By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Dari Introvert Jadi Percaya Diri, Kisah Siswa Sekolah Rakyat di Program Sister School Thailand
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Dari Introvert Jadi Percaya Diri, Kisah Siswa Sekolah Rakyat di Program Sister School Thailand

Pendidikan

Dari Introvert Jadi Percaya Diri, Kisah Siswa Sekolah Rakyat di Program Sister School Thailand

Jack
By
Jack
7 months ago
Share
7 Min Read
Muhammad Saifullah, siswa SRMA 21 Surabaya yang terlibat dalam program pertukaran atau Sister School di Khon Kaen University Thailand. (Foto: Kemensos RI)
SHARE

INVERSI.ID – Hari mulai bergeser menuju senja ketika aktivitas di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 21 Surabaya masih ramai. Di salah satu ruang kelas, seorang siswa berdiri tegak sambil mencatat poin‐poin penting yang disampaikan guru. Dia adalah Muhammad Saifullah, atau yang akrab disapa Saiful, siswa berusia 17 tahun yang belakangan mendapat kesempatan langka: menjadi salah satu peserta program Sister School di Khon Kaen University, Thailand, pada Agustus lalu.

Contents
Belajar di Thailand: Dari Kelas Internasional sampai Tampil Tarian TradisionalPerubahan Besar di Sekolah RakyatMembangun Mimpi, Mengubah Nasib

Bagi banyak orang, naik pesawat mungkin hal biasa. Tapi bagi Saiful, perjalanan itu jadi titik balik. Itu adalah pertama kalinya ia menjejakkan kaki keluar negeri sekaligus pertama kali terbang dengan pesawat.

“Senang banget, karena baru pertama kali naik pesawat, bangga juga ke luar negeri untuk mengikuti student exchange,” katanya saat ditemui usai jam pelajaran di SRMA 21 Surabaya beberapa waktu lalu.

Program pertukaran itu merupakan hasil kolaborasi antara SRMA 21 Surabaya dan Labschool Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Total ada 13 peserta yang terlibat, terdiri dari siswa Sekolah Rakyat dan Labschool Unesa. Namun empat siswa Sekolah Rakyat yang berangkat ke Thailand dipilih dengan seleksi ketat berdasarkan kemampuan Bahasa Inggris dan bakat yang mereka miliki.

Menurut Saiful, proses pemilihannya cukup kompetitif. Dari 97 siswa, hanya empat yang terpilih dari rombongan belajar berbeda.

“Dipilih melalui Bahasa Inggris, juga karena bakatnya, ada yang bakatnya menari dan juga rias untuk memperlihatkan budaya Indonesia ke Thailand. Terus yang lainnya, ke kemampuan Bahasa Inggris-nya, komunikasi Bahasa Inggris-nya,” jelasnya.

Sejak SMP, Saiful memang sudah jatuh cinta dengan pelajaran Bahasa Inggris. Di Sekolah Rakyat, ia mempelajari banyak grammar dasar seperti simple past tense, simple present tense hingga descriptive text.

“Aku paling suka Bahasa Inggris. Soalnya Bahasa Inggris itu sangat seru. Bahasanya juga cukup gaul-gaul,” ujarnya sambil tersenyum.

Belajar di Thailand: Dari Kelas Internasional sampai Tampil Tarian Tradisional

Setibanya di Thailand, para siswa langsung mengikuti aktivitas akademik di dua tempat berbeda. Siswa SMP mengikuti sit in class di Khon Kaen Demonstration School, sementara siswa SMA seperti Saiful belajar di Pre-University Class, Fakultas Ilmu Pendidikan Khon Kaen University.

Baca Juga :

Sambut Lebaran 2026, Hotel Siapkan Strategi Khusus Gaet Liburan Keluarga
Penuhi Kebutuhan Pekebun, Pemerintah Akan Tingkatkan Dana Replanting Sawit

“Belajar tentang Bahasa Inggris, bahasa lebih mendalam, sama aja sih belajarnya. Seperti simple present tense, simple past tense itu, dan juga grammar, serta belajar kimia tapi menggunakan Bahasa Inggris,” ucap Saiful.

Tak hanya belajar di ruang kelas, para siswa Sekolah Rakyat juga diberi kesempatan untuk mengenalkan budaya Indonesia. Mereka membawakan tarian khas Jawa Timur, Tari Remo, yang ditampilkan menggunakan narasi Bahasa Inggris.

“Itu pas awal-awal masuk ke universitasnya, langsung kita seremoni apel pagi itu, bersama rektor yang ada di sana. Kita menampilkan dua tarian, yaitu Tari Remo dari Sekolah Rakyat, dan juga Tari Jaipong dari Labschool,” jelasnya.

Selain itu, mereka juga mengikuti social study di Bangkok dan Laos. Saiful masih ingat jelas perjalanan satu hari penuh ke Laos: city tour, mengunjungi patung Buddha, berburu suvenir, dan mampir ke museum.

“Ke Laos, untuk city tour, itu ke tempat suvenir, terus tempat patung Buddha, sama ke museum gitu. Itu selama satu hari, dari pagi sampai sore,” kenang Saiful.

Pengalaman selama di Thailand menjadi hal yang sangat berkesan bagi Saiful dan tiga teman lainnya. Bahkan, ia berharap tahun depan bisa kembali terpilih.

