INVERSI.ID – Bahasa Jawa sebagai salah satu kekayaan budaya Nusantara kini menghadapi tantangan besar di tengah dominasi bahasa Indonesia dan bahasa asing.
Guru Besar Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Hendrokumoro, menyampaikan bahwa pelestarian bahasa Jawa harus menjadi perhatian serius, terutama di kalangan generasi muda.
“Bahasa Jawa mengalami tantangan eksistensial karena penggunaannya kian terbatas, umumnya hanya dalam lingkungan keluarga atau komunitas tradisional,” ujar Hendrokumoro dalam pidato pengukuhan jabatan guru besarnya yang bertajuk “Eksistensi Bahasa Jawa Saat Ini beserta Peran, Tantangan, dan Peluangnya,” dikutip dari laman resmi UGM, Sabtu (10/5).
Menurutnya, arus globalisasi, kemajuan teknologi, dan perubahan gaya hidup masyarakat menjadi faktor utama yang memengaruhi penurunan penggunaan bahasa daerah, termasuk bahasa Jawa.
Padahal, berdasarkan data, jumlah penutur bahasa Jawa saat ini masih sangat besar, yakni diperkirakan lebih dari 80 juta jiwa.
Namun demikian, besarnya jumlah penutur tidak menjamin keberlangsungan bahasa tersebut tanpa dukungan nyata dari berbagai pihak. Hendrokumoro menekankan pentingnya strategi pelestarian bahasa Jawa yang tidak hanya bersifat konservatif, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Bahasa Jawa tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sarana untuk mewariskan nilai-nilai budaya, membentuk identitas, dan memperkuat karakter masyarakat,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti bahwa ungkapan-ungkapan dalam bahasa Jawa sarat dengan nilai kearifan lokal yang relevan dalam membentuk perilaku sosial masyarakat. Oleh sebab itu, bahasa Jawa perlu terus diajarkan, dikaji, dan dikembangkan, khususnya dalam lingkungan akademik, lembaga budaya, dan media digital yang digemari anak muda.
Lebih lanjut, Hendrokumoro menyatakan bahwa pelestarian bahasa Jawa dapat memberikan dampak lebih luas, termasuk potensi peningkatan nilai ekonomi, misalnya melalui produk budaya, literasi digital, dan pariwisata berbasis lokal.
“Bahasa adalah cerminan peradaban. Melalui bahasa, manusia tidak hanya menyampaikan gagasan, tetapi juga menghidupkan memori kolektif dan konstruksi budaya,” tuturnya.
Ia pun mengajak para akademisi, pegiat bahasa, dan generasi muda untuk lebih aktif dalam menghidupkan bahasa daerah, termasuk bahasa Jawa, sebagai bagian dari upaya menjaga keragaman budaya Indonesia.***