Inversi Ketajaman dari arah kebijakan fiskal nasional kini mulai membuahkan hasil yang konkret dalam peta perekonomian negara Indonesia.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan bahwa rangkaian kebijakan fiskal pro-growth (pro-pertumbuhan) yang diimplementasikan secara intensif pada paruh kedua tahun 2025 telah berhasil membalikkan arah ekonomi nasional dari ancaman perlambatan menuju penguatan yang stabil.
Pernyataan strategis tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu (04/02/2026). Di hadapan para anggota legislatif, Menkeu memaparkan evaluasi kinerja penerimaan negara tahun 2025 serta proyeksi optimistis memasuki tahun anggaran 2026.
Menurutnya, keberhasilan pemerintah dalam melakukan intervensi ekonomi tepat waktu telah menjadi faktor pembeda yang memperkokoh daya tahan ekonomi domestik di tengah dinamika global.
Menjawab Tantangan Perlambatan lewat Injeksi Likuiditas
Menkeu Purbaya mengungkapkan bahwa menjelang akhir tahun 2025, Indonesia sempat berada pada titik krusial. Indikator makroekonomi menunjukkan adanya tren penurunan indeks kepercayaan konsumen yang cukup signifikan hingga September 2025. Kondisi ini, jika dibiarkan tanpa intervensi, berpotensi menyeret ekonomi ke dalam jurang stagnasi berkepanjangan.
Merespons ancaman tersebut, pemerintah mengambil langkah berani dengan menerapkan kebijakan fiskal ekspansif. Fokus utamanya adalah menginjeksi likuiditas secara masif ke dalam sistem perekonomian nasional. Strategi ini dirancang untuk menstimulasi perputaran uang di masyarakat dan menjaga agar mesin konsumsi rumah tangga tetap bergerak.
“Langkah ini merupakan pilihan sadar pemerintah. Kami memilih untuk menyuntikkan likuiditas dan secara konsisten menahan diri untuk tidak menaikkan pajak. Tujuannya hanya satu: menjaga daya beli masyarakat agar tetap solid di tengah tekanan ekonomi,” tegas Menkeu Purbaya.
Pemulihan Indikator Konsumsi dan Mobilitas
Hasil dari kebijakan ekspansif tersebut mulai terlihat pada kuartal keempat tahun 2025. Data menunjukkan perbaikan indeks kepercayaan konsumen secara berturut-turut dari Oktober hingga Desember 2025.
Sektor otomotif, yang sering kali menjadi barometer daya beli kelas menengah, mencatatkan pertumbuhan yang impresif. Penjualan mobil melonjak sebesar 17,9 persen, sementara penjualan sepeda motor meningkat 14,5 persen pada penghujung tahun.
Tren positif ini juga merambah ke sektor ritel dan konsumsi energi. Indeks penjualan ritel serta volume konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) menunjukkan kurva kenaikan yang konsisten sejak kebijakan injeksi likuiditas dijalankan.
Hal ini menandakan bahwa mobilitas masyarakat telah pulih sepenuhnya, yang kemudian mengonversi likuiditas di pasar menjadi aktivitas ekonomi produktif.
“Yang terpenting adalah kita berhasil membalik arah ekonomi dengan cukup signifikan tanpa melanggar kaidah-kaidah kebijakan fiskal yang berkesinambungan. Kita tetap disiplin menjaga rasio defisit, namun tetap agresif dalam mendorong pertumbuhan,” imbuh Menkeu.
Kebangkitan Sektor Manufaktur dan Optimisme Pelaku Usaha
Selain dari sisi konsumsi, perbaikan ekonomi juga terpotret jelas pada sisi produksi. Sektor manufaktur Indonesia menunjukkan performa yang tangguh di level ekspansif. Indikator Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur konsisten berada di atas ambang batas 50 poin. Pada Januari 2026, PMI Manufaktur Indonesia bahkan menyentuh angka 52,6.
Angka ini bukan sekadar statistik; ia mencerminkan optimisme para pelaku usaha terhadap permintaan pasar di masa depan. Kenaikan PMI menunjukkan bahwa pabrik-pabrik kembali meningkatkan kapasitas produksi, melakukan pengadaan bahan baku yang lebih besar, dan berpotensi membuka lapangan kerja baru.
“Momentum pertumbuhan yang berhasil kita balikkan di triwulan keempat tahun lalu terbukti memiliki napas yang panjang. Tren ini terus berlanjut hingga Januari 2026, yang memberikan sinyal kuat bahwa fondasi ekonomi kita sudah jauh lebih sehat,” jelas Purbaya Yudhi Sadewa.
Sinergi Kebijakan dan Fondasi Stabil 2026
Memasuki tahun 2026, Kementerian Keuangan menegaskan komitmennya untuk menjaga ritme belanja negara agar tetap tepat waktu dan tepat sasaran. Sinkronisasi antara kebijakan fiskal di bawah Kemenkeu dan kebijakan moneter di bank sentral menjadi kunci utama untuk menjamin ketersediaan likuiditas yang memadai di pasar.
Menkeu Purbaya menutup paparannya dengan keyakinan bahwa kombinasi antara konsumsi masyarakat yang kuat, aktivitas industri yang aktif, dan tingginya tingkat kepercayaan publik akan menjadi modal utama pembangunan di tahun ini. Dengan fondasi yang lebih stabil, pemerintah optimistis dapat mengejar target-target pertumbuhan ekonomi yang lebih ambisius.
“Perekonomian kita memasuki 2026 dalam kondisi yang jauh lebih kuat. Mobilitas telah pulih, industri semakin produktif, dan optimisme masyarakat berada pada level tertinggi. Kombinasi ini memperkuat fondasi pertumbuhan yang lebih stabil untuk masa depan,” pungkasnya.