INVERSI.ID – Kreativitas arek Gresik kembali membuktikan diri dengan menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional. Sejumlah film pendek karya komunitas film lokal, seperti Gresik Movie, Fonemik, dan Nyala Jingga Production, resmi terpilih untuk diputar di ajang bergengsi Indonesia Western Australia Film Festival (IWAFF) 2025 yang akan berlangsung di Perth dan Fremantle, Australia.
Ajang internasional ini menjadi bukti nyata bagaimana kreativitas arek Gresik tak bisa dipandang sebelah mata. Meski lahir dari kota industri yang identik dengan pabrik dan pelabuhan, para sineas muda arek Gresik mampu menghadirkan karya film berkualitas yang mendapat pengakuan dunia.
Lebih jauh, prestasi ini juga menegaskan bahwa kreativitas arek Gresik bukan sekadar wacana, melainkan sebuah gerakan nyata yang berangkat dari komunitas kecil dengan semangat besar untuk mengenalkan budaya dan cerita lokal ke panggung global.
Film Gresik yang Menyentuh Dunia
Dari komunitas Gresik Movie, dua film andalan yang akan tampil di IWAFF 2025 adalah Gemintang (2021) dan Salah Melihat Jalan Surga (2019). Keduanya disutradarai oleh Irfan Akbar Prawiro, yang juga menjadi penulis naskah.
Menurut Irfan, film-film tersebut tidak hanya menyuguhkan hiburan semata, tetapi juga membawa pesan sosial dan spiritual.
“Kami berharap karya ini menjadi cara lain memperkenalkan Gresik dan Jawa Timur ke kancah internasional. Film Gemintang sendiri sebelumnya telah berhasil membawa kami ke Festival Film Cannes di Prancis,” ujarnya.
Fakta bahwa film asal Gresik bisa menembus Cannes hingga kini diputar di Australia menjadi bukti bahwa kualitas sinema lokal sebenarnya mampu bersaing di level dunia. Tinggal bagaimana dukungan ekosistemnya dibangun lebih kokoh.
Tantangan Sineas Muda Gresik
Meski membanggakan, jalan yang dilalui para sineas muda ini tidaklah mulus. Dukungan pemerintah dan fasilitas produksi masih menjadi tantangan utama. Irfan Akbar menekankan pentingnya perhatian dari berbagai pihak.
“Promosi Gresik tidak harus selalu dengan mengundang bule datang ke sini, tetapi juga bisa lewat karya kita yang diputar di luar negeri,” tambahnya.
Hal serupa diungkapkan Dicky Firmanzah dari komunitas Fonemik, yang berhasil meloloskan tiga film sekaligus di ajang IWAFF 2025. Ia mengaku bangga, tetapi di sisi lain terbebani biaya perjalanan ke Australia.
“Biaya untuk berangkat ke Australia cukup mahal dan sepertinya tidak ada anggaran untuk memberangkatkan kami,” ungkapnya.
Dari Nyala Jingga Production, film Cahaya juga berhasil menembus festival. Namun, Vicky Firmansyah sebagai pembimbing mengakui bahwa kendala utama mereka ada pada minimnya fasilitas produksi.
“Kalau ingin bikin film, biasanya harus merogoh kocek pribadi yang biayanya tidak sedikit. Saat ini, kami belum punya peralatan lengkap,” katanya.
Minim Dukungan, Namun Tetap Berprestasi
Kisah para sineas arek Gresik ini memperlihatkan bagaimana anak muda mampu berkreasi di tengah keterbatasan. Tidak adanya peralatan lengkap, biaya produksi tinggi, hingga sulitnya mendapatkan fasilitas publik seperti Gedung Nasional Indonesia (GNI) untuk pemutaran film, menjadi hambatan nyata.
Meski begitu, semangat untuk berkarya tetap menyala.
“Harapan saya, setidaknya ada kemudahan peminjaman fasilitas. Itu sudah sangat membantu kami berkembang, sehingga anak-anak bisa lebih fokus ke karya,” pungkas Vicky.
Fenomena ini menunjukkan bahwa prestasi besar bisa lahir dari ruang yang kecil. Keterbatasan bukan halangan, asalkan ada tekad kuat. Namun, tetap saja, tanpa dukungan nyata dari pemerintah maupun swasta, potensi besar ini bisa terhambat berkembang lebih jauh.
Gresik: Kota Industri, Kota Kreativitas
Selama ini, Gresik dikenal sebagai kota industri dengan berbagai pabrik besar yang beroperasi di sana. Namun, prestasi ini membuktikan bahwa arek Gresik juga punya potensi besar dalam bidang kreatif, khususnya perfilman.
Kehadiran komunitas-komunitas film seperti Gresik Movie, Fonemik, dan Nyala Jingga Production menjadi wajah baru Gresik yang berbeda dari stereotype kota industri. Mereka adalah bukti nyata bahwa kreativitas bisa tumbuh di mana saja, bahkan di tengah kerasnya suasana kota pelabuhan.
Bagi anak muda, cerita ini bisa jadi inspirasi bahwa peluang berkarya tidak selalu harus menunggu fasilitas lengkap atau dukungan besar. Kreativitas bisa lahir dari komunitas kecil dengan tekad kuat.
Harapan untuk Masa Depan Perfilman Lokal
Kesuksesan menembus IWAFF 2025 di Australia seharusnya menjadi momentum bagi sineas muda Gresik untuk mendapatkan perhatian lebih. Dukungan berupa peralatan, pendanaan, hingga akses jaringan internasional perlu diperkuat agar prestasi ini tidak berhenti di satu titik.
Selain itu, perlu ada program berkelanjutan dari pemerintah daerah untuk mengembangkan potensi industri kreatif di Gresik. Misalnya, memberikan dana hibah untuk komunitas film, membuka akses pelatihan bersama sineas nasional, atau bahkan menghadirkan festival film lokal yang bisa menjadi wadah regenerasi.
Tidak kalah penting, kolaborasi dengan pihak swasta juga bisa membuka peluang lebih besar. Perusahaan-perusahaan besar di Gresik bisa menjadikan dukungan terhadap komunitas film sebagai bagian dari program CSR mereka.
Kisah kreativitas arek Gresik yang berhasil menembus festival film internasional adalah bukti nyata bahwa potensi anak muda Indonesia sangat besar. Meski terbatas fasilitas dan dana, semangat berkarya tetap menyala.
Festival IWAFF 2025 di Australia bukan hanya sekadar ajang pemutaran film, melainkan jendela untuk mengenalkan budaya, kisah lokal, dan semangat arek Gresik ke dunia internasional.
Dengan dukungan yang tepat, bukan tidak mungkin suatu hari nanti Gresik akan dikenal bukan hanya sebagai kota industri, tetapi juga sebagai salah satu pusat kreativitas perfilman di Indonesia.