Inversi PT Amartha Mikro Fintek (Amartha), perusahaan teknologi finansial berbasis peer-to-peer (P2P) lending, terus memperkuat strategi mitigasi risiko kredit guna menjaga kualitas pembiayaan di tengah pertumbuhan industri fintech.
Salah satu langkah utama yang diterapkan adalah pengombinasian teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) dengan pemantauan langsung oleh tenaga lapangan dalam jumlah besar.
Pendekatan hibrida ini dinilai efektif untuk meminimalkan risiko kredit macet, khususnya pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di pedesaan yang menjadi fokus utama layanan Amartha. Perusahaan menilai bahwa penggunaan teknologi saja tidak cukup, sehingga diperlukan sentuhan manusia untuk memahami kondisi riil para peminjam.
Wakil Presiden Public Relations Amartha, Harumi Supit, mengatakan bahwa perusahaan menerapkan tata kelola perusahaan yang prudent dengan mengintegrasikan sistem digital dan pengawasan langsung. Menurutnya, mitigasi risiko dilakukan secara menyeluruh sejak tahap seleksi peminjam hingga proses pendampingan usaha.
“Penerapan tata kelola perusahaan yang prudent melalui mitigasi risiko dilakukan dengan mengolaborasikan machine learning dan pendekatan lapangan oleh lebih dari 10.000 tenaga lapangan,” ujar Harumi kepada Kontan.co.id, Minggu (11/1/2026).
Harumi menjelaskan, penggunaan teknologi AI memungkinkan Amartha melakukan penilaian risiko kredit secara lebih akurat dan efisien. Sistem credit scoring berbasis AI dirancang khusus dengan menyesuaikan karakteristik peminjam Amartha, yang mayoritas merupakan pelaku UMKM perempuan di wilayah pedesaan.
Model penilaian kredit tersebut tidak hanya mengandalkan data keuangan formal, tetapi juga memanfaatkan data alternatif, seperti pola pembayaran, aktivitas usaha, serta perilaku sosial peminjam. Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat mengidentifikasi potensi risiko sejak dini dan menentukan skema pembiayaan yang sesuai dengan kapasitas masing-masing peminjam.
Di sisi lain, keberadaan tenaga lapangan menjadi elemen penting dalam strategi mitigasi risiko Amartha. Ribuan petugas lapangan bertugas melakukan verifikasi langsung, pendampingan usaha, serta pemantauan berkala terhadap kondisi peminjam. Kehadiran mereka dinilai mampu memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai situasi usaha dan lingkungan sosial peminjam.
Pendekatan langsung ini juga memperkuat hubungan kepercayaan antara perusahaan dan pelaku UMKM. Selain berfungsi sebagai pengawas, tenaga lapangan berperan sebagai pendamping yang membantu peminjam meningkatkan kapasitas usaha, kedisiplinan pembayaran, serta literasi keuangan.
Sejak berdiri pada 2010, Amartha konsisten memfokuskan layanannya pada pengusaha akar rumput, khususnya perempuan di pedesaan. Perusahaan tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi juga membangun ekosistem yang mencakup pendampingan usaha, penguatan komunitas, serta pemberdayaan ekonomi berkelanjutan.
Komitmen tersebut tercermin dari kinerja pembiayaan Amartha hingga saat ini. Berdasarkan data perusahaan, Amartha telah menyalurkan pembiayaan lebih dari Rp35 triliun kepada lebih dari 3,3 juta pelaku UMKM yang tersebar di lebih dari 50.000 desa di seluruh Indonesia.
Capaian ini menunjukkan besarnya peran perusahaan dalam memperluas akses keuangan bagi masyarakat yang sebelumnya sulit menjangkau layanan perbankan formal. Dari sisi kualitas pembiayaan, Amartha juga mencatatkan kinerja yang relatif terjaga. Tingkat Keberhasilan Bayar dalam 90 hari (TKB90) perusahaan mencapai 95,61 persen per 11 Januari 2026.
Angka ini mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menjaga rasio pembayaran tetap sehat di tengah dinamika ekonomi yang terus berkembang. Harumi menegaskan bahwa keberhasilan menjaga kualitas kredit tidak terlepas dari penerapan sistem mitigasi risiko yang berlapis.
Perusahaan terus melakukan penyempurnaan model AI serta meningkatkan kapasitas tenaga lapangan agar mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi ekonomi dan sosial di masyarakat.
Ke depan, Amartha berkomitmen untuk terus mengembangkan inovasi teknologi sekaligus mempertahankan pendekatan berbasis komunitas. Perusahaan meyakini bahwa sinergi antara teknologi dan interaksi manusia menjadi kunci dalam menciptakan industri fintech yang berkelanjutan, inklusif, dan bertanggung jawab.
Dengan strategi tersebut, Amartha berharap dapat terus mendukung pertumbuhan UMKM nasional sekaligus menjaga kepercayaan investor dan masyarakat terhadap industri P2P lending di Indonesia.