INVERSI.ID – Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali mengalami erupsi pada Minggu malam. Aktivitas vulkanik tersebut ditandai dengan meluncurnya awan panas guguran sejauh kurang lebih 5 kilometer dari puncak.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, menyampaikan erupsi terjadi pada pukul 22.25 WIB. “Terjadi erupsi Gunung Semeru pada pukul 22.25 WIB. Erupsi berupa Awan Panas Guguran dengan jarak luncur sekitar 5 km,” kata Sigit dalam laporan tertulis.
Ia menjelaskan, kolom letusan Gunung Semeru teramati mencapai sekitar 2.000 meter di atas puncak atau setara 5.676 meter di atas permukaan laut.
“Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah timur dan tenggara,” tuturnya.
Aktivitas erupsi tersebut juga terekam pada alat seismograf dengan amplitudo maksimum 27 milimeter dan durasi mencapai 696 detik.
Status Gunung Semeru Masih Siaga
Hingga saat ini, Gunung Semeru masih berada pada status Level III atau Siaga. Dengan status tersebut, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.
Selain itu, masyarakat juga diminta menjauhi area sempadan sungai sejauh 500 meter di sepanjang Besuk Kobokan. Kawasan tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar yang dapat menjangkau hingga 17 kilometer dari puncak.
“Masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar),” katanya.
Warga Diminta Waspadai Potensi Lanjutan
Petugas juga mengingatkan warga untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan aliran lahar. Ancaman tersebut berpotensi terjadi di sepanjang aliran sungai dan lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru.
Wilayah yang perlu diwaspadai meliputi Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Selain itu, potensi lahar juga dapat terjadi di sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi.