Pakar otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengingatkan pengguna mobil listrik untuk tidak nekat menerjang banjir. Pasalnya, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kerusakan serius pada sistem kelistrikan dan sensor kendaraan listrik.
Menurut Yannes, meskipun baterai utama mobil listrik atau electric vehicle (EV) dirancang kedap air dengan standar IP67 atau IP68, hal itu tidak berarti seluruh komponen kendaraan aman saat terpapar air banjir.
“IP67 itu jaminan darurat, bukan jaminan kendaraan bisa digunakan semaunya untuk menerobos banjir,” kata Yannes saat dihubungi di Jakarta, Selasa.
Risiko Kerusakan Tak Hanya pada Baterai
Yannes menjelaskan bahwa risiko terbesar justru tidak selalu berasal dari baterai tegangan tinggi. Sistem kelistrikan 12 volt serta ratusan sensor kecil yang berperan sebagai pusat kendali kendaraan dinilai jauh lebih rentan.
Komponen seperti ECU, modul ABS, hingga sensor parkir tersebar di berbagai bagian mobil dan umumnya tidak memiliki perlindungan sekuat battery pack. Ketika terendam air banjir, terutama air yang keruh atau mengandung garam, potensi kerusakan meningkat secara signifikan.
Air banjir atau air rob yang mengandung kadar garam tinggi dapat memicu proses korosi secara perlahan pada komponen elektronik kendaraan.
“Gejalanya bisa baru muncul beberapa minggu atau bulan kemudian, seperti error sensor, fitur ADAS mendadak nonaktif, atau alarm palsu,” ujar Yannes.
Korosi dan Biaya Perbaikan Mahal
Yannes menambahkan, kerusakan akibat korosi pada modul elektronik umumnya bersifat permanen dan sulit diperbaiki. Solusi yang tersedia biasanya hanya penggantian modul dengan unit baru.
Selain harganya yang mahal dan ketersediaan stok yang terbatas, proses penggantian modul elektronik juga kerap memerlukan kalibrasi ulang sistem, termasuk radar dan kamera fitur keselamatan.
Jika kalibrasi tidak dilakukan secara presisi, fitur keselamatan seperti pengereman darurat otomatis atau lane keep assist justru berpotensi membahayakan pengguna.
Terkait baterai, Yannes menegaskan bahwa komponen ini memang menjadi bagian paling terlindungi dalam mobil listrik. Baterai diawasi oleh battery management system (BMS) yang mampu memutus aliran listrik tegangan tinggi secara otomatis ketika terdeteksi kebocoran arus.
Namun, perlindungan tersebut tetap memiliki batas, terutama jika kendaraan terendam dalam waktu lama atau terpapar tekanan air yang ekstrem.
“Jika terjadi rembesan kecil yang memicu korosi internal, risikonya bisa berujung pada kegagalan mendadak atau thermal runaway. Biaya penggantian battery pack bahkan bisa mencapai 40–50 persen dari harga mobil baru,” katanya.
Tips Aman Menghadapi Musim Hujan
Untuk meminimalkan risiko, Yannes menyarankan pemilik mobil listrik agar lebih berhati-hati selama musim hujan dan banjir. Beberapa langkah perawatan penting perlu diperhatikan, mulai dari memastikan port pengisian daya selalu kering hingga rutin membersihkan kolong mobil dari lumpur dan sisa garam.
Selain itu, pemilik EV juga disarankan memeriksa kondisi karet penyekat pintu serta menjaga kebersihan kamera dan sensor kendaraan agar tetap berfungsi optimal.
“Inspeksi profesional pascabanjir sangat penting. Risiko kerusakan tersembunyi dan biaya perbaikannya jauh lebih besar dibandingkan kenikmatan sesaat saat nekat menerobos banjir,” tutup Yannes.