Inversi Di sebuah rumah sederhana, Muliana (40) masih mengingat dengan jelas masa-masa penuh tantangan saat merawat anak keduanya, Siti Aisyah, yang merupakan anak berkebutuhan khusus.
Bagi keluarga ini, aktivitas makan bukan sekadar rutinitas harian, melainkan sebuah proses panjang yang membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan perhatian ekstra. Sejak lahir, Aisyah mengalami kesulitan dalam menerima asupan makanan.
Ia bukan tipe anak yang mudah makan, bahkan setiap suapan harus melalui proses yang tidak sederhana. Muliana harus menyuapi dengan penuh kehati-hatian, terkadang sambil menahan gerakan tubuh Aisyah agar makanan dapat masuk. Dalam beberapa kondisi, proses makan bahkan memerlukan upaya lebih agar Aisyah mau menelan makanan yang diberikan.
“Dulu, makan itu sangat sulit. Harus disuapi sambil dipegang, seperti harus dipaksa terlebih dahulu agar mau makan,” kenang Muliana.
Tidak hanya itu, tekstur makanan juga menjadi perhatian utama. Semua makanan harus diolah hingga benar-benar lembut agar dapat diterima oleh kondisi fisik Aisyah. Hal tersebut tentu menambah beban tersendiri bagi keluarga, baik dari sisi waktu maupun tenaga.
Namun, perubahan mulai dirasakan sejak keluarga ini menjadi penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program yang bertujuan untuk meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat tersebut memberikan dampak nyata, terutama dalam membantu membentuk pola makan yang lebih baik bagi anak-anak.
Muliana mengungkapkan bahwa sejak menerima makanan dari program MBG, Aisyah mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan. Menu makanan yang lebih terstruktur, bergizi, dan disesuaikan dengan kebutuhan anak membuat Aisyah lebih mudah menerima makanan.
“Sekarang, alhamdulillah, kalau makanannya sudah diolah dengan cara yang tepat, dia mau makan. Memang terkadang masih membutuhkan waktu, tetapi sudah jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya,” ujarnya.
Perubahan tersebut, meskipun terlihat sederhana, merupakan pencapaian besar bagi keluarga. Kemajuan dalam kemampuan makan Aisyah memberikan harapan baru sekaligus meningkatkan kualitas hidup sehari-hari.
Selain dalam hal makan, perkembangan juga terlihat pada kebiasaan mengonsumsi susu. Jika sebelumnya Aisyah mengalami kesulitan dan cenderung menolak minum susu, kini kondisinya mulai berubah. Aisyah sudah mampu menghabiskan satu kotak susu dalam sekali minum, sesuatu yang sebelumnya sulit dibayangkan oleh Muliana.
“Dulu, minum susu itu sangat sulit. Bahkan harus dicampur dengan makanan. Sekarang, satu kotak susu bisa habis dalam sekali minum. Ini perubahan yang sangat terasa bagi kami,” katanya.
Perubahan positif tersebut tidak hanya dirasakan oleh Aisyah. Anak pertama Muliana yang berusia delapan tahun juga merasakan manfaat dari program MBG. Kehadiran makanan bergizi secara rutin membuat pola makan menjadi lebih teratur, sekaligus mengurangi kebiasaan jajan di luar.
“Biasanya, anak saya jajan sampai empat ribu rupiah. Sekarang cukup dua ribu rupiah saja karena sudah mendapatkan makanan dari program MBG,” ujar Muliana.
Dari sisi ekonomi keluarga, program ini juga memberikan dampak yang signifikan. Pengeluaran untuk kebutuhan makan harian dan pembelian susu dapat ditekan, sehingga keluarga memiliki ruang lebih untuk memenuhi kebutuhan lainnya.
“Kalau tidak ada program MBG, pasti terasa sekali. Terutama untuk kebutuhan susu. Program ini sangat membantu kami,” tambahnya.
Di tingkat masyarakat, manfaat program MBG juga dirasakan secara lebih luas. Yuyun, Ketua Posyandu Anggita Padang Serai, menyampaikan bahwa program ini tidak hanya berfungsi sebagai bantuan pangan, tetapi juga sebagai sarana edukasi dalam membentuk kebiasaan makan sehat bagi anak-anak.
“Di Posyandu Anggita Padang Serai, program MBG tidak hanya memberikan makanan, tetapi juga membantu membentuk pola makan sehat bagi anak-anak. Hingga saat ini, terdapat 113 penerima manfaat sejak Oktober 2025,” ujar Yuyun.
Menurutnya, program ini memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi seimbang. Dengan adanya menu yang terstandar, anak-anak terbiasa mengonsumsi makanan sehat, yang pada akhirnya berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan mereka.
Lebih lanjut, Yuyun menambahkan bahwa keterlibatan keluarga dalam mendukung program ini juga menjadi faktor penting. Orang tua didorong untuk menerapkan pola makan yang serupa di rumah, sehingga manfaat program dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Kisah keluarga Muliana menjadi salah satu contoh nyata bagaimana program MBG memberikan dampak positif, khususnya bagi keluarga dengan anak berkebutuhan khusus. Perubahan yang terjadi mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang, namun memiliki makna yang sangat besar bagi keluarga yang mengalaminya.
Kemampuan seorang anak untuk makan dengan lebih baik, menerima asupan gizi secara optimal, hingga menunjukkan perkembangan dalam kebiasaan sehari-hari merupakan pencapaian yang patut diapresiasi.
Secara keseluruhan, program MBG tidak hanya berperan dalam memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Melalui pendekatan yang terstruktur dan berbasis kebutuhan, program ini mampu menjangkau berbagai kelompok masyarakat, termasuk mereka yang membutuhkan perhatian khusus.
Dengan keberlanjutan program serta dukungan dari berbagai pihak, diharapkan manfaat yang dirasakan oleh keluarga seperti Muliana dapat semakin luas dirasakan oleh masyarakat lainnya. Program MBG menjadi salah satu langkah konkret dalam membangun generasi yang sehat, kuat, dan berdaya saing.
Pada akhirnya, kisah sederhana dari sebuah rumah di Padang Serai ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari hal-hal kecil. Bagi keluarga Muliana, senyum Aisyah saat makan dan kemampuannya menghabiskan satu kotak susu bukan sekadar rutinitas, melainkan simbol harapan dan kemajuan yang nyata.