Halo Inversi! Ternyata, jadi siswa madrasah nggak cuma soal ngaji dan pelajaran agama aja, lho! Buktinya, lewat Jakarta International Science Fair (JISF) 2025, para pelajar madrasah dari seluruh Indonesia berhasil unjuk gigi di ajang sains internasional yang berlangsung megah di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Acara yang dihadiri oleh Kepala Kemenag Kota Jakarta Utara, Mawardi Abdul Gani, ini bukan sekadar lomba, tapi wadah kolaborasi anak muda lintas negara buat menunjukkan kalau generasi madrasah juga bisa berinovasi dan berkompetisi di panggung dunia.
Madrasah Mendunia Lewat Sains dan Teknologi
JISF 2025 merupakan inisiatif keren dari Kanwil Kemenag Provinsi DKI Jakarta, yang bertujuan menguatkan budaya riset dan menumbuhkan kreativitas peserta didik di bidang sains dan teknologi. Dalam sambutannya, Mawardi Abdul Gani menegaskan bahwa ajang ini bukan cuma tentang kompetisi, tapi juga tentang membuka ruang bagi siswa madrasah agar bisa tampil di level internasional.
“Ajang ini sangat baik untuk membuka kesempatan bagi siswa madrasah berprestasi di tingkat dunia. Madrasah bukan lagi sekolah pinggiran, tapi pusat lahirnya inovator masa depan,” ungkap Mawardi penuh semangat.
Ia juga memberi pesan inspiratif kepada para peserta, khususnya mereka yang membawa pulang prestasi dari Jakarta Utara. “Jangan cepat puas! Teruslah belajar, teruslah berinovasi. Dunia menunggu karya terbaik kalian,” tambahnya.
Ilmu, Inovasi, dan Daya Saing Global
Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag DKI Jakarta, Adib, menyoroti pentingnya kemampuan sains dan teknologi di era global sekarang. Menurutnya, JISF bukan cuma ajang pamer karya, tapi juga langkah strategis buat meningkatkan daya saing generasi muda Indonesia di kancah dunia.
“Oleh karena itu, harus ada ruang yang mendorong lahirnya inovasi dan riset aplikatif dari pelajar kita,” kata Adib.
Menurutnya, di era Revolusi Industri 5.0 ini, anak muda perlu berpikir kreatif dan solutif — bukan cuma jadi pengguna teknologi, tapi juga penciptanya.
Kolaborasi Lintas Negara, Sains Tanpa Batas
Yang bikin bangga, JISF 2025 nggak cuma diikuti oleh siswa dari 134 lembaga di seluruh Indonesia, tapi juga peserta dari negara sahabat seperti Brunei Darussalam dan Malaysia. Kolaborasi lintas negara ini menunjukkan kalau ilmu pengetahuan itu universal — nggak ada batas bahasa, agama, atau budaya.
“JISF adalah ruang interaktif untuk berbagi ide, penelitian, dan inspirasi lintas budaya. Ini sejalan dengan semangat Indonesia Emas 2045, membangun generasi yang berani bermimpi besar,” tutur Adib.
JISF 2025 jadi bukti nyata bahwa anak muda Indonesia, khususnya dari madrasah, bisa bersaing di kancah global lewat ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari laboratorium kecil di sekolah hingga panggung dunia, mereka membuktikan bahwa inovasi bisa datang dari mana saja — bahkan dari ruang kelas madrasah yang penuh semangat belajar dan rasa ingin tahu tinggi.
Dengan semangat kolaborasi, kreativitas, dan kecintaan pada ilmu, JISF 2025 bukan sekadar pameran sains, tapi gerakan perubahan menuju masa depan Indonesia yang lebih cerdas, inovatif, dan mendunia.