ARLINGTON – Lionel Messi kembali membuktikan bahwa dirinya masih menjadi jantung permainan Argentina di Piala Dunia 2026. Dua gol yang dicetak sang kapten saat mengalahkan Austria 2-0 di Dallas Stadium, Arlington, Texas, Amerika Serikat, Senin (22/6/2026), tidak hanya membawa juara bertahan lolos ke babak 32 besar, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar: apa jadinya Argentina tanpa Messi?
Di usia 38 tahun, Messi masih menjadi pembeda. Setelah mencetak hattrick saat mengalahkan Aljazair 3-0 pada laga pembuka, bintang Inter Miami itu kembali tampil menentukan dengan memborong seluruh gol kemenangan Argentina atas Austria.
Gol pertama lahir pada menit ke-38 setelah menerima umpan Facundo Medina yang dibiarkan mengalir oleh Thiago Almada. Gol kedua tercipta pada masa injury time ketika Messi memanfaatkan bola muntah hasil penyelamatan kiper Austria, Alexander Schlager.
Tambahan dua gol tersebut membuat Messi mencetak 18 gol di Piala Dunia sepanjang kariernya, memecahkan rekor legenda Jerman Miroslav Klose dan sekaligus menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia putra maupun putri FIFA.
Namun di balik rekor tersebut, muncul kenyataan yang sulit dibantah. Argentina masih sangat bergantung kepada Messi.
Sepanjang pertandingan melawan Austria asuhan Ralf Rangnick, Argentina memang mendominasi penguasaan bola. Namun peluang-peluang terbaik tetap lahir melalui kaki Messi. Bahkan ketika sang megabintang gagal mengeksekusi penalti pada menit kesembilan, Argentina tetap kesulitan membongkar pertahanan Austria hingga Messi memecah kebuntuan.
Ketergantungan itu sebenarnya sudah terlihat sejak laga pertama. Gelandang Argentina Alexis Mac Allister bahkan secara terbuka mengakui pengaruh besar sang kapten.
“Jika ada yang berpikir tim ini lebih baik tanpa Leo, hari ini menjadi jelas bahwa Leo adalah yang paling penting dari semuanya,” kata Mac Allister usai kemenangan atas Aljazair.
Fakta tersebut menjadi kabar baik sekaligus tantangan bagi pelatih Lionel Scaloni. Selama Messi masih berada di lapangan, Argentina memiliki senjata yang mampu mengubah jalannya pertandingan dalam satu momen. Namun di sisi lain, Piala Dunia 2026 kemungkinan menjadi turnamen terakhir sang legenda.
Messi sendiri memilih menikmati setiap momen yang tersisa.
“Saya sangat senang dengan kemenangan ini, terutama karena ini kemenangan yang sangat penting, diperjuangkan dengan keras dan pantas kami dapatkan,” ujar Messi kepada Telemundo.
“Ini Piala Dunia. Pertandingannya sangat seimbang dan sangat intens. Kami senang sudah mengumpulkan enam poin dan memastikan lolos.”
Untuk saat ini, Argentina boleh tenang karena Messi masih ada. Namun kemenangan di Arlington sekaligus menjadi pengingat bahwa mencari penerus pemain terbaik sepanjang masa itu mungkin menjadi pekerjaan terbesar Argentina setelah Piala Dunia 2026 berakhir.