Aktivitas vulkanik Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur kembali meningkat. Pada Rabu sejak pukul 00.31 hingga 08.42 WIB, gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut tercatat mengalami 16 kali erupsi dengan variasi tinggi kolom letusan, mencapai maksimum 1.100 meter di atas puncak.
Erupsi pertama terjadi pada pukul 00.31 WIB, ketika kolom abu teramati naik sekitar 500 meter di atas puncak. Sementara itu, erupsi ke-16 yang terjadi pada pukul 08.42 WIB tidak dapat diamati secara visual karena tertutup kabut. Peningkatan intensitas paling signifikan tercatat pada pukul 05.55 WIB. Dalam laporan tertulisnya, Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, menyampaikan bahwa letusan tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang pagi itu.
“Erupsi yang disertai letusan tertinggi terjadi pukul 05.55 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 1.100 meter di atas puncak atau 4.776 meter di atas permukaan laut,” ujarnya.
Menurut Liswanto, kolom abu yang muncul didominasi warna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang dan bergerak ke arah barat daya. Ia menambahkan bahwa saat laporan disusun, aktivitas erupsi masih berlangsung, menunjukkan bahwa kondisi vulkanik Semeru belum mengalami penurunan signifikan. Selain visual letusan, kegempaan juga memperlihatkan peningkatan. Pada periode pengamatan antara pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, tercatat 53 kali gempa letusan dengan amplitudo 11 hingga 22 milimeter. Selain itu, terdapat 26 kali gempa guguran dengan amplitudo 4 hingga 7 milimeter dan satu kali gempa embusan dengan amplitudo 6 milimeter.
Berdasarkan peningkatan aktivitas tersebut, Gunung Semeru tetap berada pada status Siaga atau Level III. Status ini menunjukkan adanya potensi bahaya yang tinggi, sehingga Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan sejumlah rekomendasi keselamatan kepada masyarakat dan pihak berwenang. Liswanto menjelaskan bahwa kawasan sektor tenggara Gunung Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, merupakan zona yang paling berisiko.
“Masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara, di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak,” katanya.
PVMBG juga menegaskan bahwa di luar radius tersebut, aktivitas masyarakat tetap dilarang dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena potensi perluasan awan panas dan aliran lahar dapat mencapai jarak hingga 17 kilometer dari puncak. Selain bahaya awan panas, lontaran batu pijar dari kawah juga menjadi risiko yang sangat besar. Oleh sebab itu, masyarakat dilarang memasuki radius lima kilometer dari puncak Semeru.
Tidak hanya itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan aliran lahar yang dapat mengikuti alur sungai atau lembah yang berhulu di puncak Semeru. Beberapa daerah aliran sungai yang mendapat perhatian khusus antara lain Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Curah hujan tinggi dapat memicu lahar dingin di sepanjang alur sungai maupun anak sungai yang bermuara ke Besuk Kobokan.
Pemerintah daerah bersama BPBD setempat diminta tetap siaga dan memastikan sistem peringatan dini berfungsi optimal. Mobilisasi relawan dan jalur evakuasi juga perlu disiapkan guna mengantisipasi potensi peningkatan bahaya. Aktivitas vulkanik yang masih fluktuatif menunjukkan bahwa kondisi Gunung Semeru belum sepenuhnya stabil, sehingga disiplin terhadap rekomendasi keselamatan menjadi kunci utama mengurangi risiko.
Dengan 16 erupsi yang terjadi hanya dalam kurun waktu delapan jam, Gunung Semeru kembali mengingatkan masyarakat akan pentingnya kewaspadaan dan pemantauan berkelanjutan. Otoritas terkait diharapkan terus memperbarui informasi kepada publik agar langkah mitigasi dapat dilakukan secara cepat dan tepat.