By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Work From Coffee Shop, Tren Kerja Anak Muda yang Jadi Gaya Hidup Baru
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Work From Coffee Shop, Tren Kerja Anak Muda yang Jadi Gaya Hidup Baru

LifeStyle

Work From Coffee Shop, Tren Kerja Anak Muda yang Jadi Gaya Hidup Baru

Jack
By
Jack
9 months ago
Share
8 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Work from coffee shop kini bukan lagi sekadar ajakan minum kopi bareng teman. Fenomena ini menjelma menjadi tren baru di kalangan anak muda, terutama mereka yang tinggal di perkotaan. Coffee shop atau kafe kini tak hanya dipandang sebagai tempat nongkrong, tetapi juga ruang kerja alternatif yang memberi suasana berbeda dibandingkan kantor formal atau rumah.

Contents
Dari Nongkrong Jadi Ruang Kerja AlternatifFaktor Pendorong Populernya WFCBiaya yang Jadi TantanganCocok untuk Siapa?Perubahan Budaya Kerja Anak MudaAntara Produktivitas dan KonsumsiMasa Depan WFC di Indonesia

Bagi sebagian pekerja, work from coffee shop menawarkan fleksibilitas dan suasana yang lebih hidup. Suara musik, aroma kopi, hingga kesempatan bertemu orang baru menciptakan energi tersendiri untuk menyelesaikan pekerjaan. Tak heran jika semakin banyak generasi muda yang memilih membuka laptop, mengerjakan laporan, atau bahkan mengadakan rapat informal di kafe.

Fenomena work from coffee shop juga sejalan dengan pola kerja generasi saat ini yang lebih cair, dinamis, dan tidak terikat ruang kantor. Anak muda urban cenderung mencari ruang yang tidak kaku, di mana nongkrong, bekerja, dan networking bisa bercampur menjadi satu.

Dari Nongkrong Jadi Ruang Kerja Alternatif

Dulu, istilah ngopi identik dengan nongkrong di warung kopi sederhana. Namun, maknanya kini bergeser.

“Kalau dulu ngopi kan ya ibaratnya nongkrong di warkop. Sekarang, ngopi tuh sambil buka laptop, kerja santai lah,” kata Faiz (27), karyawan swasta yang rutin WFC, saat berbincang dengan inilah.com di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (19/9/2025).

Menurut Faiz, work from coffee shop membuatnya merasa lebih produktif.

“WFC gini tuh kalau saya sih berasa lebih produktif, jadi semangat karena suasananya hidup. Terus juga orang-orang yang ke sini banyak dari kalangan beda-beda. Kadang suka sharing kalau tiba-tiba lagi stuck sama kerjaan,” tambahnya.

Fenomena work from coffee shop bahkan melahirkan istilah baru, yaitu coworking coffee. Sebuah konsep di mana nongkrong, kerja, dan networking bercampur dalam satu ruang. Coffee shop yang dulunya hanya menyediakan kursi dan meja kini mulai menyesuaikan diri dengan kebutuhan baru anak muda, misalnya dengan menyediakan colokan listrik di setiap meja, internet berkecepatan tinggi, hingga ruang semi-privat untuk rapat.

Faktor Pendorong Populernya WFC

Ada beberapa faktor yang membuat tren ini cepat berkembang:

Baca Juga :

Zodiak & Energi Positif yang Bikin Anak Muda Makin Peka Sama Diri Sendiri!
Target Pasang Listrik Baru 2023 Naik, Ini Strategi Kementerian ESDM
  1. Akses internet cepat
    Banyak coffee shop kini menawarkan Wi-Fi dengan kecepatan tinggi, sehingga pekerja bisa tetap produktif di luar kantor.
  2. Suasana lebih hidup
    Bagi sebagian anak muda, bekerja di ruang yang ramai justru memberikan energi. Musik, percakapan, hingga aroma kopi menciptakan atmosfer yang berbeda dari kantor formal.
  3. Networking
    Bekerja di kafe membuka peluang bertemu orang baru dari berbagai latar belakang. Interaksi ini kadang bisa memunculkan ide segar atau bahkan peluang kerja sama.
  4. Fleksibilitas waktu
    Tidak terikat jam kantor membuat pekerja leluasa memilih kapan dan di mana mereka ingin menyelesaikan tugas.

Biaya yang Jadi Tantangan

Meski terkesan menyenangkan, work from coffee shop juga menimbulkan tantangan baru. Salah satunya adalah soal biaya. Untuk bisa bekerja seharian di kafe, seseorang biasanya harus membeli makanan atau minuman dengan harga sekitar Rp30 ribu hingga Rp50 ribu. Jika dilakukan setiap hari, tentu angka ini akan membengkak.

“Bagi yang punya gaji pas-pasan, WFC bisa jadi beban. Bayangin kalau sebulan 20 hari kerja, berarti bisa keluar lebih dari Rp1 juta hanya buat kopi dan tempat duduk,” ujar Rani (25), pekerja lepas yang sesekali memilih WFC.

Kondisi ini menciptakan kesenjangan akses. Hanya mereka yang mampu mengalokasikan budget lebih yang bisa menikmati kenyamanan bekerja di coffee shop. Sementara sebagian lainnya tetap harus bertahan bekerja dari rumah atau kantor formal.


Cocok untuk Siapa?

