INVERSI.ID – Jakarta lagi-lagi bikin heboh dunia. Bukan soal macetnya, bukan soal cuacanya, tapi soal jumlah penduduk yang sempat bikin publik kaget. Beberapa hari terakhir, laporan internasional dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut Jakarta sebagai kota terpadat di dunia dengan populasi mencapai 42 juta jiwa. Angka itu langsung viral dan memunculkan banyak pertanyaan, mulai dari benar nggaknya data tersebut sampai apa dampaknya buat masa depan kota.
Namun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan cepat turun tangan untuk meluruskan informasi itu. Ternyata, jumlah 42 juta yang ramai diperbincangkan bukanlah jumlah penduduk resmi yang tinggal dan memiliki KTP Jakarta. Ada penjelasan yang jauh lebih logis dan masuk akal, terutama buat kamu yang tiap hari merasakan hiruk-pikuk mobilitas orang di Jakarta.
“Berdasarkan Data Kependudukan Bersih Semester I Tahun 2025 Provinsi DKI Jakarta yang bersumber dari Ditjen Dukcapil Kemendagri adalah 11.010.514 jiwa,” ujar Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Komunikasi Publik, Chico Hakim di Jakarta, Kamis.
Nah, dari situlah semuanya jelas. Populasi resmi DKI Jakarta masih berada di kisaran 11 juta jiwa, angka yang memang konsisten dengan data pemerintah selama beberapa tahun terakhir. Tetapi bagaimana bisa PBB menulis angka hampir empat kali lipat?
Chico menjelaskan bahwa angka 42 juta yang dirilis PBB sebenarnya bukan jumlah penduduk ber-KTP Jakarta, melainkan jumlah orang yang beraktivitas di wilayah Jakarta setiap harinya.
Di titik inilah kita harus ingat bahwa Jakarta bukan cuma tempat tinggal, tapi juga pusat aktivitas untuk jutaan orang dari berbagai daerah sekitar. Setiap hari, ada gelombang manusia dari Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek) yang masuk ke Jakarta untuk bekerja, sekolah, kuliah, berobat, atau urusan-urusan lain yang memaksa mereka berpindah dari rumah di pagi hari dan kembali di sore atau malam hari.
Chico bilang bahwa pola mobilitas massive inilah yang menjadi dasar perhitungan PBB hingga menghasilkan angka 42 juta. Artinya, angka tersebut bukan menggambarkan populasi penduduk tetap, melainkan jumlah total manusia yang berada dan beraktivitas di Jakarta dalam hitungan harian. Kalau kamu pernah naik KRL, TransJakarta, atau melintas di jalanan utama Jakarta pada jam-jam sibuk, kamu pasti bisa memahami bagaimana arus manusia itu seperti tidak pernah berhenti bergerak.
Selain itu, laporan bertajuk “World Urbanization Prospects 2025: Summary of Results” yang dipublikasikan Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB pada 23 November 2025 memang dirancang untuk mengukur tingkat urbanisasi dunia, bukan sekadar jumlah warga dengan KTP. Di dalamnya disebutkan bahwa kota-kota kini menampung sekitar 45 persen dari populasi global yang mencapai 8,2 miliar jiwa.
Dengan pindahnya pusat ekonomi, sosial, dan aktivitas ke wilayah perkotaan, wajar jika lembaga internasional menilai sebuah kota berdasarkan skala aktivitas, bukan hanya jumlah warganya. Jakarta yang selama ini menjadi pusat bisnis dan pemerintahan jelas punya mobilitas harian yang tinggi. Bahkan dalam laporan itu, Jakarta disebut berada di urutan teratas kota paling padat, diikuti Dhaka (Bangladesh) dengan hampir 40 juta penduduk dan Tokyo (Jepang) dengan 33 juta penduduk.
Tapi apakah angka mobilitas itu berarti Jakarta sudah tidak bisa lagi menampung aktivitas manusia? Tidak juga. Kota ini memang sedang berada di fase transisi besar setelah statusnya berubah menjadi Daerah Khusus Jakarta, tapi Jakarta tetap punya peran vital sebagai pusat kerja bagi jutaan orang di kawasan metropolitan yang lebih luas.
Fenomena ini sebenarnya bisa menjadi gambaran bagaimana kota modern bekerja. Tidak semua orang yang menggantungkan hidupnya pada Jakarta harus memiliki rumah di Jakarta. Banyak yang menetap di wilayah sekitar karena harga hunian lebih masuk akal, tetapi tetap memilih bekerja di ibu kota karena peluang ekonominya lebih besar. Pola seperti ini terjadi di banyak kota besar dunia seperti New York, London, dan Tokyo. Maka ketika lembaga seperti PBB menghitung skala populasi berdasarkan manusia yang sedang berada di sebuah kota dalam kurun waktu tertentu, angka yang muncul bisa jauh lebih tinggi dari populasi resmi.
Di satu sisi, penjelasan ini juga menunjukkan tantangan besar yang dihadapi Jakarta. Dengan jutaan orang masuk dan keluar setiap hari, transit menjadi salah satu aspek paling penting. Moda transportasi seperti KRL, MRT, TransJakarta, LRT, sampai jaringan jalan raya dituntut terus berkembang untuk menampung kebutuhan mobilitas itu. Bayangkan kalau 42 juta orang itu benar-benar berdomisili di Jakarta. Kota ini mungkin bakal menghadapi tekanan infrastruktur yang jauh lebih berat dari sekarang.
Namun karena mobilitas itu bersifat harian, kebijakan yang dibutuhkan bukan hanya soal hunian, tapi infrastruktur transportasi dan koordinasi regional. Kawasan Jabodetabek pada dasarnya adalah satu ekosistem urban raksasa yang saling terhubung, jadi wajar kalau data mobilitas dipandang sebagai satu kesatuan.
Lalu bagaimana publik harus menyikapi temuan PBB yang sempat bikin heboh? Pertama, penting untuk memahami jenis data apa yang sedang dibahas. Data penduduk resmi jelas berbeda dari data mobilitas harian. Kedua, kita perlu melihat bahwa tren urbanisasi global memang bergerak ke arah kota-kota megapolitan seperti ini, di mana batas administratif tidak selalu mencerminkan realitas sehari-hari.
Untuk anak muda yang hidup di Jakarta dan sekitarnya, informasi ini juga penting karena berkaitan langsung dengan isu masa depan kota: apakah Jakarta akan makin nyaman? Apakah transportasinya cukup untuk menampung arus manusia? Apakah perkembangan kotanya akan berimbang dengan pertumbuhan aktivitas warganya? Dan tentu, bagaimana kebijakan pemerintah menyesuaikan diri dengan fakta bahwa Jakarta bukan hanya dihuni 11 juta orang, tapi juga didatangi lebih dari tiga kali lipat jumlah itu setiap hari.
Membahas Jakarta memang tidak ada habisnya. Kota ini selalu bergerak, berubah, dan penuh cerita. Data PBB yang sempat bikin heboh hanyalah salah satu potongan kecil dari kisah besar tentang bagaimana Jakarta terus bertransformasi menjadi kota megapolitan yang bukan hanya padat penduduk, tapi juga padat aktivitas. Dengan pemahaman yang benar, kita bisa melihat bahwa kota ini bukan sedang “disesaki” 42 juta jiwa, melainkan sedang menjadi pusat daya tarik yang luar biasa kuat bagi jutaan orang yang menggantungkan masa depannya di sini.