Halo bro and sis, ada info baru nih dari Serpong, 11 Mei 2025! Di landasan Puspiptek, tabung mini seukuran kaleng soda melesat 600 meter sebelum parasut terbuka.
Payload itu buatan Tim Orbital‑5 SMA Negeri 5 Semarang, yang dinobatkan Juara 1 ASEAN CanSat Challenge 2025 pada final 11 Mei.
Nah buat tantangannya: membawa sensor suhu kelembapan, kamera, pemancar posisi, lalu mendarat akurat radius 30 m.
Riset di Garasi & Printer 3‑D Sekolah
Proyek dimulai Januari di garasi ketua tim, Abiyu Farras (17). Kerangka PLA dicetak pakai printer 3‑D sekolah; kamera bekas drone dan otak STM32F4 hasil donasi alumni.
“Total modal cuma Rp 3,2 juta lebih murah dari iPhone second,” seloroh Abiyu. Malam-malam mereka habiskan ngoding Python untuk kompres gambar agar muat di bandwidth LoRa. “Energi kami: kopi saset dan mie instan,” tambah Syifa, spesialis avionik.
Uji coba gagal lima kali—payload jatuh di sawah, komponen korslet tapi tiap kegagalan dicatat rinci.
Detik‑detik Kemenangan
Nah pada penerbangan final, data telemetri tampil stabil di layar laptop: suhu 29 °C, kelembapan 78 %. Serem banget gak bre!
Kamera mengirim foto atap Puspiptek, lalu parasut membuka di ketinggian 250 m. Payload mendarat 14 m dari target terakurat di antara 18 tim ASEAN.
Orbital‑5 mendapat hibah prototyping Rp 75 juta dari LAPAN serta undangan presentasi di International CubeSat Symposium, Sydney, Oktober 2025.
Visi mereka: mengembangkan CanSat murah sebagai modul praktikum sekolah se Indonesia. “Kalau ruang kelas sempit, garasi bisa jadi lab. Ide besar nggak butuh ruang besar—cuma butuh tim solid dan keberanian trial‑error.”