Inversi Para menteri keuangan negara-negara anggota Kelompok Tujuh (Group of Seven/G7) dijadwalkan menggelar pertemuan tingkat tinggi di Washington, Amerika Serikat, pada 12 Januari mendatang. Agenda utama pertemuan tersebut adalah membahas persoalan pasokan mineral tanah jarang atau rare earths, yang semakin strategis bagi perekonomian global dan industri berteknologi tinggi.
Informasi mengenai rencana pertemuan ini disampaikan oleh tiga sumber yang mengetahui langsung agenda tersebut. Selain menyoroti ketersediaan pasokan, para menteri keuangan G7 juga akan membahas dinamika harga rare earths, termasuk wacana penetapan batas bawah harga sebagai langkah stabilisasi pasar.
Pembahasan tersebut akan dikaitkan dengan isu mineral kritis lain yang menjadi fondasi berbagai sektor industri modern, mulai dari energi terbarukan hingga kendaraan listrik. Mineral tanah jarang merupakan kelompok 17 unsur kimia yang memiliki peran vital dalam pembuatan magnet berkekuatan tinggi, baterai, semikonduktor, turbin angin, hingga peralatan militer.
Meski disebut “jarang”, mineral ini sebenarnya cukup melimpah di alam, namun proses penambangan dan pemurniannya kompleks, mahal, serta berisiko tinggi terhadap lingkungan. Hal inilah yang membuat penguasaan rantai pasok rare earths menjadi isu strategis dan sensitif secara geopolitik.
Saat ini, hampir seluruh negara anggota G7—Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Prancis, Italia, dan Kanada—masih sangat bergantung pada China untuk pasokan rare earths. Jepang menjadi satu-satunya anggota G7 yang relatif berhasil mengurangi ketergantungan tersebut melalui diversifikasi sumber pasokan dan investasi jangka panjang di luar China.
Ketergantungan ini mencakup berbagai produk turunan, mulai dari magnet tanah jarang hingga logam penting untuk baterai kendaraan listrik. Dominasi China dalam industri rare earths bukanlah hal baru. Negara tersebut menguasai lebih dari 60 persen produksi global dan hampir 90 persen kapasitas pemurnian mineral tanah jarang dunia.
Kondisi ini menempatkan China pada posisi strategis dalam menentukan arah pasokan dan harga global. Bagi negara-negara G7, situasi tersebut dinilai berisiko, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan potensi penggunaan mineral strategis sebagai alat tekanan ekonomi.
Kesadaran akan risiko tersebut mendorong negara-negara G7 untuk menyepakati rencana aksi bersama pada Juni tahun lalu. Kesepakatan itu berfokus pada pengamanan rantai pasok mineral kritis melalui diversifikasi sumber, peningkatan investasi di negara mitra, serta pengembangan teknologi daur ulang. Tujuan utamanya adalah memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus mengurangi kerentanan terhadap gangguan pasokan di masa depan.
Pertemuan para menteri keuangan G7 di Washington dipandang sebagai langkah lanjutan dari komitmen tersebut. Pembahasan mengenai kemungkinan penetapan batas bawah harga rare earths mencerminkan kekhawatiran akan volatilitas harga yang dapat menghambat investasi jangka panjang. Harga yang terlalu rendah dinilai dapat merugikan produsen di luar China, sementara fluktuasi tajam berpotensi mengganggu stabilitas industri hilir.
Selain aspek harga, isu keberlanjutan juga diperkirakan menjadi bagian penting dalam diskusi. Penambangan dan pemrosesan rare earths kerap menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan, termasuk pencemaran air dan tanah. Negara-negara G7 berupaya mendorong praktik penambangan yang lebih ramah lingkungan serta standar tata kelola yang lebih ketat, sejalan dengan komitmen global terhadap transisi energi bersih.
Di sisi lain, kebutuhan terhadap mineral tanah jarang diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa dekade ke depan. Peralihan menuju energi terbarukan, elektrifikasi transportasi, dan pengembangan teknologi kecerdasan buatan membuat permintaan rare earths melonjak tajam. Kondisi ini memperkuat urgensi bagi negara-negara G7 untuk membangun rantai pasok yang aman, beragam, dan berkelanjutan.
Langkah G7 untuk memperkuat koordinasi di bidang mineral kritis juga memiliki implikasi geopolitik yang luas. Upaya mengurangi ketergantungan pada satu negara pemasok dinilai sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga stabilitas ekonomi global. Namun demikian, sejumlah analis menilai bahwa diversifikasi pasokan rare earths bukanlah proses yang mudah dan membutuhkan waktu panjang, investasi besar, serta kerja sama lintas negara yang konsisten.
Dengan digelarnya pertemuan para menteri keuangan G7 ini, isu rare earths semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu agenda strategis global. Keputusan yang dihasilkan diharapkan tidak hanya mampu menstabilkan pasokan dan harga, tetapi juga menciptakan ekosistem industri mineral kritis yang lebih adil, transparan, dan berkelanjutan bagi perekonomian dunia.