INVERSI.ID – SMAN 2 Lembang menggelar perayaan Dies Natalis ke-8 dengan penuh semarak sekaligus menandatangani nota kesepahaman (MoU) bersama Debsirinromklao School Thailand. Acara berlangsung pada Kamis (21/8/2025) di Jalan Maribaya No. 68, Desa Langensari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
Perayaan Dies Natalis ini bukan hanya menjadi ajang selebrasi, melainkan juga momentum penting bagi SMAN 2 Lembang untuk memperkuat citra sekolah sebagai institusi pendidikan yang unggul, terbuka, dan siap bersaing secara global. Dengan adanya kerja sama internasional ini, SMAN 2 Lembang ingin menunjukkan bahwa sekolah di daerah pun mampu menghadirkan program pendidikan bertaraf internasional.
Langkah besar ini menegaskan bahwa SMAN 2 Lembang terus berbenah, tidak hanya dalam bidang akademik tetapi juga penguatan karakter, toleransi, dan kearifan lokal. Sinergi dengan sekolah dari luar negeri menjadi bukti nyata bahwa visi sekolah untuk menjadi unggul, religius, dan berbudaya mulai terealisasi.
Evaluasi dan Harapan ke Depan
Kepala SMAN 2 Lembang, Ernawati, M.Pd., menyampaikan bahwa Dies Natalis ke-8 adalah momentum untuk mengevaluasi diri serta merancang strategi pendidikan ke depan.
“Termasuk program-program yang diperkenalkan kepada seluruh warga SMAN 2 Lembang. Kami juga sekolah bungsu di Kabupaten Bandung Barat, jadi sedang menggeliat untuk selalu berbuat baik dengan banyak berkontribusi dalam dunia pendidikan,” jelasnya.
Ernawati menambahkan, sekolah yang dipimpinnya mengimplementasikan berbagai program dari Dinas Pendidikan Jawa Barat dan Kemendikdasmen. Salah satunya adalah penguatan karakter melalui lima pilar Pancawaluya, bageur, bener, pinter, cageur, singer, serta tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
“Target ke depan, kami berharap agar lima pilar Pancawaluya melebur dengan seluruh warga SMAN 2 Lembang. Itu sesuatu yang luar biasa dan bahkan diapresiasi oleh tamu dari Thailand,” kata Erna.
Toleransi dan Keberagaman yang Menjadi Ciri Khas
Salah satu kekuatan SMAN 2 Lembang adalah toleransi yang tinggi di antara siswanya. Meski terdapat siswa dengan keyakinan berbeda, semua tetap berbaur dan aktif dalam kegiatan sekolah. Bahkan dalam perayaan Dies Natalis kali ini, siswa dengan latar belakang kepercayaan berbeda tetap tampil bersama teman-temannya di panggung hiburan.
Tercatat, ada lebih dari 12 siswa yang memeluk kepercayaan di luar lima agama resmi di Indonesia. Namun, tidak ada perlakuan diskriminatif. Semua tetap belajar, bercanda, dan berkarya bersama-sama.
Selain itu, latar belakang budaya lokal masyarakat sekitar juga memperkaya pembelajaran. Banyak orang tua siswa yang berprofesi sebagai petani dan peternak sapi. Dari situ, sekolah rutin mengadakan kegiatan belajar di kebun dan peternakan sebagai bagian dari penguatan kearifan lokal.
Tema “Eightopia – Where Dreams Reside”
Ketua panitia Dies Natalis ke-8, Siti Khodijah, S.Pd., menjelaskan bahwa tema yang diangkat tahun ini adalah “Eightopia – Where Dreams Reside”.
“Makna dari tema ini adalah mimpi dan harapan siswa yang bisa dibawa dalam kehidupannya. Where Dreams Reside berarti tempat di mana sebuah mimpi bermula dan diwujudkan di SMAN 2 Lembang,” terang Siti.
Ia berharap perayaan Dies Natalis ke depan akan semakin baik, mampu memberikan inspirasi, serta mendukung visi sekolah: membentuk insan akademis yang religius, unggul, kompetitif, berbudaya, dan berwawasan lingkungan.
