5 Alternatif Judul
- Pengamat Minta Kejagung Usut Tuntas Dugaan Korupsi Febrie Adriansyah hingga Dugaan TPPU
- Kasus Febrie Adriansyah Dinilai Harus Bongkar Aktor Intelektual dan Aliran Dana
- Peneliti Dorong Kejagung Perluas Penyidikan Kasus Febrie Adriansyah, TPPU Jadi Sorotan
- Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Pengamat Minta Penyidikan Transparan
- Kasus Febrie Adriansyah Terus Bergulir, Pengamat Desak Pengungkapan Pihak Lain yang Terlibat
INVERSI.ID – Peneliti kebijakan publik dan tata kelola pemerintahan Gian Kasogi menilai penyidikan kasus dugaan korupsi yang menyeret mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah tidak boleh berhenti pada penetapan satu tersangka. Menurutnya, aparat penegak hukum perlu mendalami kemungkinan adanya pihak lain yang turut terlibat, termasuk mengusut dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU).
Gian mengatakan pengembangan penyidikan menjadi langkah penting agar seluruh pihak yang memiliki peran dalam perkara tersebut dapat diungkap secara menyeluruh.
“Dengan langkah tersebut, aktor intelektual dan dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dapat dibongkar,” kata Gian dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Minggu.
Selain memperluas penyidikan, Gian juga meminta aparat penegak hukum memberikan penjelasan secara terbuka mengenai ruang lingkup perkara yang menjerat Febrie Adriansyah. Menurutnya, publik perlu mengetahui apakah dugaan tindak pidana korupsi tersebut berkaitan dengan jabatan Febrie saat menjabat sebagai Jampidsus atau juga ketika memimpin Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH).
Ia menilai keterbukaan informasi penting agar masyarakat dapat mengikuti perkembangan proses hukum secara objektif.
“Penjelasan mengenai status tersangka eks Jampidsus FA penting agar publik dapat mengawal proses hukum, dan terus mendorong pengungkapan aktor intelektual maupun dugaan TPPU yang diduga merugikan perekonomian nasional,” katanya.
Sebelumnya, Tim Sembilan Kejaksaan Agung menerbitkan surat perintah penyidikan (sprindik) baru terkait dugaan tindak pidana pencucian uang. Dokumen tersebut diterbitkan pada 20 Juli 2026 sebagai bagian dari pengembangan perkara.
Langkah itu diambil setelah Kejaksaan Agung menerima pelimpahan berkas perkara beserta barang bukti dari Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Polri. Barang bukti yang diserahkan antara lain emas seberat 74 kilogram serta mata uang asing dengan nilai mencapai ratusan miliar rupiah.
Dalam proses penyidikan, Tim Sembilan Kejaksaan Agung memanggil empat orang saksi pada 22 Juli 2026. Mereka adalah Febrie Adriansyah, advokat Don Ritto, NH, dan TS.
Namun, pada pemanggilan pertama, Febrie Adriansyah tidak hadir dengan alasan kesehatan, sedangkan saksi berinisial NH juga tidak memenuhi panggilan tanpa memberikan keterangan.
Pemeriksaan kemudian dijadwalkan ulang pada 24 Juli 2026. Pada hari tersebut, Febrie Adriansyah memenuhi panggilan penyidik dan tiba di Gedung Kejaksaan Agung sekitar pukul 13.00 WIB. Kedatangannya tidak diketahui oleh awak media yang berada di lokasi.
Malam harinya, sekitar pukul 22.57 WIB, kuasa hukum Febrie Adriansyah, Febri Diansyah, menyampaikan bahwa Kejaksaan Agung telah menetapkan kliennya sebagai tersangka sekaligus melakukan penahanan.
Di sisi lain, Febrie Adriansyah menyatakan tidak sependapat dengan keputusan tersebut. Usai menjalani pemeriksaan, ia mengaku merasa menjadi korban kriminalisasi.
“Menurut saya, ini belum cukup untuk dilakukan penahanan,” kata Febrie.
Setelah proses pemeriksaan selesai, Kejaksaan Agung membawa Febrie Adriansyah ke Rumah Tahanan Negara Cabang Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, untuk menjalani masa penahanan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Kasus ini masih terus berkembang. Publik kini menantikan hasil penyidikan lanjutan, termasuk kemungkinan adanya tersangka lain maupun pengungkapan dugaan tindak pidana pencucian uang yang disebut menjadi bagian dari pengembangan perkara.
