INVERSI.ID – Tempat tinggal merupakan kebutuhan dasar manusia. Namun, berbeda dengan kebutuhan seperti pakaian atau makanan, harga rumah jauh lebih tinggi dan kerap membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memilikinya, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi ekonomi terbatas.
Situasi ini membuat banyak orang mencari alternatif tempat tinggal yang lebih terjangkau. Salah satu tren yang kini berkembang di China adalah tinggal di hotel.
Dilansir dari Oddity Central, sejumlah anak muda di China mengaku telah tinggal lama di hotel dan merasa nyaman dengan gaya hidup tersebut. Selain biaya sewanya yang lebih murah, mereka juga menikmati berbagai fasilitas mewah yang sulit ditemukan di apartemen atau rumah sewa biasa.
Hu Weiwei, seorang profesional e-sports, berbagi pengalamannya. Sejak lulus kuliah pada 2022, ia sempat mencoba menyewa apartemen, namun menghadapi berbagai kendala seperti uang muka yang tinggi, kontrak sewa yang tidak jelas, hingga masalah dengan pemilik properti.
“Bagi seseorang dengan kecemasan sosial seperti saya, berurusan dengan tuan tanah adalah mimpi buruk,” ujar Hu Weiwei.
Karena itu, Hu memutuskan untuk mencoba tinggal di hotel. Ia merasa jauh lebih nyaman karena tidak perlu repot membersihkan kamar, bisa menikmati AC 24 jam, serta memiliki akses mudah ke toko, restoran, dan stasiun kereta bawah tanah.
Dari segi biaya, Hu mengeluarkan sekitar 2.500 yuan atau sekitar Rp5,7 juta per bulan. Bandingkan dengan biaya sewa apartemen bersama yang berkisar 1.000 yuan (Rp2,3 juta) per bulan, atau menyewa apartemen sendiri yang membutuhkan 2.000–3.000 yuan (Rp4,6–6,9 juta) per bulan.
Selama beberapa tahun terakhir, Hu tidak hanya tinggal di satu hotel. Ia pernah menetap di hotel-hotel di Shanghai dan Suzhou, sebelum akhirnya kembali ke kota kelahirannya di Provinsi Jilin, timur laut China.
Cerita serupa datang dari Tang Miaomiao, anak muda lainnya yang memilih tinggal di hotel. Ia mengaku mendapat banyak keuntungan, seperti layanan khusus dari staf hotel.
“Dengan menyewa rumah, kamu harus membayar sewa sebulan penuh sebagai biaya agensi. Itu tidak sebanding untuk masa inap jangka pendek. Di hotel, staf bahkan mengingat makanan favorit saya,” ceritanya.
Fenomena ini mendapatkan perhatian dari akademisi. Wu Ben, profesor madya pariwisata dari Universitas Fudan, Shanghai, menyebut tren tinggal di hotel mulai populer sejak pandemi COVID-19.
“Banyak hotel menawarkan layanan inap jangka panjang dengan harga pasar yang lebih terjangkau, dilengkapi fasilitas memadai,” jelas Wu.
Menurut laporan Sixth Tone, berdasarkan data dari Jin Jiang Hotels China Region, jumlah tamu berusia di bawah 40 tahun yang menginap lebih dari satu bulan meningkat lebih dari 1,5 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Data ini dihimpun antara 1 Januari hingga 19 Maret 2025.
Tren ini banyak diminati oleh pelancong bisnis, pekerja lepas, hingga profesional muda. Mereka tertarik pada efisiensi biaya, fleksibilitas, serta fasilitas seperti layanan kebersihan harian dan akses ke pusat kebugaran.
“Beberapa hotel menawarkan potongan harga untuk masa inap panjang, sehingga biayanya hampir setara dengan harga sewa apartemen di kawasan sejenis, tanpa perlu membayar uang deposit atau utilitas tambahan,” ujar seorang staf Jin Jiang Hotels.
Dengan tinggal di hotel, anak muda China menikmati gaya hidup praktis yang memungkinkan mereka berpindah lokasi dengan mudah tanpa terikat kontrak panjang.***