Inversi Pemerintah Kota Tangerang Selatan terus menunjukkan komitmen kuat dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya dalam upaya menurunkan angka stunting.
Melalui momentum peringatan Hari Gizi Nasional ke-66, pemerintah daerah meluncurkan strategi baru yang lebih terarah dan komprehensif, dengan menitikberatkan pada intervensi gizi berbasis komunitas serta penguatan implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Wakil Wali Kota Pilar Saga Ichsan menegaskan bahwa kesehatan anak merupakan investasi jangka panjang yang sangat menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Oleh karena itu, berbagai kebijakan yang diambil tidak hanya berfokus pada penanganan jangka pendek, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing menuju visi Indonesia Emas 2045.
“Target kami jelas, yaitu menurunkan prevalensi stunting hingga mencapai angka 7 persen pada tahun 2026. Upaya ini dilakukan dengan memastikan setiap anak mendapatkan asupan gizi seimbang, khususnya protein hewani yang sangat penting bagi pertumbuhan,” ujar Pilar dalam keterangannya.
Untuk mencapai target tersebut, Pemerintah Kota Tangerang Selatan mengoptimalkan berbagai program unggulan yang dijalankan oleh Dinas Kesehatan. Program tersebut mencakup pemenuhan gizi bagi ibu hamil dan ibu menyusui, pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri, serta peningkatan edukasi masyarakat mengenai pentingnya pola makan sehat dan seimbang.
Salah satu strategi utama yang diusung adalah pendekatan “Piring Sehat” yang mendorong masyarakat untuk memanfaatkan sumber pangan lokal sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan gizi. Melalui pendekatan ini, masyarakat diajak untuk memahami bahwa makanan bergizi tidak selalu harus mahal, melainkan dapat diperoleh dari bahan pangan yang mudah dijangkau, seperti ikan, telur, dan sayuran hasil budidaya lokal.
Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan secara aktif melibatkan kader posyandu di berbagai wilayah untuk menyosialisasikan pola makan sehat kepada masyarakat. Kader posyandu tidak hanya memberikan penyuluhan, tetapi juga membagikan resep menu bergizi yang praktis, terjangkau, dan sesuai dengan kebutuhan gizi keluarga.
Selain edukasi, percepatan implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi langkah strategis lainnya. Program ini menyasar kelompok rentan, seperti anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui, khususnya di wilayah dengan tingkat kerawanan gizi yang relatif tinggi.
Melalui program MBG, pemerintah berupaya menutup kesenjangan asupan nutrisi yang selama ini menjadi salah satu faktor utama penyebab stunting. Makanan yang disediakan dirancang dengan memperhatikan keseimbangan gizi, keamanan pangan, serta pemanfaatan bahan lokal yang berkualitas.
Tidak hanya menyasar anak usia dini, strategi ini juga memperhatikan kelompok remaja, khususnya remaja putri. Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) secara rutin di sekolah-sekolah menjadi salah satu upaya pencegahan anemia sejak dini. Langkah ini dinilai penting karena kondisi anemia pada remaja putri dapat berdampak pada kesehatan ibu dan janin di masa depan.
Keberhasilan program penurunan stunting di Kota Tangerang Selatan juga didukung oleh kolaborasi lintas sektor yang kuat. Berbagai instansi, seperti Dinas Kesehatan, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3), serta Tim Penggerak PKK, bekerja sama dalam merancang dan mengimplementasikan program secara terintegrasi.
Peran puskesmas sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan juga sangat penting dalam melakukan pemantauan rutin terhadap kondisi gizi masyarakat. Puskesmas secara aktif melakukan pemeriksaan kesehatan, pemantauan tumbuh kembang anak, serta memberikan konseling gizi kepada keluarga.
Selain itu, Pemerintah Kota Tangerang Selatan juga mengembangkan inovasi layanan kesehatan keliling melalui program “Ngider Sehat”. Program ini menghadirkan tenaga medis yang secara langsung mendatangi rumah warga menggunakan kendaraan roda dua.
Layanan ini mencakup pemeriksaan kesehatan dasar, pemberian vitamin, konseling gizi, hingga distribusi makanan tambahan bagi balita yang mengalami kekurangan berat badan.
Upaya penanganan stunting juga diperkuat melalui pembangunan infrastruktur sanitasi dan lingkungan yang sehat. Pemerintah daerah bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), untuk membangun fasilitas jamban sehat bagi masyarakat.
Selain itu, penyediaan ruang terbuka hijau, seperti taman kota di wilayah Pondok Aren dan Serpong Utara, juga menjadi bagian dari strategi untuk mendorong masyarakat menjalani pola hidup sehat. Fasilitas ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai sarana olahraga dan rekreasi, khususnya bagi ibu hamil dan keluarga.
Dengan berbagai langkah strategis yang telah dilakukan, Pemerintah Kota Tangerang Selatan optimistis dapat menekan angka stunting secara signifikan. Data menunjukkan bahwa prevalensi stunting di wilayah ini telah mengalami penurunan hingga mencapai sekitar 9 persen pada tahun 2023.
Ke depan, pemerintah menargetkan penurunan yang lebih signifikan hingga mencapai target yang telah ditetapkan. Bahkan, dalam jangka panjang, diharapkan dapat terwujud kondisi “zero stunting” sebagai bagian dari komitmen untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Keberhasilan ini tidak terlepas dari peran aktif masyarakat dalam mendukung program yang dijalankan pemerintah. Partisipasi masyarakat dalam menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), serta kesadaran akan pentingnya gizi seimbang, menjadi faktor kunci dalam keberhasilan upaya penanganan stunting.
Melalui sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan, Kota Tangerang Selatan berpotensi menjadi daerah percontohan dalam penanganan stunting di tingkat nasional. Upaya ini diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi daerah lain dalam menciptakan generasi yang sehat, kuat, dan siap menghadapi tantangan masa depan.