#KejaksaanAgung
#Korupsi
#TPPU
Tolong edit artikel ini di parafrase jangan mirip bangeett agar bebas indikai plagiat, jadikan artikel dengan gaya Bahasa news formal. Jangan ubah kutipannya, dan berikan 5 alternatif judul yang keren. Jangan lupa buat artikel ini jadi ramah SEO, asik dibaca oleh anak muda dan jangan ada kalimat atau kata yang di bold. di awal artikel tulis INVERSI.ID – di bold, 3 hastag diletakan paling baah stelah naskah, dipisah.. Paham bro? Angkatan bersenjata Rusia telah menyerang lebih banyak pusat logistik militer, fasilitas produksi pesawat nirawak (drone), dan fasilitas penyimpanan Ukraina selama 24 jam terakhir, demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia pada Minggu. “Penerbangan operasional-taktis, drone serang, divisi rudal dan artileri dari kelompok Angkatan Bersenjata Rusia menyerang pusat logistik, tempat produksi drone jarak jauh dan lokasi penyimpanan, fasilitas infrastruktur bahan bakar dan energi, serta transportasi yang digunakan untuk kepentingan angkatan bersenjata Ukraina,” jelas pernyataan tersebut. Kementerian tersebut menambahkan bahwa militer tersebut juga menyerang lokasi pengerahan sementara angkatan bersenjata Ukraina dan tentara bayaran asing di 146 wilayah. Pasukan Rusia telah menghancurkan satu perahu karet yang membawa dua prajurit Ukraina di wilayah Dnipropetrovsk, menyita peralatan radio dan telepon seluler yang berisi data tentang rute pergerakan pasukan, kata Komandan Kompi Kelompok Tempur Tsentr (Pusat) Alexander Volkov kepada RIA Novosti. Dia mengatakan bahwa para prajurit Ukraina telah salah arah dan memasuki wilayah yang dikuasai pasukan Ukraina, bukannya mencapai posisi mereka sendiri. “Pasukan musuh menggunakan perahu karet sebagai alat transportasi. Saat itu senja, dan mereka jadi bingung. Alih-alih mencapai pasukan mereka sendiri, mereka malah dikepung oleh pasukan kita. Mereka dilumpuhkan. Perahu itu juga dihancurkan,” kata Volkov. Informasi mengenai peralatan yang disita telah diserahkan kepada unit intelijen untuk dianalisis lebih lanjut dan dilakukan perencanaan operasional, imbuhnya.
5 Alternatif Judul
- Rusia Klaim Serang Pusat Logistik dan Fasilitas Drone Ukraina dalam Operasi Terbaru
- Rusia Intensifkan Serangan ke Infrastruktur Militer Ukraina, Gudang Drone Jadi Sasaran
- Kementerian Pertahanan Rusia Sebut Fasilitas Militer Ukraina Kembali Digempur
- Rusia Klaim Hancurkan Jalur Logistik Ukraina dan Sita Data Pergerakan Pasukan
- Konflik Rusia-Ukraina Memanas, Moskow Klaim Serang 146 Lokasi Militer Ukraina
INVERSI.ID – Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim pasukannya kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah target strategis milik Ukraina dalam operasi militer selama 24 jam terakhir. Sasaran yang disebut diserang meliputi pusat logistik, fasilitas produksi pesawat nirawak (drone), hingga infrastruktur pendukung kebutuhan militer Ukraina.
Dalam pernyataan resminya pada Minggu, Kementerian Pertahanan Rusia menyebut operasi tersebut dilakukan menggunakan kombinasi pesawat tempur taktis, drone serang, satuan rudal, dan artileri.
“Penerbangan operasional-taktis, drone serang, divisi rudal dan artileri dari kelompok Angkatan Bersenjata Rusia menyerang pusat logistik, tempat produksi drone jarak jauh dan lokasi penyimpanan, fasilitas infrastruktur bahan bakar dan energi, serta transportasi yang digunakan untuk kepentingan angkatan bersenjata Ukraina,” jelas pernyataan tersebut.
Selain menyasar fasilitas logistik dan industri pertahanan, Rusia juga mengklaim telah menyerang lokasi pengerahan sementara personel militer Ukraina serta kelompok tentara bayaran asing di 146 wilayah berbeda.
Sementara itu, Komandan Kompi Kelompok Tempur Tsentr (Pusat), Alexander Volkov, mengungkapkan pasukan Rusia berhasil menggagalkan pergerakan dua prajurit Ukraina di wilayah Dnipropetrovsk.
Menurut Volkov, kedua prajurit tersebut menggunakan perahu karet sebagai sarana transportasi, namun diduga mengalami kesalahan navigasi hingga memasuki area yang telah dikuasai pasukan Rusia.
“Pasukan musuh menggunakan perahu karet sebagai alat transportasi. Saat itu senja, dan mereka jadi bingung. Alih-alih mencapai pasukan mereka sendiri, mereka malah dikepung oleh pasukan kita. Mereka dilumpuhkan. Perahu itu juga dihancurkan,” kata Volkov.
Ia menambahkan, setelah operasi tersebut, pasukan Rusia menyita sejumlah perangkat komunikasi, termasuk radio dan telepon seluler yang diklaim berisi informasi mengenai rute pergerakan pasukan Ukraina.
Volkov mengatakan seluruh perangkat yang diamankan telah diserahkan kepada unit intelijen untuk dianalisis lebih lanjut sebagai bahan penyusunan strategi dan operasi berikutnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pihak Ukraina terkait klaim yang disampaikan Kementerian Pertahanan Rusia maupun pernyataan Komandan Kelompok Tempur Tsentr tersebut. Klaim dari masing-masing pihak dalam konflik Rusia-Ukraina sering kali tidak dapat diverifikasi secara independen.