INVERSI.ID – Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintah terus memperkuat langkah efisiensi anggaran guna menekan kebocoran kekayaan negara. Upaya tersebut dilakukan agar dana negara dapat dimanfaatkan secara optimal untuk membiayai berbagai program prioritas, termasuk pembangunan infrastruktur dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center, Kamis (24/7/2026).
Dalam pidatonya, Presiden menyinggung hasil analisis sejumlah pakar ekonomi yang menilai tingkat efisiensi investasi di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Salah satu indikator yang menjadi sorotan adalah Incremental Capital Output Ratio (ICOR).
“Apa arti tidak efisien? Artinya banyak kekayaan bocor. Mereka yang kasih nilai itu. Mereka hitung bahwa angka kita, ekonomi kita, ICOR kita 6,5,” kata Presiden Prabowo.
Prabowo Soroti Tingginya ICOR Indonesia
Prabowo menjelaskan, ICOR merupakan indikator yang menggambarkan tingkat efisiensi investasi dalam menghasilkan pertumbuhan ekonomi. Semakin tinggi nilai ICOR, semakin besar investasi yang dibutuhkan untuk menciptakan pertumbuhan.
Berdasarkan data yang disampaikan, Indonesia mencatat nilai ICOR sebesar 6,24 pada 2025, sedangkan pada 2024 berada di angka 6,50.
Menurut Presiden, angka tersebut menunjukkan bahwa Indonesia membutuhkan sekitar 6,24 dolar investasi untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi senilai 1 dolar. Ia menilai kondisi itu masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara tetangga yang memiliki tingkat efisiensi lebih baik.
“Dua per enam, sepertiga. Ini artinya 30 persen kekayaan kita bocor. Anggaran negara adalah 270 miliar dolar, Rp3.700 triliun kurang lebih. Jadi, kalau 30 persen bocor, artinya ya lebih Rp1.000 triliun bocor. Ini sedang saya hentikan. Saya mau tutup ini,” kata Prabowo.
Efisiensi Anggaran Diklaim Hemat Rp300 Triliun
Presiden juga menyoroti praktik penggelembungan harga atau mark up yang disebut masih terjadi di sejumlah lembaga pemerintah. Menurutnya, pemberantasan praktik tersebut telah menghasilkan penghematan anggaran yang cukup besar dalam beberapa bulan pertama masa pemerintahannya.
“Ini yang kita gunakan untuk makan bergizi. Ini yang kita gunakan untuk jembatan tadi yang disebut, 5.000 jembatan kita bangun sampai Desember 2026. Kalau perlu tahun depan kita bangun lebih,” tuturnya.
Prabowo menyebut penghematan sekitar Rp300 triliun itu akan difokuskan untuk mendukung berbagai program prioritas pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan sekitar 5.000 jembatan di berbagai daerah hingga akhir 2026.
Apresiasi Dukungan PKB
Dalam kesempatan yang sama, Presiden Prabowo juga menyampaikan apresiasi kepada Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) atas dukungan terhadap arah kebijakan pemerintah.
Ia turut menyambut hasil ijtima ulama PKB yang mendukung berbagai agenda strategis pemerintah, mulai dari penguatan kedaulatan bangsa, pembangunan kemandirian ekonomi, percepatan industrialisasi dan hilirisasi, hingga peningkatan ketahanan pangan dan energi.
Selain itu, forum tersebut juga menegaskan pentingnya menjaga penyelenggaraan negara tetap berada dalam koridor konstitusi, keadilan, serta tata kelola pemerintahan yang baik. Dukungan tersebut juga disertai komitmen untuk memperkuat peran ulama dalam membangun umat, bangsa, dan negara.