INVERSI.ID – Piringan hitam atau vinyl kembali menjadi tren di kalangan generasi muda. Di tengah dominasi platform digital seperti Spotify dan YouTube, justru semakin banyak anak muda yang beralih ke musik analog. Alasan utamanya? Kualitas suara yang jernih, detail instrumen yang tajam, dan tentu saja, faktor estetika yang unik dan klasik.
Dulu identik dengan kolektor musik senior, kini toko-toko piringan hitam justru ramai dikunjungi remaja dan dewasa muda. Misalnya, Garasi Opa di Bandung yang mampu menjual sekitar 20 piringan hitam setiap bulan dengan harga bervariasi antara Rp 200.000 hingga Rp 1,5 juta per keping.
Hal serupa juga terjadi di PH Record Store, Jakarta. Menurut pengelolanya, sekitar 75% pelanggannya adalah generasi muda. Dalam sehari, toko ini bisa menjual hingga 10 piringan hitam, dengan harga mulai Rp 110.000 hingga Rp 1 juta.
Bukan Sekadar Nostalgia
Fenomena ini menunjukkan bahwa piringan hitam tak hanya hidup karena nostalgia, tetapi juga karena nilai artistik dan pengalaman mendengar musik yang lebih dalam. Desain klasik dari turntable juga menjadi daya tarik tersendiri bagi anak muda yang ingin menjadikan perangkat ini bagian dari gaya hidup.***