JAKARTA — Siapa sangka, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintahan Prabowo Subianto bukan hanya soal mengisi perut anak sekolah. Lebih dari itu, program ini mulai menunjukkan peran strategis dalam membentuk kecerdasan anak Indonesia sejak dini.
Kuncinya sederhana namun krusial, kecerdasan anak berawal dari pemenuhan gizi yang seimbang. Tubuh dan otak anak membutuhkan bahan baku organik berupa nutrisi spesifik—seperti protein, zat besi, vitamin, dan mineral—yang berperan langsung dalam perkembangan kognitif, konsentrasi, hingga daya ingat.
Kini, kehadiran MBG mulai menjadi investasi nyata dalam pembangunan SDM unggul. Program MBG terbukti tidak hanya memberi makan, tetapi juga mengubah kebiasaan makan anak —yang selama ini menjadi salah satu akar masalah kualitas SDM.
Kajian dari Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) mengungkap fakta penting. Sebanyak 80% orang tua menyatakan anak lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi dan 55% orang tua melihat anak jadi tidak pilih-pilih makanan
Direktur RISED, M. Fajar Rachmadi, menegaskan bahwa efeknya terasa langsung di rumah. “Kehadiran MBG ini memberikan rasa tenang kepada keluarga. Anak-anak terbiasa makan bergizi dan tidak lagi pilih-pilih makanan,” ujarnya saat dihubungi redaksi, Kamis (19/3)
Bahkan, 81% orang tua dari keluarga prasejahtera mendukung kelanjutan program ini, karena memberikan kepastian asupan gizi harian anak.
Dampak gizi ternyata tidak berhenti di meja makan—tetapi merembet langsung ke ruang kelas. Riset dari Laboratorium Sosiologi Universitas Indonesia (LabSosio UI) mencatat, bahw 66,4% siswa mengaku lebih bersemangat mengikuti pelajaran setelah adanya MBG.
Ketua LabSosio-LPPSP FISIP UI, Hari Nugroho, menyebut temuan ini sebagai sinyal kuat keberhasilan program. “Penerimaan masyarakat sangat tinggi, terutama dari kelompok ekonomi menengah ke bawah. Orang tua memberikan penilaian yang sangat positif,” jelasnya Kamis.
Para ahli menegaskan, usia sekolah (7–12 tahun) adalah fase emas perkembangan kognitif. Pada masa ini, otak anak berkembang pesat dan sangat bergantung pada asupan nutrisi.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Andi Khomeini Takdir, menilai MBG berperan penting dalam membentuk kebiasaan sehat. “Paparan rutin terhadap makanan bergizi membuat anak terbiasa dengan variasi makanan sehat. Ini penting, karena bahkan di kelompok ekonomi menengah pun pola makan belum tentu sehat,” ungkapnya.
Gizi seimbang sendiri bukan sekadar kenyang, melainkan kombinasi tepat antara, karbohidrat sebagai sumber energi, protein (pembangun sel otak), lemak sehat (fungsi saraf), dan vitamin serta mineral (kinerja kognitif dan imun).
Dengan pola makan sehat, maka pelajar Indonesia dapat meningkatkan prestasi akademik, memperkuat daya tahan tubuh, dan menjaga energi sepanjang hari. Sebaliknya, kurangnya asupan gizi bukan hanya berdampak pada fisik seperti stunting, tetapi juga menurunkan konsentrasi, melemahkan daya ingat, dan mengurangi motivasi belajar.
Yang pasti, program MBG kini tidak lagi bisa dipandang sebagai sekadar bantuan sosial. Ia telah berevolusi menjadi fondasi pembentukan generasi cerdas dan produktif. Dengan perubahan pola makan, peningkatan semangat belajar, dan dukungan masyarakat yang tinggi, MBG menjadi bukti bahwa investasi gizi hari ini adalah investasi kecerdasan bangsa di masa depan. Dan jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin Indonesia sedang menyiapkan lompatan besar yang dimulai dari satu hal sederhana, piring makan anak-anaknya.