Fenomena work from coffee shop memang terlihat keren, tetapi belum tentu cocok untuk semua orang. Gangguan suara, musik yang terlalu keras, hingga obrolan pengunjung lain bisa menjadi distraksi serius.

“Kalau sering WFC, kadang mending ke kantor ketemu orang yang sudah kenal dan ‘berhuru-hara’ bareng mereka. Kerjaan jelas, deadline jelas, produktivitas jelas, orangnya juga jelas,” kata Boy, seorang pengguna X yang membagikan pengalamannya di media sosial.

Selain itu, tidak semua coffee shop didesain untuk pekerja. Ada kafe yang kursinya kurang ergonomis, pencahayaannya redup, atau justru melarang pengunjung berlama-lama dengan laptop. Hal ini membuat pengalaman WFC bisa sangat bervariasi tergantung lokasi yang dipilih.

Perubahan Budaya Kerja Anak Muda

Meski punya sisi positif dan negatif, WFC tetap merefleksikan perubahan budaya kerja generasi muda urban. Mereka tidak lagi memandang kantor sebagai satu-satunya ruang produktif. Kafe, coworking space, bahkan perpustakaan bisa menjadi alternatif yang sah untuk bekerja.

Tren ini juga sejalan dengan pola kerja fleksibel yang mulai diadopsi banyak perusahaan pascapandemi. Dengan sistem hybrid, pekerja diberi keleluasaan memilih di mana mereka bisa menyelesaikan tugas. Coffee shop pun menjadi pilihan karena menawarkan kombinasi antara kenyamanan dan suasana sosial.

Antara Produktivitas dan Konsumsi

Namun, muncul pertanyaan penting: apakah work from coffee shop benar-benar meningkatkan produktivitas, atau sekadar menggeser kantor ke ruang konsumsi?

Beberapa pekerja mengaku lebih fokus di kafe karena suasananya mendorong mereka untuk menyelesaikan pekerjaan lebih cepat. Namun, tidak sedikit pula yang justru terganggu oleh keramaian. Di sisi lain, tren ini jelas menguntungkan industri coffee shop karena omzet mereka meningkat seiring menjamurnya pekerja WFC.

Dengan kata lain, fenomena ini juga mencerminkan bagaimana gaya hidup anak muda urban semakin erat kaitannya dengan konsumsi. Bekerja di kafe bukan hanya soal produktivitas, tetapi juga identitas, gaya hidup, dan bahkan prestise sosial.


Masa Depan WFC di Indonesia

Melihat tren yang terus berkembang, tidak menutup kemungkinan konsep work from coffee shop akan semakin melekat di kehidupan anak muda. Beberapa coffee shop bahkan mulai bertransformasi menjadi coworking café dengan menyediakan paket membership, ruang rapat, hingga fasilitas kantor mini.

Jika ke depan tren ini semakin besar, bisa saja WFC menjadi bagian permanen dari ekosistem kerja di Indonesia. Anak muda tidak hanya punya kantor sebagai tempat kerja, tetapi juga kafe, coworking space, atau bahkan ruang publik lain yang ramah untuk laptop dan diskusi.

Fenomena work from coffee shop menggambarkan pergeseran budaya kerja generasi muda urban yang lebih fleksibel, cair, dan interaktif. Bekerja di kafe bukan lagi sekadar gaya hidup, tetapi sudah menjadi bagian dari cara anak muda memaknai produktivitas.

Meski menuntut biaya tambahan dan tidak selalu cocok untuk semua orang, tren ini tetap menjadi simbol perubahan besar dalam dunia kerja modern. Di balik secangkir kopi, ada cerita tentang semangat, jejaring, dan kebebasan generasi muda dalam menentukan ruang kerja mereka sendiri.

You Might Also Like

Target Wisman Naik Tajam, Kemenpar Optimistis Indonesia Dikunjungi 19,1 Juta Turis Asing pada 2027
Bandara Soekarno-Hatta Tambah Rute Baru ke Tiongkok, Spring Airlines Resmi Terbang ke Jakarta
Pamer Liburan, Tapi Keluhkan Pertamax? Fenomena yang Memicu Perdebatan di Medsos
Harga Avtur Melonjak, Kemenpar dan Kemenhub Cari Cara Jaga Tiket Pesawat Tetap Terjangkau
Tak Hanya Bali, Kemenpar Genjot 10 Destinasi Prioritas untuk Tarik Wisatawan Mancanegara
TAGGED:trenwork from coffee shop
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Kreativitas Arek Gresik Tembus Festival Film Internasional di Australia
Next Article September Kata buat Kamu Vibes Positif Buat Gen Z: Kata Bijak yang Totally Worth It untuk #HidupGaulAntiGalau
1 Comment
  • Pingback: Garuda Spark Innovation Hub Resmi Dibuka untuk Anak Muda

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Travel

Beda dengan Wisata Kuliner, Gastronomi Tawarkan Cerita dan Warisan Budaya Nusantara

2 weeks ago
Travel

Tak Mau Tertinggal dari Vietnam, Indonesia Siapkan Jurus Baru Dongkrak Pariwisata

2 weeks ago
Travel

Instalasi Sunflower Angel Jadi Magnet Baru di Candi Prambanan, Pengunjung Membludak

2 weeks ago
Travel

Libur Panjang Idul Adha 2026, KAI Layani Lebih dari 1,2 Juta Penumpang

4 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index