Kreativitas Siswa Jadi Sorotan
Ketua OSIS SMAN 2 Lembang, Nazwa Fauziah, siswi kelas XII, menjelaskan bahwa lebih dari 900 siswa ikut ambil bagian dalam rangkaian acara. Sesuai arahan Dinas Pendidikan Jawa Barat, acara digelar sederhana tanpa mengundang artis, melainkan fokus pada eksplorasi karya seni siswa.
Karya yang ditampilkan meliputi tarik suara, musik, tari tradisional, karawitan, hingga fashion show dengan sentuhan budaya lokal. Setiap kelas mengirimkan minimal dua siswa untuk ikut serta dalam pertunjukan.
“Alhamdulillah, ini acara ke-8 yang diselenggarakan. Saya bangga karena SMAN 2 Lembang bertahan dengan keunggulannya. Lebih senang lagi karena ada tamu dari Thailand, sehingga kami bisa belajar banyak budaya,” ungkap Nazwa.
Program Sister School dengan Thailand
Wakil Kepala Sekolah bidang Humas, Dulhamin Arif, S.Pd., menjelaskan bahwa kerja sama dengan Debsirinromklao School Thailand sudah berjalan sejak 2023. Namun pada 2025, fokus kerja sama diarahkan pada level SMA.
MoU yang ditandatangani kali ini mencakup enam bidang utama: kolaborasi akademik, pertukaran guru, pertukaran siswa, pertukaran budaya, penelitian bersama, dan pelatihan. Total ada 34 perwakilan Thailand yang hadir, termasuk kepala sekolah, 12 guru, dan 21 siswa.
“Kami selalu memilih momen 17 Agustus untuk menyambut tamu dari Thailand, karena mereka sangat menyukai suasana Hari Kemerdekaan Indonesia,” jelas Arif.
Pengalaman Siswa dalam Pertukaran Budaya
Dina Melawati, siswi kelas XII sekaligus host Sister School, mengaku senang bisa berinteraksi dengan siswa Thailand.
“Tidak ada kendala besar, hanya bahasa saja. Mereka sangat welcome. Bahkan menampilkan tarian khas Thailand,” kata Dina.
Dina sendiri pernah berangkat ke Thailand dalam program pertukaran sebelumnya. Menurutnya, budaya disiplin dan etos belajar siswa di Thailand menjadi pengalaman berharga yang dibawanya pulang ke Indonesia.
Apresiasi dari Thailand
Koordinator Sister School, Mr. Charat Traiboon, mengaku sangat terkesan dengan sambutan SMAN 2 Lembang.
“Ini yang ketiga kalinya kami datang. Kami merasa sangat diterima. Meski berbeda agama dan budaya, toleransi di Indonesia sangat tinggi,” ungkapnya.
Sementara Kepala Debsirinromklao School Thailand, Dr. Wirachai BoonYou, berharap kerja sama ini bisa terus berlanjut.
“Kami merasa terhormat datang ke sini. Semoga pertukaran pendidikan terus berlanjut karena saling melengkapi. Kami pun akan berbagi pengalaman mengajar dan budaya Thailand kepada siswa SMAN 2 Lembang,” ujarnya.
Sebagai penutup kunjungan, para guru Thailand dijadwalkan mengajar di lima kelas untuk mengenalkan budaya, makanan, dan sistem pendidikan mereka.
Perayaan Dies Natalis ke-8 SMAN 2 Lembang bukan sekadar seremoni, melainkan momentum penting untuk menunjukkan jati diri sekolah sebagai lembaga yang inklusif, berbudaya, dan berorientasi global. Kerja sama dengan sekolah internasional dari Thailand menjadi langkah strategis untuk memperluas wawasan siswa sekaligus memperkuat branding sekolah.
Toleransi, kreativitas, serta penguatan karakter melalui Pancawaluya menjadi fondasi yang membuat SMAN 2 Lembang berbeda. Dengan dukungan guru, siswa, dan kerja sama internasional, sekolah ini siap melahirkan generasi muda yang cerdas, berdaya saing, dan berwawasan global.