TAPANULI UTARA
Curah hujan yang kembali meningkat menjadi tantangan terbesar bagi BNPB dan tim gabungan dalam upaya memulihkan Tapanuli Utara pascabanjir dan longsor dua pekan lalu. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, di Kantor BNPB, Jakarta, Jumat (12/12) menyebut pemulihan berjalan positif, namun debit air yang terus naik akibat hujan membuat pekerjaan di lapangan berlangsung dalam tekanan waktu dan kondisi alam yang berubah-ubah.
“Kondisi cuaca yang tak menentu, seperti hujan yang menyebabkan debit air kembali meluap, masih menjadi tantangan bagi tim petugas gabungan di lapangan,”* ujarnya.
Meski demikian, tim gabungan mencatat kemajuan signifikan. Hingga Kamis (11/12) sore, 13 warga yang sebelumnya hilang berhasil ditemukan dalam keadaan selamat, sementara ribuan warga yang mengungsi kini mendapat pendampingan intensif. “Warga terdampak akan mendapatkan layanan tambahan di sejumlah titik pengungsian,” kata Abdul.
Pendataan awal mencatat 770 rumah rusak serta sejumlah fasilitas publik seperti sekolah, jembatan, dan ruas jalan yang kini masuk prioritas pemulihan.Sektor akses dan jaringan listrik menjadi tantangan utama, terutama di daerah yang masih sulit dijangkau akibat kerusakan jalan.
Abdul menjelaskan Jalan Tarutung–Sibolga telah kembali terbuka hingga Sitahuis, tetapi desa-desa di Adiankoting dan Parmonangan masih harus disuplai logistik via helikopter. Pemulihan listrik di Adiankoting telah mencapai 93 persen, namun Parmonangan baru 50 persen karena kondisi medan.
Untuk mengatasi blank spot komunikasi, lima dari enam unit Starlink bantuan BNPB telah beroperasi. BNPB juga terus menambah logistik, termasuk matras 50 untuk pos pengungsian Lobupining dan 30 matras ke Sibalanga serta penyediaan air bersih oleh BBWS II agar kebutuhan higienitas warga tetap terpenuhi.