“Harapanku untuk tahun depan semoga bisa ada lagi dan bisa terpilih lagi untuk menjadi salah satu peserta student exchange ke luar negeri,” katanya.

Perubahan Besar di Sekolah Rakyat

Di balik semangat belajarnya, Saiful menyimpan cerita hidup yang tidak mudah. Ia lahir dalam keluarga broken home. Orang tuanya berpisah saat ia baru berusia lima tahun. Sejak itu, ia tidak pernah lagi berkomunikasi dengan ibunya, bahkan sekadar melalui telepon.

Hidup tanpa sosok ibu membuatnya tumbuh menjadi anak yang pendiam, tertutup, dan tidak punya banyak teman.

“Pas saya di SD dan SMP, saya itu orangnya sangat introvert, jarang bergaul,” ujarnya.

Namun keadaan itu mulai berubah saat ia masuk ke Sekolah Rakyat. Sistem asrama dan pola hidup yang penuh kebersamaan perlahan membuat Saiful keluar dari cangkangnya. Ia mulai bisa menyapa orang, bercanda dengan teman, dan merasa diterima.

“Biasanya kalau saya pulang sekolah itu jalan kaki sendirian, namun di sini ditemani sama banyak teman-teman, terus di sini juga saya mulai bisa menjadi extrovert. Di sini saya lebih mudah ngobrol sama seseorang,” ungkapnya.

Selama tiga bulan tinggal di lingkungan Sekolah Rakyat, Saiful merasakan perubahan besar dalam cara ia bersosialisasi, belajar, dan memandang hidup. Guru-guru yang berpengalaman, suasana hangat, serta metode belajar yang menarik membuatnya merasa nyaman.

Total ada 18 guru yang mengajar di kelas, sementara 11 wali asuh dan 3 wali asrama memberikan pendampingan harian. Fasilitas pun menurut Saiful sangat memadai.

“Fasilitasnya di sini sangat nyaman, karena sudah ber-AC, memiliki wastafel, dan kasurnya yang sangat empuk,” katanya.

Lebih dari sekadar ilmu akademik, Sekolah Rakyat juga membentuk karakter. Saiful belajar untuk lebih disiplin beribadah dan belajar.

“Pas saya masih di rumah itu, belum di sini itu, saya sangat jarang banget beribadah sama belajar. Setelah di sini, saya sangat rajin untuk beribadah dan belajar. Soalnya di sini teman-temannya asyik, gurunya juga. Akhirnya membuat saya menjadi termotivasi dan melakukan rajin itu secara istiqomah,” tuturnya.

Membangun Mimpi, Mengubah Nasib

Perjalanan hidup Saiful adalah bukti bagaimana akses pendidikan bisa mengubah masa depan seorang anak. Sekolah Rakyat memberi harapan baru bagi siswa dari keluarga kurang mampu, termasuk Saiful, untuk berani bermimpi lebih jauh.

Ia ingin suatu hari nanti bisa mengubah kondisi ekonominya, membahagiakan orang tuanya, dan mewujudkan impian sederhana yang ia simpan sejak kecil.

“Melalui cita-cita saya, saya juga ingin mengubah ekonomi keluarga saya yang sedang turun seperti ini. Saya juga ingin membahagiakan orang tua saya, serta mengumrohkan mereka,” pungkasnya.

Dari anak pemalu yang tumbuh tanpa sosok ibu, kini Saiful berdiri sebagai remaja yang percaya diri, berani bermimpi, dan siap melangkah ke berbagai kesempatan global. Pengalamannya di Thailand menjadi batu loncatan besar menuju masa depan yang ingin ia wujudkan.

You Might Also Like

UI Kembali Jadi Kampus Terbaik Indonesia, Bertahan di 200 Besar Dunia Versi QS WUR 2027
Dedi Mulyadi Ancam Cabut Subsidi Sekolah Swasta Gratis bagi Siswa yang Tawuran
Disdik Jabar Ingatkan Peserta SPMB Tahap 1 untuk Daftar Ulang, Tahap 2 Segera Dibuka
Lebih dari 1.000 Pelajar di Jakarta Barat Terima Beasiswa PIP, Dukung Pendidikan Generasi Masa Depan
Unhas Tembus Peringkat 861 Dunia, Melonjak 111 Posisi di QS World University Rankings 2027
TAGGED:Pertukaran PelajarSekolah RakyatThailand
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Drama 3 Gim di Sydney, Rachel/Febi Rebut Gelar Australian Open 2025
Next Article Lebih Brutal, Lebih Mistis, ‘Comic 8 Santet K4bin3t’ Siap Hadir Akhir Tahun
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pendidikan

Rusia Buka Kesempatan Kuliah Gratis untuk Mahasiswa Indonesia, Ini Syaratnya

1 week ago
Pendidikan

Tak Kebagian Sekolah Negeri? Pemprov Jabar Siapkan Bantuan untuk Masuk Swasta

1 week ago
PendidikanTerkini

Putra Timur Dijegal? Bahlil Pertanyakan Keadilan di Kampus UI

1 week ago
Pendidikan

Empat Sekolah di Banten Masuk SMA Unggul Garuda Transformasi 2026, Siap Cetak Generasi Emas

1 week ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index