JAKARTA — Momentum penerapan biodiesel B50 dinilai tak perlu lagi ditunda. Di tengah tingginya konsumsi BBM akibat kemacetan transportasi darat nasional, kesiapan berbagai moda angkutan berbasis diesel untuk menggunakan B50 menjadi langkah strategis dalam mempercepat penghematan energi nasional sekaligus menekan ketergantungan impor BBM fosil.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menjadi salah satu operator transportasi yang kini memperkuat kesiapan implementasi biodiesel B50 melalui serangkaian pengujian teknis pada armada berbasis diesel.
Langkah tersebut dipandang sebagai sinyal kuat bahwa sektor transportasi darat nasional mulai siap memasuki era bahan bakar nabati secara lebih luas. “Sebagai operator transportasi publik berbasis rel, KAI terus memperkuat kesiapan implementasi B50 melalui serangkaian pengujian teknis pada sarana perkeretaapian berbasis diesel,” kata Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba dalam keterangannya di Jakarta, Senin (18/5)
Menurut Anne, pengujian dilakukan untuk memastikan keselamatan perjalanan, keandalan operasional, dan kualitas layanan tetap terjaga selama proses transisi menuju penggunaan B50 berlangsung.
“Langkah itu dilakukan untuk memastikan keselamatan perjalanan, keandalan operasional, dan kualitas layanan kepada pelanggan tetap terjaga selama proses transisi energi berlangsung,” ujarnya.
Pemerintah sendiri akan mulai menerapkan mandatori biodiesel B50 secara nasional pada 1 Juli 2026 sebagai bagian dari strategi besar penguatan ketahanan energi nasional dan transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan.
Di tengah kemacetan kronis yang membebani konsumsi BBM di jalan raya, penggunaan B50 pada moda transportasi darat dipandang dapat membantu menekan pemborosan energi akibat antrean panjang dan mobilitas kendaraan yang tidak efisien.
Transportasi berbasis rel seperti kereta api bahkan dinilai menjadi contoh ideal karena mampu mengangkut penumpang dalam jumlah besar dengan emisi lebih rendah dibanding kendaraan pribadi.
Dalam berbagai studi transportasi, emisi kereta api hanya berada di kisaran 15–40 gram CO₂ per penumpang-kilometer, jauh lebih rendah dibanding kendaraan pribadi yang mencapai sekitar 120–250 gram CO₂ per penumpang-kilometer.
KAI menyebut implementasi B50 merupakan kelanjutan dari penggunaan biodiesel sebelumnya, mulai dari B35 hingga B40 yang telah digunakan dalam operasional perusahaan.
“KAI mendukung langkah pemerintah dalam memperkuat pemanfaatan energi yang lebih berkelanjutan. Pada setiap tahapan implementasinya, aspek keselamatan, keandalan sarana, dan kualitas layanan tetap menjadi perhatian utama,” ujar Anne.
Sepanjang 2025, penggunaan biodiesel B40 pada layanan Kereta Api Jarak Jauh menghasilkan total emisi karbon sekitar 127,3 ribu ton CO₂e dari total 47,4 juta pelanggan.
Sementara pada Januari hingga April 2026, layanan KA Jarak Jauh dan Lokal KAI telah melayani lebih dari 19,2 juta pelanggan dengan penggunaan bahan bakar biodiesel secara konsisten pada perjalanan kereta diesel.
Dalam mendukung implementasi B50, KAI juga menggandeng Kementerian ESDM dan LEMIGAS untuk melakukan pengujian bertahap sejak pertengahan April 2026.
Pengujian dilakukan mulai dari proses blending bahan bakar, pemeriksaan kondisi sarana, hingga uji operasional pada berbagai jenis armada.
Untuk lokomotif, pengujian dilakukan di Depo Sidotopo dengan fokus pada performa mesin dan konsumsi bahan bakar selama penggunaan B50.
“Pengamatan dilakukan untuk memastikan karakteristik pembakaran, stabilitas performa mesin, serta efisiensi operasional tetap berjalan optimal dalam penggunaan harian,” jelas Anne.
Sementara itu, pengujian kereta pembangkit dilakukan di Depo Kereta Yogyakarta melalui pemantauan konsumsi bahan bakar dan pengujian berkala setiap 300 jam operasi.
KAI juga menyiapkan pengujian jangka panjang guna memastikan ketahanan sarana tetap optimal dalam operasional intensif di lapangan.
“Percepatan implementasi B50 memerlukan kesiapan yang terukur agar tetap selaras dengan standar keselamatan dan kualitas layanan transportasi publik. KAI terus memperkuat koordinasi dan pengujian teknis agar implementasinya dapat berjalan optimal dan berkelanjutan,” kata Anne.
Kesiapan moda transportasi darat menggunakan B50 kini dipandang bukan hanya soal teknologi bahan bakar, tetapi juga bagian penting dari strategi nasional mengurangi pemborosan energi akibat kemacetan sekaligus memperkuat kemandirian energi Indonesia di masa depan.