebenarnya, dari kacamata kami, penampilan tim baik-baik saja,” kilah asisten pelatih Inggris, Anthony Barry, kepada ITV saat jeda pertandingan. Ia juga mengakui Ghana bertahan jauh lebih dalam daripada yang diperkirakan kubu Inggris.
Meski mendominasi, Inggris nyaris tidak memberikan ancaman berarti kepada kiper Ghana, Benjamin Asare. Statistik menunjukkan enam tembakan pada babak pertama tanpa satu pun mengarah tepat sasaran.
Masuknya Bukayo Saka, Morgan Rogers, dan Eberechi Eze di babak kedua memang meningkatkan intensitas serangan. Saka sempat memaksa Asare melakukan penyelamatan penting, sementara sundulan Nico O’Reilly membentur mistar gawang setelah menerima umpan silang Reece James.
Peluang terbaik datang ketika bola muntah jatuh ke kaki Kane. Namun kapten Inggris itu justru melepaskan tembakan tinggi di atas mistar dalam situasi yang seharusnya berbuah gol.
Di sisi lain, Ghana bahkan hampir mencuri kemenangan. Pada menit ke-79, Prince Kwabena Adu lolos ke kotak penalti dan terlibat kontak dengan Ezri Konsa. Protes keras Ghana meminta penalti tidak digubris wasit.
Hasil ini menjadi pengingat bahwa proyek Tuchel masih jauh dari sempurna. Saat lawan memberi ruang seperti Kroasia, Inggris terlihat tajam. Namun ketika berhadapan dengan blok pertahanan rendah dan terorganisasi seperti Ghana, kreativitas serta variasi serangan mereka masih belum cukup untuk memecahkan kebuntuan.
Piala Dunia 2026 baru dimulai, tetapi Ghana telah menunjukkan celah yang harus segera diperbaiki oleh Three Lions jika ingin melangkah jauh.