INVERSI.ID – Generasi Z atau Gen Z dikenal sebagai kelompok muda yang melek digital, kreatif, dan cepat beradaptasi. Namun, dalam hal pengelolaan keuangan, banyak dari mereka masih menghadapi tantangan. Dyah Setyaningrum, associate professor Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), mengungkapkan bahwa ada empat tipe kepribadian finansial Gen Z yang penting untuk dipahami agar dapat mengelola uang secara lebih realistis dan berkelanjutan.
Menurut Dyah, pendekatan berbasis kepribadian ini bisa membantu Gen Z mengenali pola konsumsi mereka sendiri dan membentuk kebiasaan keuangan sehat.
“Melalui refleksi sederhana dan perencanaan, mahasiswa atau generasi muda bisa belajar mengatur keuangan dengan cara yang lebih personal dan tidak membosankan,” ujarnya, Senin (7/7).
Dyah juga mengingatkan bahwa literasi keuangan Gen Z di Indonesia masih memiliki gap. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat literasi keuangan Gen Z tercatat 65,43 persen, sementara tingkat inklusi keuangan mereka sudah mencapai 75,02 persen. Artinya, banyak dari mereka sudah menggunakan produk keuangan, tetapi belum sepenuhnya memahami cara mengelolanya dengan baik.
Kenali 4 Tipe Kepribadian Finansial Gen Z
Dyah memaparkan empat tipe kepribadian finansial yang umum dijumpai pada Gen Z, lengkap dengan ciri-ciri khas masing-masing.
1. Budgeting Master: Teliti dan Terkendali
Tipe pertama adalah budgeting master, yakni mereka yang teliti dalam mencatat setiap pengeluaran, selalu membuat anggaran, dan berusaha menjaga keseimbangan keuangan. Tipe ini sangat cocok dijadikan contoh karena memiliki kemampuan mengendalikan diri dan berpikir jangka panjang.
“Orang dengan tipe budgeting master unggul dalam merencanakan kebutuhan, jarang tergoda belanja impulsif, dan mampu memprioritaskan tabungan atau investasi,” jelas Dyah.
Meski begitu, tantangan bagi tipe ini adalah terlalu kaku dalam pengeluaran hingga lupa menikmati hidup sesekali.
2. Cash Splasher: Spontan dan Impulsif
Berbeda jauh dengan budgeting master, cash splasher justru lebih spontan. Mereka sering kali lebih mementingkan pengalaman sesaat daripada perencanaan masa depan. Tipe ini gemar belanja tanpa rencana, seperti membeli barang diskon yang tidak benar-benar diperlukan atau ikut hangout tanpa memperhitungkan sisa uang.
“Cash splasher harus lebih disiplin dan belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kalau tidak, keuangan mereka rentan bermasalah,” kata Dyah.
3. Trendy Spender: Mengutamakan Gaya Hidup
Tipe ketiga adalah trendy spender, yakni mereka yang rela mengorbankan stabilitas keuangan demi mengikuti tren. Bagi mereka, penampilan atau barang branded menjadi prioritas utama untuk meningkatkan citra diri, meski kadang harus berutang atau menghabiskan tabungan.
Menurut Dyah, tipe ini perlu lebih sadar risiko jangka panjang dan mulai belajar membatasi gaya hidup demi masa depan keuangan yang lebih sehat.
4. Independent Investor: Berorientasi Jangka Panjang
Tipe keempat, independent investor, cenderung visioner. Mereka sudah terbiasa memilih instrumen investasi, memprioritaskan kualitas aset yang dibeli, dan mempertimbangkan dampak keuangan jangka panjang. Meski jumlahnya belum banyak di kalangan Gen Z, tipe ini menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia mulai sadar pentingnya investasi sejak dini.
“Dengan pola pikir seperti ini, mereka lebih siap menghadapi kondisi ekonomi tak terduga dan bisa mencapai kebebasan finansial lebih cepat,” tambahnya.
Tips Praktis untuk Mengatur Keuangan Gen Z
Dyah memberikan tips sederhana agar Gen Z dapat mulai mengelola keuangan lebih baik. Salah satunya adalah menerapkan rumus 50:30:20, yakni 50 persen pendapatan untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk keinginan, dan 20 persen untuk tabungan atau investasi.
Selain itu, Dyah menyarankan agar setiap orang rutin melakukan refleksi kecil sebelum membeli sesuatu, misalnya dengan bertanya pada diri sendiri, “Apakah ini benar-benar saya butuhkan atau hanya saya inginkan?”
Langkah-langkah ini bisa membantu siapa pun, termasuk tipe cash splasher dan trendy spender, untuk lebih bijak mengatur uang tanpa merasa tertekan.
Jembatan Antara Literasi dan Inklusi Keuangan
Meski inklusi keuangan Gen Z sudah tinggi, kesenjangan dengan literasi masih menjadi masalah. Banyak yang sudah punya akun bank, e-wallet, bahkan mencoba investasi, tetapi tidak semuanya memahami cara mengoptimalkannya.
“Pendekatan berbasis kepribadian ini hadir untuk menjembatani gap tersebut dengan cara yang lebih kreatif dan menyenangkan,” ucap Dyah.
Dengan mengenali tipe kepribadian, generasi muda bisa menentukan strategi yang paling cocok untuk mereka masing-masing.
Saatnya Gen Z Lebih Cerdas Mengatur Uang
Mengenali kepribadian finansial adalah langkah awal penting untuk membentuk kebiasaan keuangan sehat. Gen Z diharapkan bisa mulai lebih sadar dalam mengelola uang, tidak hanya sekadar ikut-ikutan tren atau menikmati momen sesaat, tetapi juga menyiapkan masa depan.
Dengan literasi keuangan yang lebih baik, mereka bisa menjadi generasi yang cerdas, produktif, dan tangguh secara finansial. Tentu saja, peran keluarga, kampus, dan lembaga keuangan juga penting dalam memberikan edukasi yang tepat dan mudah dipahami.
“Jangan takut untuk belajar dari kesalahan keuangan, karena dari situlah kita bisa jadi lebih baik,” tutup Dyah.***