By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Menkeu G7 Bahas Pasokan dan Stabilitas Harga Rare Earth di Tengah Ketergantungan Global
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Menkeu G7 Bahas Pasokan dan Stabilitas Harga Rare Earth di Tengah Ketergantungan Global

EkonomiInternasional

Menkeu G7 Bahas Pasokan dan Stabilitas Harga Rare Earth di Tengah Ketergantungan Global

Adrian
By
Adrian
6 months ago
Share
5 Min Read
Foto : Kelompok G7 (REUTERS/Todd Korol). Para menteri keuangan negara-negara Kelompok Tujuh (G7) dijadwalkan menggelar pertemuan di Washington pada 12 Januari mendatang (Sumber : kontan.co.id)
Foto : Kelompok G7 (REUTERS/Todd Korol). Para menteri keuangan negara-negara Kelompok Tujuh (G7) dijadwalkan menggelar pertemuan di Washington pada 12 Januari mendatang (Sumber : kontan.co.id)
SHARE

Inversi Para menteri keuangan negara-negara anggota Kelompok Tujuh (Group of Seven/G7) dijadwalkan menggelar pertemuan tingkat tinggi di Washington, Amerika Serikat, pada 12 Januari mendatang. Agenda utama pertemuan tersebut adalah membahas persoalan pasokan mineral tanah jarang atau rare earths, yang semakin strategis bagi perekonomian global dan industri berteknologi tinggi.

Informasi mengenai rencana pertemuan ini disampaikan oleh tiga sumber yang mengetahui langsung agenda tersebut. Selain menyoroti ketersediaan pasokan, para menteri keuangan G7 juga akan membahas dinamika harga rare earths, termasuk wacana penetapan batas bawah harga sebagai langkah stabilisasi pasar.

Pembahasan tersebut akan dikaitkan dengan isu mineral kritis lain yang menjadi fondasi berbagai sektor industri modern, mulai dari energi terbarukan hingga kendaraan listrik. Mineral tanah jarang merupakan kelompok 17 unsur kimia yang memiliki peran vital dalam pembuatan magnet berkekuatan tinggi, baterai, semikonduktor, turbin angin, hingga peralatan militer.

Meski disebut “jarang”, mineral ini sebenarnya cukup melimpah di alam, namun proses penambangan dan pemurniannya kompleks, mahal, serta berisiko tinggi terhadap lingkungan. Hal inilah yang membuat penguasaan rantai pasok rare earths menjadi isu strategis dan sensitif secara geopolitik.

Saat ini, hampir seluruh negara anggota G7—Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Prancis, Italia, dan Kanada—masih sangat bergantung pada China untuk pasokan rare earths. Jepang menjadi satu-satunya anggota G7 yang relatif berhasil mengurangi ketergantungan tersebut melalui diversifikasi sumber pasokan dan investasi jangka panjang di luar China.

Ketergantungan ini mencakup berbagai produk turunan, mulai dari magnet tanah jarang hingga logam penting untuk baterai kendaraan listrik. Dominasi China dalam industri rare earths bukanlah hal baru. Negara tersebut menguasai lebih dari 60 persen produksi global dan hampir 90 persen kapasitas pemurnian mineral tanah jarang dunia.

Kondisi ini menempatkan China pada posisi strategis dalam menentukan arah pasokan dan harga global. Bagi negara-negara G7, situasi tersebut dinilai berisiko, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan potensi penggunaan mineral strategis sebagai alat tekanan ekonomi.

Kesadaran akan risiko tersebut mendorong negara-negara G7 untuk menyepakati rencana aksi bersama pada Juni tahun lalu. Kesepakatan itu berfokus pada pengamanan rantai pasok mineral kritis melalui diversifikasi sumber, peningkatan investasi di negara mitra, serta pengembangan teknologi daur ulang. Tujuan utamanya adalah memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus mengurangi kerentanan terhadap gangguan pasokan di masa depan.

