Inversi Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS) dan sekutunya.
Pemerintah Iran menegaskan akan melancarkan serangan balasan berskala luas apabila AS melakukan intervensi militer di tengah gelombang protes besar-besaran yang masih berlangsung di Tehran dan sejumlah kota lainnya. Situasi ini menempatkan Israel dan pasukan AS di kawasan dalam status siaga tinggi.
Ancaman tersebut disampaikan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, pada Minggu (11/1/2026). Qalibaf menyebut setiap bentuk serangan terhadap Iran akan dibalas dengan kekuatan penuh, termasuk terhadap target militer AS dan Israel.
“Dalam kasus serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan (Israel), serta seluruh pangkalan dan kapal Amerika Serikat akan menjadi target sah kami,” ujar Qalibaf dalam pernyataan resminya.
Qalibaf, yang merupakan mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), memperingatkan bahwa kesalahan perhitungan oleh pihak luar dapat memicu konflik regional yang jauh lebih luas. Pernyataan ini mencerminkan sikap keras elite politik Iran dalam menghadapi tekanan internasional yang meningkat di tengah instabilitas domestik.
Protes Terbesar Sejak 2022
Di dalam negeri, Iran tengah menghadapi gelombang protes yang disebut sebagai yang terbesar sejak 2022. Aksi unjuk rasa yang dimulai pada 28 Desember lalu awalnya dipicu oleh kenaikan harga kebutuhan pokok dan tekanan ekonomi yang semakin berat.
Namun, seiring waktu, tuntutan massa berkembang menjadi seruan perubahan terhadap pemerintahan ulama (clerical government) yang telah berkuasa sejak Revolusi Islam 1979.
Demonstrasi berlangsung di berbagai wilayah, termasuk Tehran, Isfahan, dan Mashhad. Massa aksi terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari mahasiswa, pekerja, hingga kelompok kelas menengah yang terdampak inflasi tinggi dan pengangguran.
Berdasarkan laporan Human Rights Activists News Agency (HRANA), sebuah kelompok pemantau hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat, sedikitnya 116 orang dilaporkan tewas dalam rangkaian kerusuhan tersebut. Dari jumlah itu, 37 korban disebut berasal dari aparat keamanan. Namun, angka ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Pemerintah Iran memberlakukan pembatasan akses internet secara luas, sehingga informasi dari lapangan sulit diperoleh. Televisi pemerintah Iran menayangkan ratusan kantong jenazah dan menyebut korban tewas sebagai akibat aksi “teroris bersenjata” yang dituding merusak fasilitas umum, membakar bank, serta menyerang masjid.
Sikap Pemerintah Iran
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik eskalasi kerusuhan. Ia menilai kekuatan asing berupaya memanfaatkan ketidakpuasan publik untuk melemahkan stabilitas negara.
“Kami memiliki bukti adanya pihak-pihak yang menyusup dan melakukan tindakan kekerasan. Ini bukan protes damai, tetapi upaya terorganisasi untuk menciptakan kekacauan,” ujar Pezeshkian dalam pidato kenegaraan.
Meski demikian, Presiden Iran juga menyampaikan pesan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak terprovokasi untuk terlibat dalam aksi kekerasan. Ia menegaskan pemerintah bersedia mendengarkan aspirasi rakyat dan berkomitmen mencari solusi atas persoalan ekonomi yang dihadapi.
Israel dan AS dalam Siaga Tinggi
Di tengah situasi tersebut, Israel meningkatkan kewaspadaan militernya. Meski pejabat pertahanan Israel menegaskan bahwa protes di Iran merupakan urusan internal, mereka tetap menyiapkan langkah defensif jika ancaman Iran direalisasikan.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa setiap serangan terhadap Israel akan mendapat balasan serius. Namun, ia juga menyatakan bahwa pihaknya masih mencermati perkembangan situasi di dalam Iran sebelum mengambil langkah lebih lanjut.
Sementara itu, Amerika Serikat terus memantau kondisi dengan cermat. Pembicaraan tingkat tinggi antara Netanyahu dan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dilaporkan telah membahas berbagai skenario, termasuk kemungkinan intervensi AS jika situasi memburuk.
Mantan Presiden AS Donald Trump turut angkat bicara melalui media sosial. Ia menyatakan dukungannya terhadap rakyat Iran yang tengah berunjuk rasa dan menyebut situasi saat ini sebagai momentum kebebasan.
“Iran sedang melihat kebebasan, mungkin seperti belum pernah sebelumnya. Amerika Serikat siap membantu,” tulis Trump.
Dimensi Internasional dan Risiko Eskalasi
Pengamat hubungan internasional menilai krisis Iran saat ini berpotensi memicu ketegangan regional yang lebih luas, terutama jika terjadi salah langkah dari pihak luar. Ancaman Iran terhadap pangkalan militer AS dan Israel menempatkan kawasan Timur Tengah dalam posisi rawan konflik terbuka.
Selain faktor geopolitik, krisis ini juga memperlihatkan tekanan ekonomi dan sosial yang semakin berat di Iran akibat sanksi internasional, inflasi, serta keterbatasan akses perdagangan global. Kondisi tersebut memperbesar potensi instabilitas jangka panjang jika tidak diiringi reformasi kebijakan yang signifikan.
Situasi Iran kini menjadi sorotan dunia internasional, dengan keseimbangan antara tekanan eksternal, dinamika politik domestik, dan risiko konflik bersenjata menjadi faktor penentu arah perkembangan selanjutnya.