INVERSI.ID – Gen Z dipecat menjadi fenomena yang semakin sering terdengar dalam beberapa tahun terakhir, khususnya setelah generasi ini mulai memasuki dunia kerja dalam jumlah besar. Generasi Z, yang umumnya lahir setelah tahun 1997, kini membanjiri pasar tenaga kerja dengan semangat muda dan pandangan baru. Namun, alih-alih hanya membawa inovasi dan energi segar, banyak perusahaan justru menghadapi tantangan besar hingga memutuskan hubungan kerja dengan mereka dalam waktu singkat.
Survei terbaru dari Intelligent, sebuah platform edukasi dan karier di Amerika Serikat, mengungkap fakta mengejutkan: 60% Gen Z dipecat tidak lama setelah mereka direkrut. Data ini memicu diskusi luas di kalangan HR, pelaku bisnis, dan bahkan sesama pekerja lintas generasi. Fenomena ini bukan sekadar masalah individu, melainkan cerminan gesekan budaya kerja antar generasi, kesenjangan keterampilan, dan tuntutan industri yang semakin kompleks.
Banyak yang bertanya-tanya, mengapa Gen Z dipecat meski memiliki reputasi sebagai generasi yang melek teknologi, kreatif, dan fleksibel? Jawabannya ternyata cukup berlapis dan melibatkan faktor internal maupun eksternal.
Alasan Perusahaan Memecat Karyawan Gen Z
Menurut survei Intelligent, faktor utama Gen Z dipecat adalah rendahnya motivasi kerja. Hal ini menjadi alasan nomor satu yang diungkap perusahaan, disusul oleh kurangnya profesionalisme dan keterampilan komunikasi yang lemah.
Huy Nguyen, Kepala Penasihat Pendidikan dan Pengembangan Karier di Intelligent, menyebutkan bahwa banyak lulusan baru tidak benar-benar siap menghadapi transisi dari dunia akademis ke lingkungan kerja profesional. “Dunia kerja memiliki ritme, tuntutan, dan dinamika yang sangat berbeda dari kampus. Banyak yang terkejut begitu masuk,” ujarnya.
Kondisi kerja hybrid atau remote yang kini marak juga memperburuk situasi bagi karyawan muda yang belum terbiasa mengatur waktu dan mengelola prioritas. Tanpa pengawasan langsung, sebagian kehilangan fokus atau kesulitan menjaga produktivitas.
Tanda Ketidaksiapan Sudah Terlihat Sejak Proses Rekrutmen
Fenomena Gen Z dipecat sebenarnya sudah bisa dilihat dari tahap pencarian kerja. Survei ResumeTemplates pada April 2025 menemukan beberapa data menarik:
- 70% Gen Z mengandalkan bantuan orang tua untuk mencari pekerjaan.
- 25% Gen Z bahkan mengajak orang tua hadir saat wawancara kerja.
- Beberapa meminta orang tua membuatkan resume atau mengirimkan lamaran.
Meskipun dukungan keluarga adalah hal positif, dalam konteks profesional, ini menjadi indikator kurangnya kemandirian. Perusahaan biasanya mengharapkan kandidat yang mampu mengelola seluruh proses rekrutmen sendiri, sebagai tanda tanggung jawab dan kesiapan bekerja.
Data Lengkap Alasan Gen Z Dipecat
Berdasarkan survei Intelligent, berikut adalah alasan paling umum pemecatan karyawan Gen Z:
- Kurangnya motivasi atau inisiatif (50%)
- Kurangnya profesionalisme (46%)
- Keterampilan organisasi yang buruk (42%)
- Keterampilan komunikasi yang lemah (39%)
- Tidak siap menerima umpan balik (38%)
- Pengalaman kerja yang tidak relevan (38%)
- Kurang mampu memecahkan masalah (34%)
- Keterampilan teknis belum memadai (31%)
- Tidak cocok dengan budaya perusahaan (31%)
- Kesulitan kerja tim (30%)
Dari daftar ini, terlihat bahwa masalah bukan hanya soal teknis, tetapi juga aspek soft skill dan sikap kerja.
Kisah Nyata Gen Z yang Dipecat
Salah satu contoh nyata datang dari seorang pekerja Gen Z berusia 25 tahun asal Jakarta. Ia dipecat setelah tiga bulan bekerja di perusahaan teknologi. Menurut pengakuannya, alasan utama pemberhentian adalah ketidakcocokan dengan budaya dan kebutuhan perusahaan.
“Saya merasa kreativitas saya tidak dihargai. Gaya desain yang mereka pakai kuno dan terlalu kaku, sementara saya ingin bereksperimen,” ujarnya.
Lulusan Desain Komunikasi Visual dari universitas swasta di Tangerang ini juga mengeluhkan gaji yang hanya Rp3,7 juta, di bawah UMP DKI Jakarta. Ketika meminta kenaikan gaji, ia justru mendapat tanggapan sinis dari atasan.
Situasi semakin sulit ketika ia diminta mengerjakan tugas di luar deskripsi kerja, termasuk kewajiban standby di akhir pekan. Hal ini membuatnya kehilangan semangat dan akhirnya diberhentikan.
Banyak ahli HR menyebut fenomena Gen Z dipecat juga terkait benturan budaya kerja. Gen Z tumbuh di era digital yang serba cepat, penuh kebebasan, dan cenderung mengutamakan keseimbangan hidup. Sementara itu, banyak perusahaan masih menganut budaya kerja yang mengedepankan jam panjang, hierarki ketat, dan kepatuhan tanpa banyak ruang diskusi.
Akibatnya, muncul ketidakcocokan ekspektasi. Gen Z menginginkan fleksibilitas, pengakuan atas kreativitas, dan komunikasi dua arah. Sebaliknya, sebagian perusahaan mengutamakan hasil, disiplin, dan kepatuhan pada prosedur yang sudah lama berlaku.
Solusi Agar Gen Z Bertahan di Dunia Kerja
Agar tren Gen Z dipecat tidak terus berlanjut, perlu ada upaya dari kedua belah pihak: karyawan muda dan perusahaan.
Bagi Gen Z:
- Tingkatkan soft skill seperti komunikasi, kerja tim, dan manajemen waktu.
- Miliki mental belajar dan kesiapan menerima kritik.
- Bangun kemandirian sejak tahap melamar pekerjaan.
- Jangan terlalu cepat mengeluh soal gaji sebelum memberikan kontribusi yang signifikan.
Bagi Perusahaan:
- Sediakan program orientasi yang komprehensif untuk karyawan baru.
- Berikan mentor dari generasi yang lebih senior untuk mendampingi adaptasi.
- Buka ruang diskusi agar ide-ide segar bisa diintegrasikan ke dalam sistem kerja.
Fenomena Gen Z dipecat adalah cerminan dari perubahan besar di dunia kerja. Perbedaan ekspektasi, budaya, dan keterampilan menjadi tantangan yang perlu dijembatani. Dunia kerja sedang bertransformasi, dan keberhasilan adaptasi akan bergantung pada kemauan setiap pihak untuk saling memahami dan berkompromi.
Generasi Z memiliki potensi besar untuk menjadi motor perubahan, asalkan mereka siap belajar, beradaptasi, dan memahami realita kerja profesional. Di sisi lain, perusahaan yang mampu mengelola perbedaan generasi akan menuai manfaat dari energi, kreativitas, dan perspektif baru yang mereka bawa.