Pertemuan para menteri keuangan G7 di Washington dipandang sebagai langkah lanjutan dari komitmen tersebut. Pembahasan mengenai kemungkinan penetapan batas bawah harga rare earths mencerminkan kekhawatiran akan volatilitas harga yang dapat menghambat investasi jangka panjang. Harga yang terlalu rendah dinilai dapat merugikan produsen di luar China, sementara fluktuasi tajam berpotensi mengganggu stabilitas industri hilir.

Baca Juga :

Zoho dan Filosofi Kantor Manusiawi di Tengah Industri Teknologi
Tak Cukup Bukti, I Nyoman Gde Antara Divonis Bebas

Selain aspek harga, isu keberlanjutan juga diperkirakan menjadi bagian penting dalam diskusi. Penambangan dan pemrosesan rare earths kerap menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan, termasuk pencemaran air dan tanah. Negara-negara G7 berupaya mendorong praktik penambangan yang lebih ramah lingkungan serta standar tata kelola yang lebih ketat, sejalan dengan komitmen global terhadap transisi energi bersih.

Di sisi lain, kebutuhan terhadap mineral tanah jarang diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa dekade ke depan. Peralihan menuju energi terbarukan, elektrifikasi transportasi, dan pengembangan teknologi kecerdasan buatan membuat permintaan rare earths melonjak tajam. Kondisi ini memperkuat urgensi bagi negara-negara G7 untuk membangun rantai pasok yang aman, beragam, dan berkelanjutan.

Langkah G7 untuk memperkuat koordinasi di bidang mineral kritis juga memiliki implikasi geopolitik yang luas. Upaya mengurangi ketergantungan pada satu negara pemasok dinilai sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga stabilitas ekonomi global. Namun demikian, sejumlah analis menilai bahwa diversifikasi pasokan rare earths bukanlah proses yang mudah dan membutuhkan waktu panjang, investasi besar, serta kerja sama lintas negara yang konsisten.

Dengan digelarnya pertemuan para menteri keuangan G7 ini, isu rare earths semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu agenda strategis global. Keputusan yang dihasilkan diharapkan tidak hanya mampu menstabilkan pasokan dan harga, tetapi juga menciptakan ekosistem industri mineral kritis yang lebih adil, transparan, dan berkelanjutan bagi perekonomian dunia.

You Might Also Like

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN
Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat
Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite
Bahlil Gelontorkan Rp10 Triliun! Ribuan Desa Siap Keluar dari Gelap
Program BPBL Bahlil Terangi 220 Ribu Rumah, Listrik Gratis Tembus Pelosok
TAGGED:GlobalMenkeu G7Rare EarthStabilitas Harga
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Foto : Ilustrasi artificial intelligence, AI (Sumber : Kontan.co.id) AI in Action: CES 2026 Tandai Babak Baru Teknologi Berbasis Manusia
Next Article Tips Asyik Pakai Kain Wastra Agar Lebaran Lebih Kekinian
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Bahlil Bongkar Faktanya! 87% Batu Bara PLN Sudah Aman, Tak Perlu Panik

PLN Ambil Tanggung Jawab Pemadaman di Pulau Jawa! Gangguan Listrik Karena Masalah Internal

Inflasi Stabil, Ekonomi Indonesia Tumbuh Solid dan Tahan Guncangan Global

Kabar Gembira 1 Juli! B50 Lolos Uji Alat Berat, Impor Solar C48 Siap Diakhiri

PLN Masih Cari 20 Juta Ton Batu Bara, Bahlil Jamin Indonesia Tak Akan Mati Lampu

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

EkonomiPildun 2026Terkini

Piala Dunia 2026 Diserbu Judol, Polisi Putar Otak Kejar Bandar

5 days ago
Ekonomi

Perang Reda, BBM Tetap Aman! Jurus Bahlil Ini Tuai Pujian

5 days ago
EkonomiTerkini

Harga Minyak Turun, Pertamax Belum? Ekonom Bongkar Alasannya!

5 days ago
Ekonomi

SpaceX Melantai di Bursa, Harta Elon Musk Tembus Rp23.120 Triliun

6 days ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index