INVERSI.ID – Situasi keamanan di Iran kembali memanas setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke Bandara Iranshahr yang berada di Provinsi Sistan dan Baluchestan, Iran tenggara, pada Jumat dini hari waktu setempat. Serangan tersebut menyebabkan seorang warga sipil mengalami luka-luka sekaligus merusak sejumlah fasilitas penting di kawasan bandara.
Berdasarkan laporan televisi pemerintah Iran, sedikitnya satu proyektil milik Amerika Serikat menghantam area bandara. Dampaknya, pasokan listrik di lokasi sempat terputus akibat kerusakan pada jaringan kelistrikan. Selain itu, sebuah tangki bahan bakar juga dilaporkan mengalami kerusakan.
Otoritas setempat menyebut satu warga sipil menjadi korban luka dalam insiden tersebut. Hingga kini belum ada informasi lebih lanjut mengenai kondisi korban maupun tingkat kerusakan secara keseluruhan.
Serangan terhadap Bandara Iranshahr berlangsung di tengah berlanjutnya operasi militer Amerika Serikat di wilayah selatan Iran. Media lokal melaporkan bahwa sejumlah infrastruktur lain turut menjadi sasaran, termasuk beberapa jembatan di sekitar Bandar Khamir.
Selain itu, ledakan dan kerusakan juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah strategis lainnya, seperti Bandar Abbas, Bushehr, Pulau Qeshm, Sirik, hingga Ahvaz. Rangkaian serangan tersebut semakin memperluas dampak konflik yang masih berlangsung di kawasan.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat bersama Israel sebenarnya telah meningkat sejak Februari lalu. Saat itu, Washington dan Tel Aviv melancarkan operasi militer gabungan terhadap Iran.
Sebagai respons, Teheran membalas dengan meluncurkan rudal serta drone yang menyasar sejumlah negara di kawasan Teluk yang menjadi lokasi penempatan aset militer Amerika Serikat.
Sempat muncul harapan meredanya konflik setelah Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan pada bulan lalu. Kesepakatan itu bertujuan membuka jalan menuju penghentian konflik sekaligus mendorong tercapainya perjanjian damai jangka panjang.
Namun, upaya tersebut kembali menghadapi tantangan setelah dalam beberapa hari terakhir terjadi perselisihan terkait Selat Hormuz. Ketegangan baru itu memicu aksi saling serang antara kedua negara sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah.