INVERSI.ID – Penulis novel Laut Bercerita, Leila S. Chudori, menyatakan sikap legawa atas sejumlah adegan dalam novelnya yang tidak dapat dimasukkan ke dalam versi film panjang. Adaptasi karya populer tersebut dinilai memerlukan penyesuaian agar tetap efektif sebagai medium sinema.
Dalam konferensi pers peluncuran teaser perdana film Laut Bercerita di Jakarta, Selasa, Leila mengungkapkan bahwa proses adaptasi menuntut keikhlasan, terutama terhadap bagian-bagian cerita yang secara emosional dekat dengannya namun tak memungkinkan untuk divisualisasikan.
“Saya selalu ingat kalimat pertama mas Anggi (penulis skenario). Kita harus ikhlas ya sama adegan-adegan yang mungkin kita enggak bisa masukin padahal kita sayang sama adegan itu,” ujar Leila dalam konferensi pers peluncuran teaser pertama “Laut Bercerita” yang digelar di Jakarta, Selasa.
Menurutnya, perubahan dalam film merupakan konsekuensi logis dari perbedaan medium antara novel dan layar lebar. Ia menekankan bahwa adaptasi bukan berarti memindahkan cerita secara mentah dari halaman ke adegan, melainkan merangkum ruh dan pilar utama kisahnya.
“Saya sendiri seorang penulis review film di Tempo selama dua tahun, dan saya tahu betul bahwa ketika ini mau diangkat film dan saya bersama mas Andi sama-sama menulis itu, bukunya memang harus kita singkirkan. Kita hanya mengambil jiwanya dan pilar-pilarnya tapi kita tidak mungkin mengikuti halaman demi halaman karena itu akan menjadi film yang buruk,” ujar dia.
Leila menambahkan, beberapa bagian yang dalam novel hanya tersirat justru akan diperjelas melalui pendekatan audiovisual dalam film. Dengan demikian, konteks cerita dapat tersampaikan lebih kuat kepada penonton.
Selama penggarapan skenario, ia mengaku aktif berdiskusi dengan sutradara Yosep Anggi Noen dan melakukan sejumlah revisi demi menghasilkan alur yang solid serta tetap setia pada semangat cerita aslinya.
Yosep Anggi Noen juga menegaskan bahwa adaptasi novel setebal Laut Bercerita ke dalam format film tentu menghadapi keterbatasan durasi.
“Memang ada perbedaan novel setebal itu untuk diwujudkan ke dalam film yang punya banyak durasi itu pasti tidak mungkin,” katanya.
Meski demikian, elemen utama seperti persahabatan tetap menjadi fondasi cerita. Nilai tersebut menjadi kekuatan dalam menggambarkan gerakan kemanusiaan berlatar era 1990-an, yang menjadi inti kisah perjuangan para aktivis dalam cerita.
Film Laut Bercerita mengangkat sejarah Indonesia melalui narasi tentang perjuangan, solidaritas, serta ketidakpastian nasib aktivis era 90-an. Adaptasi ini menghadirkan sejumlah aktor dan aktris ternama, di antaranya Reza Rahadian sebagai Biru Laut, Eva Celia sebagai Anjani, Yunita Siregar sebagai Asmara, Ben Nugroho sebagai Alex, Kevin Julio sebagai Daniel, Dewa Dayana sebagai Sunu, Dian Sastrowardoyo sebagai Kinan, Yoga Pratama sebagai Bram, Afrian Arisandy sebagai Gala, Natalius Chendana sebagai Julius, Nagra Kautsar sebagai Naratama, serta Christine Hakim sebagai Ibu Wibisana.
Film produksi Pal8 Pictures tersebut dijadwalkan tayang pada tahun ini dan menjadi salah satu film Indonesia yang paling dinantikan, khususnya bagi pembaca novel aslinya dan generasi muda yang ingin memahami kembali dinamika sejarah era 90-an melalui layar lebar.