INVERSI.ID – Generasi Z alias Gen Z, yang lahir antara tahun 1997 sampai 2012, lagi jadi sorotan di mana-mana. Mulai dari ruang kelas sampai ruang rapat pemerintahan, topik tentang Gen Z selalu muncul — entah soal gaya hidupnya, cara berpikirnya, sampai perannya dalam membentuk masa depan Indonesia.
Data dari Sensus Penduduk Indonesia 2025 menunjukkan, Gen Z mencakup sekitar 25,87% dari total populasi 270,20 juta jiwa. Artinya, ada sekitar 69,85 juta jiwa anak muda yang termasuk dalam kelompok ini. Jumlah yang gak main-main — dan cukup besar untuk menentukan arah masa depan sosial, ekonomi, bahkan politik negeri ini.
Karena itu, gak heran kalau pemerintah mulai gerak cepat dan berpikir strategis soal bagaimana mengoptimalkan potensi mereka. Salah satu yang udah ambil langkah konkret adalah Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi. Lewat kebijakan yang cukup berani, Eri mengalokasikan dana sebesar Rp5 juta per RW setiap bulan buat mendukung kegiatan anak muda Gen Z di wilayahnya. Tujuannya sederhana tapi bermakna besar: biar generasi muda bisa tumbuh, berkreasi, dan berkontribusi lewat kegiatan positif di lingkungan masing-masing.
“Jadi anak-anak Gen Z yang ada di setiap RW kita berikan anggaran Rp5 juta per bulannya di setiap RW. Sehingga anak-anak Gen Z bisa membuat kegiatan, apa masukannya, (nanti) bisa dikerjakan pemerintah kota Surabaya,” jelas Eri.
Kebijakan ini secara gak langsung jadi sinyal kuat bahwa pemerintah kota pengin lebih dekat dengan anak muda. Alih-alih cuma bikin program formalitas, Eri berusaha membuka ruang partisipasi nyata. Lewat dana ini, anak muda bisa bikin kegiatan yang relevan sama minat dan kebutuhan mereka — mulai dari workshop digital, kegiatan sosial, sampai proyek lingkungan berbasis komunitas.
Antusiasme dan Catatan Kritis dari Anak Muda
Langkah Pemkot Surabaya itu tentu gak lewat begitu aja tanpa perhatian. Salah satu yang langsung menanggapi adalah Ketua Gerakan Pemuda Surabaya, Mirza Akmal. Menurutnya, kebijakan ini adalah bentuk nyata perhatian pemerintah terhadap generasi muda.
“Saya mendukung penuh alokasi anggaran tersebut. Perhatian khusus Wali Kota ini harus kita sambut dengan baik. Begitu pula pelaksanaannya harus dikawal bersama agar tepat untuk teman-teman,” kata Mirza, Kamis (30/10).
Pernyataan Mirza mencerminkan semangat kolaborasi antara pemerintah dan komunitas anak muda. Namun, dia juga kasih peringatan yang cukup penting. Dalam pandangannya, kebijakan ini bisa jadi pedang bermata dua kalau gak dijalankan dengan transparan dan penuh tanggung jawab.
“Namun, camat sebagai pemegang anggaran juga nda boleh menahan-nahan anggaran itu. Jika memang teman-teman mengusulkan sesuatu maka wajib hukumnya direspons dengan baik. Begitu pula penggunaan anggaran tersebut harus diawasi secara ketat. Pasti banyak oknum yang matanya sudah berbinar-binar sekarang ini,” tegasnya.
Komentar Mirza ini cukup realistis. Dalam praktik birokrasi, sering kali niat baik bisa tersandung masalah klasik: proses berbelit, kurangnya koordinasi, dan potensi penyalahgunaan dana. Karena itu, Mirza menekankan pentingnya pengawasan bersama agar program ini gak cuma jadi wacana manis, tapi benar-benar memberi dampak nyata bagi anak muda di akar rumput.
Dia juga menambahkan, perlu ada komunikasi yang lebih terbuka antara perangkat pemerintah dan komunitas Gen Z.
“Alokasi anggaran ini bisa jadi pedang bermata dua kalau gak dikelola dengan baik dan transparan,” ujarnya.
Pemerintah daerah, menurut Mirza, perlu aktif memberikan sosialisasi agar setiap RW benar-benar tahu cara mengakses dan menggunakan dana tersebut secara tepat sasaran.
Dari Anggaran ke Aksi: Wadah Kreatif Gen Z untuk Bangun Komunitas
Kalau ditarik lebih luas, kebijakan ini sebenarnya punya potensi besar buat jadi model nasional. Banyak kota besar di Indonesia menghadapi tantangan serupa: gimana caranya bikin anak muda gak cuma sibuk di dunia digital, tapi juga aktif di dunia nyata.
Dengan dukungan anggaran tetap, anak-anak muda bisa punya wadah yang jelas untuk menyalurkan ide. Misalnya, bikin kegiatan pelatihan digital, kelas desain grafis, kegiatan kewirausahaan lokal, atau bahkan festival komunitas yang bisa ngangkat potensi UMKM di lingkungannya.
Bagi Gen Z, ruang partisipasi kayak gini penting banget. Mereka tumbuh di era keterbukaan, di mana kreativitas, kolaborasi, dan aktualisasi diri jadi nilai utama. Tapi selama ini, gak semua punya akses ke sumber daya yang mendukung. Nah, lewat program Rp5 juta per RW ini, Eri Cahyadi seolah kasih “starter pack” buat generasi muda agar bisa membuktikan diri.
Selain itu, langkah ini juga bisa jadi alat untuk memperkuat solidaritas sosial di tingkat lokal. Gen Z dikenal sebagai generasi yang sangat digital, tapi sering kali kehilangan koneksi sosial di dunia nyata. Kegiatan komunitas bisa jadi jembatan buat membangun empati, kerja sama, dan rasa memiliki terhadap lingkungan sekitar.
Namun tentu aja, keberhasilan program ini tergantung pada dua hal penting: transparansi dan kolaborasi. Pemerintah perlu terbuka dalam sistem pelaporan dana, sementara anak muda harus kreatif dan bertanggung jawab dalam penggunaannya.
Dengan model pengawasan yang partisipatif—melibatkan warga, tokoh masyarakat, dan perwakilan Gen Z sendiri—anggaran ini bisa benar-benar jadi katalis perubahan sosial.
Kalau Surabaya berhasil, bukan gak mungkin kota-kota lain bakal meniru pendekatan serupa. Bayangin kalau semua RW di Indonesia punya kegiatan aktif anak muda dengan dukungan dana tetap—Indonesia bakal punya jaringan komunitas muda yang solid, kreatif, dan berdampak langsung ke masyarakat.
Refleksi Akhir: Gen Z Bukan Sekadar “Digital Native”, Tapi Penggerak Nyata
Kebijakan yang fokus pada pemberdayaan Gen Z kayak yang dilakukan Wali Kota Eri Cahyadi adalah langkah strategis untuk mempersiapkan masa depan. Generasi ini bukan cuma pengguna teknologi, tapi juga calon pemimpin, inovator, dan kreator perubahan.
Mereka butuh ruang, kesempatan, dan kepercayaan. Dengan dukungan nyata dari pemerintah, Gen Z bisa jadi motor utama kemajuan sosial dan ekonomi di level komunitas.
Dan kalau semua pihak bisa bekerja sama dengan semangat terbuka dan jujur, bukan gak mungkin Surabaya bakal jadi contoh sukses bagi kota lain di mana anak muda gak cuma jadi topik pembicaraan, tapi benar-benar jadi bagian penting dari solusi.