INVERSI.ID – Falling Walls Lab Indonesia 2025 resmi digelar di Petra Christian University (PCU) Surabaya dan berhasil melahirkan ide-ide brilian hanya dalam waktu tiga menit. Ajang internasional bergengsi ini mempertemukan 20 finalis terbaik dari berbagai disiplin ilmu untuk mempresentasikan gagasan visioner yang diyakini mampu membawa perubahan besar bagi masa depan dunia.
Sebagai ajang ilmiah bergengsi, Falling Walls Lab Indonesia 2025 juga menjadi bukti nyata bahwa generasi muda Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk menembus batas inovasi. Para finalis tak hanya datang dari bidang sains dan teknologi, tetapi juga ilmu sosial, kedokteran, hingga inovasi berkelanjutan yang relevan dengan isu global. Dengan format tiga menit, mereka ditantang menyampaikan gagasan yang kompleks secara singkat, jelas, dan berdampak.
Tak hanya sekadar kompetisi, Falling Walls Lab Indonesia 2025 menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas disiplin. Ide-ide yang lahir dari acara ini mencerminkan kepedulian anak muda terhadap isu sosial, lingkungan, dan kesehatan, sekaligus menegaskan posisi Surabaya sebagai pusat inovasi akademik yang semakin diperhitungkan di tingkat internasional.
Surabaya Jadi Pusat Inovasi Akademik
Rektor PCU, Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng., menyampaikan bahwa penyelenggaraan Falling Walls Lab Indonesia kedua kalinya di Surabaya adalah bukti konsistensi kampus dalam membekali mahasiswa dengan future skills. Menurutnya, kemampuan komunikasi menjadi aspek penting yang diuji dalam kompetisi ini.
“Kami menekankan pentingnya kemampuan menyampaikan ide-ide kompleks secara singkat, jelas, dan berdampak. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya berpikir kritis tetapi juga mampu memengaruhi publik. Hal ini sekaligus menegaskan posisi Surabaya sebagai pusat inovasi akademik di Indonesia,” ujar Djwantoro dalam sambutannya, Jumat (22/8/2025).
Format FWL yang unik membuat para finalis ditantang untuk menyampaikan ide hanya dengan tiga menit dan tiga slide. Tekanan waktu ini menguji seberapa matang gagasan mereka serta kemampuan menyajikannya secara menarik di depan dewan juri.
Inovasi Terbaik Lahir dari Anak Muda
Kompetisi Falling Walls Lab tahun ini menghadirkan ide-ide terobosan dari berbagai bidang, mulai dari sains, teknologi, rekayasa, sosial, hingga kedokteran. Hasilnya, tiga peserta berhasil keluar sebagai juara dan mencuri perhatian dewan juri.
Juara pertama diraih oleh Fadhilah Trya Wulandari dengan proyek Breaking the Wall of Climate Injustice for People with Disabilities. Ide ini dipuji karena orisinal, jelas, dan berpotensi membawa transformasi besar dalam isu perubahan iklim, terutama bagi kelompok disabilitas.
Posisi kedua ditempati Alfred Susanto melalui gagasan Breaking the Wall of Unrecyclable Plastics, yang menyoroti solusi limbah plastik tak terurai. Sedangkan juara ketiga jatuh kepada Resda Syahrani lewat inovasinya Breaking the Wall of Breast Cancer Treatment, yang mengusulkan pendekatan baru dalam pengobatan kanker payudara.
Indonesia Melaju ke Berlin
Sebagai juara pertama, Fadhilah akan mewakili Indonesia pada Global Finale Falling Walls Lab di Berlin, Jerman, pada 6 November 2025. Ia akan bersaing dengan para inovator muda terbaik dunia di hadapan juri internasional bergengsi.
Kemenangan ini bukan hanya prestasi pribadi, tetapi juga membawa nama Indonesia ke panggung global. Dengan isu yang relevan dan humanis, Fadhilah berpotensi besar mencuri perhatian dunia internasional.
Kolaborasi Internasional dan Dukungan DAAD
Direktur DAAD Regional Office Jakarta, Dr. Guido Schnieders, menyampaikan apresiasi tinggi atas kolaborasi erat dengan PCU dalam menyukseskan acara ini. Menurutnya, Falling Walls Lab Indonesia adalah bukti bahwa sains, teknologi, dan pemikiran visioner mampu melampaui batas serta menyatukan orang dari berbagai latar belakang.
“Kesuksesan ini membuktikan bahwa kerja sama internasional sangat penting. Inovasi lahir dari kolaborasi, bukan hanya dari satu individu,” ujarnya.
PCU bersama DAAD dan mitra internasional lainnya berharap FWL Indonesia terus berlanjut sebagai wadah bagi lahirnya ide-ide transformasional dari generasi muda Indonesia.
Surabaya, Panggung Kreativitas Akademik
Penyelenggaraan Falling Walls Lab Indonesia 2025 juga memperkuat branding Surabaya sebagai kota akademik sekaligus pusat inovasi. Sebagai kota besar kedua setelah Jakarta, Surabaya memiliki ekosistem pendidikan yang berkembang pesat, sehingga mampu menarik acara internasional bergengsi semacam ini.
Selain itu, keterlibatan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi menunjukkan bahwa ajang ini bukan hanya milik satu kampus, tetapi milik seluruh anak muda Indonesia yang ingin menunjukkan kontribusinya bagi dunia.
Pesan untuk Generasi Muda
Kesuksesan Falling Walls Lab Indonesia 2025 memberikan inspirasi bagi generasi muda untuk terus berani bermimpi besar dan membawa ide mereka ke panggung internasional. Format tiga menit mungkin singkat, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa ide sederhana bisa berdampak besar bila dieksekusi dengan baik.
Para finalis membuktikan bahwa inovasi tidak harus menunggu usia matang atau modal besar. Dengan kreativitas, kepedulian, dan tekad kuat, anak muda bisa menghadirkan solusi nyata atas tantangan global.
Falling Walls Lab Indonesia 2025 di Petra Christian University Surabaya berhasil melahirkan gagasan visioner dari para inovator muda hanya dalam waktu tiga menit. Dari 20 finalis, tiga terbaik berhasil membawa pulang gelar prestisius, dengan Fadhilah Trya Wulandari menjadi wakil Indonesia di Berlin.
Lebih dari sekadar kompetisi, FWL Indonesia menegaskan bahwa kolaborasi akademik internasional penting untuk membuka jalan generasi muda menuju panggung global. Surabaya pun semakin mantap menjadi pusat inovasi akademik di Indonesia, tempat di mana ide-ide brilian lahir untuk mengubah dunia.